MOMSMONEY.ID - Banyak pebisnis mengira laba bersih adalah uang tunai. Waspada, beban non-operasional bisa menekan kas. Kalkulasi EBITDA Anda sangat berpengaruh.
Banyak orang menilai kesehatan bisnis hanya dari laba bersih, padahal angka tersebut belum tentu mencerminkan kekuatan operasional yang sebenarnya.
Dalam praktiknya, beban bunga, pajak, serta penyusutan aset dapat membuat keuntungan terlihat lebih kecil atau justru tampak stabil padahal arus kas sedang tertekan.
Karena itu, memahami EBITDA menjadi langkah penting, terutama bagi pelaku usaha dan investor pemula.
Melansir dari Sahabat Pegadaian, EBITDA membantu melihat potensi keuntungan murni dari aktivitas operasional tanpa terdistorsi faktor akuntansi dan struktur pendanaan.
“EBITDA membantu kamu melihat potensi keuntungan murni dari operasional usaha tanpa dipengaruhi faktor akuntansi maupun struktur pendanaan,” mengutip dari laman website Sahabat Pegadaian.
Baca Juga: 7 Kebocoran Finansial yang Sering Menghambat Kekayaan Tanpa Disadari
Apa itu EBITDA?
EBITDA adalah singkatan dari Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization. Secara sederhana, EBITDA merupakan laba sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.
Artinya, indikator ini fokus pada performa operasional inti perusahaan. Biaya bunga dikeluarkan karena berkaitan dengan keputusan pendanaan.
Pajak tidak dihitung karena dipengaruhi kebijakan negara. Sementara depresiasi dan amortisasi hanyalah pencatatan akuntansi yang tidak mengurangi kas secara langsung.
Dengan kata lain, EBITDA menunjukkan seberapa kuat mesin utama bisnis menghasilkan keuntungan.
Mengapa EBITDA penting untuk pelaku usaha?
1. Mengukur kinerja operasional secara objektif
EBITDA membantu pemilik usaha mengetahui apakah bisnisnya benar benar menghasilkan keuntungan dari aktivitas utama, seperti produksi dan penjualan, tanpa dipengaruhi beban eksternal.
2. Membandingkan perusahaan dalam industri yang sama
Setiap perusahaan memiliki struktur modal dan beban pajak berbeda. Jika hanya melihat laba bersih, hasilnya bisa bias. EBITDA membuat perbandingan menjadi lebih adil dan netral.
3. Menilai potensi pertumbuhan jangka panjang
Investor dan analis sering melihat tren EBITDA untuk membaca stabilitas bisnis. Jika angkanya konsisten naik, biasanya operasional berjalan sehat.
4. Mengukur efisiensi biaya
Margin EBITDA dapat menunjukkan apakah biaya operasional sudah terkendali atau masih ada pemborosan.
5. Komponen utama dalam EBITDA
Untuk menghitungnya dengan benar, kamu perlu memahami lima unsur berikut.
6. Earnings atau laba
Merupakan keuntungan dari kegiatan usaha, baik dari penjualan maupun pendapatan lain yang relevan.
Baca Juga: Standar Kekayaan Kelas Atas pada Usia 69 Tahun dan Makna Aman Secara Finansial
7. Interest atau bunga
Biaya akibat pinjaman usaha. Karena tiap perusahaan memiliki kebijakan pembiayaan berbeda, komponen ini ditambahkan kembali dalam perhitungan.
8. Taxes atau pajak
Besarnya tergantung regulasi dan insentif tertentu. Pajak tidak mencerminkan efisiensi operasional sehingga tidak dihitung dalam EBITDA.
9. Depreciation atau depresiasi
Penyusutan nilai aset tetap seperti mesin dan kendaraan. Ini hanya pencatatan akuntansi, bukan pengeluaran kas langsung.
10. Amortization atau amortisasi
Penyusutan aset tidak berwujud seperti lisensi dan perangkat lunak.
Rumus EBITDA yang umum digunakan
Ada dua pendekatan perhitungan yang lazim dipakai.
Rumus pertama,
EBITDA sama dengan laba bersih ditambah bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.
Rumus kedua,
EBITDA sama dengan laba operasional ditambah depresiasi dan amortisasi.
Keduanya menghasilkan angka yang relatif sama, hanya berbeda titik awal perhitungan.
Contoh perhitungan EBITDA
Misalnya sebuah perusahaan jasa logistik memiliki data berikut:
- Laba bersih Rp250.000.000
- Beban bunga Rp15.000.000
- Pajak Rp35.000.000
- Depresiasi Rp20.000.000
- Amortisasi Rp10.000.000
Maka EBITDA dihitung dengan menjumlahkan seluruh komponen tersebut.
Hasilnya adalah Rp330.000.000.
Artinya, sebelum dipengaruhi beban non operasional, perusahaan mampu menghasilkan laba operasional sebesar Rp330 juta.
Baca Juga: Cara Realistis Mengatur Anggaran bagi Ibu Tunggal agar Finansial Lebih Stabil
EBITDA yang bagus berapa persen
Tidak ada angka mutlak karena tiap industri berbeda. Namun secara umum kisaran margin EBITDA adalah sebagai berikut.
- Manufaktur sekitar 10 sampai 20%
- Jasa sekitar 20 sampai 30%
- Ritel sekitar 30 sampai 40%
- Teknologi sekitar 40 sampai 50%
Semakin tinggi marginnya, semakin efisien operasionalnya. Meski begitu, analisis tetap harus dilengkapi dengan arus kas dan rasio utang agar hasilnya lebih akurat.
Kesalahan umum dalam memahami EBITDA
Banyak orang mengira EBITDA sama dengan uang bersih yang bisa langsung digunakan. Padahal perusahaan tetap memiliki kewajiban membayar bunga, pajak, serta investasi aset baru.
Karena itu, gunakan EBITDA sebagai alat analisis awal, bukan satu satunya indikator kesehatan keuangan.
Bagi investor, indikator ini membantu membaca potensi pertumbuhan jangka panjang. Pemahaman yang tepat, kamu dapat mengambil keputusan bisnis yang lebih cerdas, terukur, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi Indonesia saat ini.
Selanjutnya: KKP Fasilitasi UMKM Perikanan Tembus Retail Modern lewat Business Matching 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News