MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global lanjut naik, bertahan di atas US$ 5.000 per troi ons dua hari berturut-turut. Dollar AS yang lemah membantu memperpanjang reli harga emas, yang dipicu oleh risiko geopolitik dan pelarian investor dari obligasi pemerintah dana mata uang.
Mengutip Bloomberg, Selasa (27/1), harga emas spot naik 1,6% mencapai US$ 5.088,53 per troi ons pukul 18.11 WIB. Pada sesi siang, harga emas sempat mencapai rekor tertinggi US$ 5.100,74 per troi ons.
Harga emas global telah reli tujuh hari beruntun. Presiden AS Donald Trump mengancam untuk menaikkan tarif atas barang-barang asal Korea Selatan. Sementara, indeks dollar AS merosot pada Senin, karena meningkatnya spekulasi bahwa AS mungkin akan membantu Jepang untuk mendukung yen, sehingga membuat emas lebih murah bagi sebagian besar pembeli.
Lonjakan dramatis harga emas, naik lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun terakhir, menegaskan peran historis emas sebagai indikator ketakutan di pasar. Setelah mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 1979 pada tahun lalu, emas telah naik 17% tahun ini berjalan. Sebagian besar didorong oleh "debasement trade" atau perdagangan pelemahan mata uang, di mana investor menarik diri dari mata uang dan obligasi pemerintah.
Baca Juga: Pertama Kalinya, Harga Emas Hari Ini Tembus Level Psikologis US$ 5.000
Dalam beberapa minggu terakhir, tindakan pemerintahan Trump, ancaman mencaplok Greenland dan serangan terhadap independensi Fedeal Reserves, telah mengguncang pasar. Di samping itu, pemimpin AS memperingatkan Korea Selatan, menyusul ancaman terhadap Kanada sebelumnya untuk mengenakan tarif 100% jika Otawwa membuat kesepakatan perdagangan dengan China.
Menurut Vincent Mortier, Kepala bagian investasi di Amundi SA, meningkatnya isolasi AS dari negara-negara lain, meyakinkan banyak investor untuk mengurangi kepemikikan aset dollar dan beralih ke emas. "Dalam jangka panjang, emas merupakan perlindungan yang sangat baik terhadap penurunan nilai dan cara yang baik untuk mempertahankan daya beli," katanya, mengutip Bloomberg, hari ini.
Daya tarik emas terpantau dalam data posisi spekulator, dan para pedagang opsi bersiap untuk kenaikan lebih lanjut di pasar yang sedang memanas, di mana hanya sedikit yang ingin melawan arus. Volatilitas tersirat dari kontrak berjangka Comex yang naik ke level tertinggi sejak puncak pandemi Covid-19 pada Maret 2020.
"Para trader membeli saat terjadi penurunan harga, bukan saat harga naik. Selama pola pikir itu tetap ada, sulit untuk membantah kenaikan harga dalam jangka pendek, meskipun ada ketidaksesuaian jangka pendek antara fundamental dan realitas," beber Fawad Razaqzada, Analis di City Index Ltd, melansir Bloomberg, Selasa.
Baca Juga: Melesat Tinggi, Simak Harga Emas Galeri 24 & UBS di Pegadaian Hari Ini Selasa (27/1)
Ke depan, para investor menantikan pilihan Trump untuk Ketua The Fed berikutnya. Pemimpin yang lebih lunak akan meningkatkan taruhan terhadap pemangkasan suku bunga lebih lanjut tahun ini, yang positif efeknya bagi emas.
Namun, dalam jangka pendek, bank sentral AS diperkirakan menyetop siklus penurunan suku bunga pada pertemuan 27-28 Januari ini. Sebab, pasar tenaga kerja yang lebih stabil mengembalikan konsensus, setelah berbulan-bulan terjadi perpecahan.
Selanjutnya: 7 Makanan Pencegah Sembelit yang Mengandung Serat Tidak Larut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News