MOMSMONEY.ID - Pasar saham merah? Simak cara menjaga dana darurat tetap aman, mudah dicairkan, dan siap digunakan saat kebutuhan mendesak datang.
Pasar saham yang melemah sering membuat investor tergoda membeli saham dengan harga lebih murah. Namun, sebelum mengambil keputusan, ada hal penting yang perlu diperiksa, yaitu kondisi dana darurat. Uang cadangan ini berbeda dari modal investasi karena harus siap digunakan ketika kebutuhan mendesak muncul.
Jika dana darurat ikut ditempatkan pada aset yang berfluktuasi, kebutuhan sehari-hari bisa terganggu saat pasar belum pulih. Lantas, bagaimana cara menjaga dana darurat tetap aman ketika pasar sedang bergejolak?
“Memiliki simpanan untuk menghadapi keadaan darurat menjadi semakin penting ketika kondisi ekonomi melemah,” dikutip dari panduan edukasi investor milik U.S. Securities and Exchange Commission (SEC).
Baca Juga: Pendapatan Per Kapita: Pengertian, Fungsi, Kekurangan, dan Faktornya
Mengapa dana darurat harus tetap aman?
Ketika harga saham turun, keinginan membeli aset dengan harga lebih murah memang bisa muncul. Namun, dana darurat bukan modal untuk mencari peluang investasi, melainkan cadangan untuk menghadapi kehilangan pekerjaan, kebutuhan kesehatan, atau pengeluaran tak terduga.
Melansir dari Fidelity, dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang mudah diakses dan sesuai untuk kebutuhan jangka pendek.
Karena itu, jangan terburu-buru menggunakan uang kebutuhan pokok untuk menambah investasi. Pastikan kebutuhan sehari-hari tetap terlindungi sebelum mempertimbangkan peluang di pasar saham.
Berapa dana darurat yang perlu disiapkan?
Target dana darurat perlu disesuaikan dengan pengeluaran bulanan, kestabilan penghasilan, dan jumlah tanggungan. Pedoman umum yang bisa digunakan antara lain:
- Pekerja tetap dengan tanggungan minim: 3-6 bulan pengeluaran pokok.
- Keluarga dengan tanggungan besar: 6-12 bulan pengeluaran pokok.
- Pekerja lepas atau berpenghasilan tidak tetap: pertimbangkan cadangan lebih besar sesuai kondisi keuangan.
- Memiliki pengeluaran besar yang sudah direncanakan: siapkan dana khusus di luar dana darurat.
Sebagai gambaran, jika pengeluaran pokok mencapai Rp5 juta per bulan, target dana darurat untuk enam bulan adalah Rp30 juta. Hitung kebutuhan esensial seperti makanan, tempat tinggal, listrik, transportasi, cicilan wajib, dan kesehatan agar jumlahnya lebih realistis.
Pilihan tempat menyimpan dana darurat
Tidak semua instrumen cocok untuk menyimpan uang yang mungkin dibutuhkan sewaktu-waktu. Utamakan kestabilan nilai, kemudahan pencairan, serta biaya yang masuk akal.
Rekening tabungan khusus
Rekening terpisah memudahkan pemantauan saldo dan mengurangi risiko uang terpakai untuk belanja rutin. Pilih rekening dengan biaya administrasi wajar dan akses transaksi yang praktis.
Tabungan dengan bunga kompetitif
Tabungan berbunga dapat membantu menambah hasil simpanan. Periksa biaya, saldo minimum, dan ketentuan pencairan. Pastikan simpanan memenuhi persyaratan penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Baca Juga: 5 Kebiasaan Charlie Munger Ini Membuat Hidup Lebih Berkualitas Setiap Hari Lo
Deposito berjangka pendek
Deposito bisa dipertimbangkan untuk sebagian dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat. Namun, pahami ketentuan pencairan sebelum jatuh tempo karena bisa ada penalti.
Uang tunai secukupnya
Sejumlah kecil uang tunai dapat membantu saat layanan perbankan terganggu. Simpan dengan aman dan jangan menjadikannya satu-satunya tempat penyimpanan dana darurat.
Cara membagi dana agar tetap fleksibel
Agar tidak kesulitan ketika kebutuhan mendadak datang, dana darurat dapat dibagi berdasarkan tingkat kebutuhan.
- Satu bulan pengeluaran ditempatkan pada rekening yang bisa diakses segera.
- Dua hingga lima bulan pengeluaran disimpan dalam instrumen likuid dengan ketentuan yang mudah dipahami.
- Dana tambahan dapat dipertimbangkan untuk deposito berjangka pendek jika target cadangan sudah terpenuhi.
Pembagian tersebut bukan aturan mutlak. Jika penghasilan sedang tidak stabil, menyimpan lebih banyak uang dalam bentuk yang mudah dicairkan bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai.
Kesalahan yang sebaiknya dihindari
Saat pasar saham melemah, jangan sampai keputusan investasi justru membuat kondisi keuangan semakin rentan. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.
- Menggunakan dana darurat untuk membeli saham hanya karena harganya turun.
- Menyimpan seluruh cadangan pada saham, reksa dana saham, aset kripto, atau instrumen lain yang nilainya berfluktuasi.
- Mengunci semua dana dalam deposito berjangka panjang sehingga sulit dicairkan saat dibutuhkan.
- Mengandalkan kartu kredit atau pinjaman sebagai pengganti simpanan darurat.
Harga aset yang turun tidak menjamin pemulihan dalam waktu dekat. Karena itu, pisahkan dana kebutuhan mendesak dari uang yang memang disiapkan untuk investasi jangka panjang.
Baca Juga: 3 Jenis Asuransi untuk Milenial dan Gen Z, Cara Memilihnya biar Keuangan Tetap Aman
Melansir dari Investopedia, cadangan keuangan dapat membantu seseorang menghadapi pengeluaran mendadak tanpa harus bergantung pada utang.
Pasar saham yang sedang merah bukan berarti semua uang harus segera dialihkan untuk membeli aset dengan harga lebih rendah. Prioritas utama tetap memastikan dana darurat tersedia, aman, dan mudah dicairkan ketika dibutuhkan.
Mulailah dengan menghitung pengeluaran pokok, menetapkan target cadangan, lalu memilih tempat penyimpanan yang sesuai. Persiapan keuangan yang lebih matang, kamu bisa menghadapi kondisi pasar yang tidak menentu tanpa mengorbankan kebutuhan sehari-hari atau menjual investasi secara terburu-buru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News