MOMSMONEY.ID - Minum antibiotik dan obat tertentu bisa memicu gula darah tinggi. Fluoroquinolone seperti ciprofloxacin, norfloxacin, dan levofloxacin adalah golongan antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri seperti infeksi saluran kemih, infeksi kandung kemih, dan bronkitis.
Farzon A. Nahvi, dokter umum dari Goodrx.com menyampaikan bahwa salah satu efek samping yang lebih serius dari minum antibiotik adalah perubahan kadar gula darah tinggi dan hipoglikemia (gula darah rendah). Penting untuk sering memeriksa kadar gula darah saat mengonsumsi obat-obatan ini guna menghindari lonjakan atau penurunan gula darah yang tiba-tiba.
Hal ini terutama berlaku bagi orang yang sudah mengonsumsi obat penurun gula darah, mengingat kondisi gula darah rendah bisa sangat berbahaya. Beberapa antibiotik, seperti sefalosporin, memiliki efek yang lebih ringan terhadap gula darah dibandingkan jenis lainnya.
Baca Juga: Cara Menurunkan Hipertensi & Gula Darah Sekaligus Lewat Diet DASH, Cegah Stroke
Sehingga, dokter mungkin dapat meresepkan obat tersebut sebagai pengobatan alternatif. Antibiotik biasanya hanya dikonsumsi dalam jangka waktu singkat dan efeknya terhadap gula darah mungkin akan hilang setelah selesai mengonsumsinya.
Antibiotik dapat memengaruhi risiko diabetes tipe 2 dengan mengubah mikrobiota usus. Mikrobiota ini diketahui berperan dalam metabolisme serta berpotensi memengaruhi pengaturan glukosa dan sensitivitas insulin.
Daftar obat yang bisa memicu lonjakan gula darah
Orang yang memiliki risiko tinggi terkena diabetes mungkin juga lebih rentan mengalami infeksi yang memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Bukan hanya antibiotik, beberapa obat berikut juga bisa memicu lonjakan gula darah:
1. Kortikosteroid
Steroid seperti prednison digunakan untuk mengobati peradangan rheumatoid arthritis, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit radang usus. Steroid dapat meningkatkan kadar gula darah selama Anda mengonsumsinya.
Hal ini bisa jadi masalah bagi orang yang sudah menderita gula darah tinggi. Peningkatan kadar gula darah lebih mungkin terjadi jika Anda mengonsumsi steroid dalam dosis tinggi dalam jangka panjang.
2. Beta blocker
Beta blocker adalah obat yang digunakan untuk mengobati masalah jantung, seperti detak jantung tidak teratur dan tekanan darah tinggi. Contoh obat Beta blocker meliputi atenolol, metoprolol dan propranolol.
Obat ini dapat meningkatkan kadar gula darah dan menyebabkan diabetes tipe 2 baru pada orang yang sebelumnya tidak mengidapnya. Hal ini tampaknya terjadi karena obat Beta blocker mengurangi jumlah insulin yang diproduksi pankreas.
Namun, tidak semua beta blocker melakukan hal ini. Carvedilol dan nebivolol tidak memengaruhi kadar gula darah atau menyebabkan diabetes.
3. Hidroklorotiazida dan metolazon
Beberapa obat tekanan darah seperti diuretik tiazid dan diuretik mirip tiazid dapat memiliki efek serupa. Seperti beta blocker, hidroklorotiazid (HCTZ) dan metolazon dapat meningkatkan kadar gula darah.
Obat-obatan ini juga dapat menyebabkan diabetes tipe 2 baru hanya dalam waktu 9 hingga 18 minggu.
4. Statin
Obat statin menyebabkan sel-sel dalam tubuh menjadi resistan terhadap insulin, hormon yang membantu memindahkan glukosa dari darah ke dalam sel. Risikonya lebih tinggi pada orang yang mengonsumsi statin dalam dosis lebih besar, seperti 40 mg-80 mg atorvastatin atau 20 mg-40 mg rosuvastatin dan simvastatin.
Risikonya juga lebih tinggi untuk orang dewasa lanjut usia, orang dengan faktor risiko diabetes dan orang yang sudah menderita pradiabetes.
5. Antibiotik kuinolon
Salah satu golongan antibiotik kuinolon dikaitkan dengan kadar gula darah tinggi dan rendah pada penderita diabetes tipe 2. Hal ini paling sering terjadi pada antibiotik kuinolon gatifloksasin.
Sebaiknya, hindari antibiotik kuinolon jika Anda berusia lebih dari 65 tahun dan memiliki faktor risiko diabetes tipe 2. Kuinolon siprofloksasin dan moksifloksasin lebih aman karena tidak memiliki efek ini.
6. Leuprolide dan goserelin
Banyak pria dengan kanker prostat menjalani terapi penekanan androgen dengan obat-obatan seperti leuprolide, goserelin, triptorelin dan degarelix. Namun, penggunaan obat-obatan ini telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kadar gula darah tinggi.
Risiko tersebut berasal dari peningkatan lemak tubuh, penurunan massa otot, perubahan kadar lemak darah, kolesterol dan resistensi insulin.
7. Antipsikotik generasi baru
Obat antipsikotik generasi baru seperti clozapine dan olanzapine menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2. Hal ini karena obat-obatan ini menyebabkan penambahan berat badan.
Risperidone (Risperdal) dan quetiapine (Seroquel) menyebabkan peningkatan berat badan.
8. Inhibitor protease untuk mengobati HIV
Inhibitor protease adalah salah satu dari enam kelas utama terapi antiretroviral untuk orang dengan HIV. Obat ini menyebabkan penambahan berat badan, sindrom metabolik dan kadar gula darah tinggi.
Kabar baiknya, kini tersedia banyak alternatif penghambat protease yang tidak menyebabkan gula darah tinggi. Dokter bisa meresepkan inhibitor transfer untai integrase seperti raltegravir, elvitegravir, dolutegravir, dan bictegravir.
Baca Juga: Gula Tinggi Darah Tanpa Gejala Ternyata Mampu Merusak Jantung dan Ginjal
9. Obat Imunosupresan
Obat penghambat kalsineurin umumnya digunakan setelah transplantasi organ. Contohnya adalah siklosporin, sirolimus dan tacrolimus. Obat-obatan ini dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes, terutama pada orang dewasa yang lebih tua dan individu yang juga mengonsumsi steroid.
Itulah efek minum antibiotik dan beberapa obat yang memicu kadar gula darah tinggi, semoga bermanfaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News