M O M S M O N E Y I D
BisnisYuk

Kisah Mantan TKW Asal Purbalingga Sukses Menjadi Miliuner

Reporter: Ragil Nugroho  |  Editor: Ragil Nugroho


MOMSMONEY.ID - Pengalaman pernah menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) tak menyurutkan mimpi Rohimah menjadi pengusaha sukses.

Ya, wanita asal Desa Karang Gambas, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga ini mampu merintis usaha pembuatan sapu glagah hingga mengekspornya ke berbagai negara.

Berbicara omzet pun sudah mencapai miliaran rupiah per bulannya. Rohimah lahir dari keluarga yang secara ekonomi bisa dibilang pas-pasan di Purbalingga empat puluh satu tahun silam.

Kondisi itu yang membuat Rohimah tidak punya kesempatan sekolah tinggi. Ia hanya sempat mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sejak masih sekolah, Rohimah sudah memiliki jiwa wirausaha. Mulai dari membuat dan menjajakan gorengan hingga kudapan lainnya. Motif utama Rohimah berjualan adalah ingin mendapatkan tambahan uang jajan.

Baca Juga: Ini Kisah Gilang Juragan 99 Merintis Bisnis Ini Kisah Gilang Juragan 99 Merintis Bisnis

Selepas lulus SMA, Rohimah mengaku tidak kepikiran untuk kerja dengan orang lain. Saat itu ia punya mimpi menjadi pengusaha agar bisa membantu menciptakan lapangan kerja di desanya. “Saat itu di tempat saya begitu banyak anak muda yang menganggur,” kenangnya.

Pada tahun 2002, ia pun menikah dengan seorang pria asal Purbalingga yang bekerja di sebuah perusahaan pembuat sapu lidi. Setelah menikah, kedua pasangan ini memutuskan untuk membangun bisnis.

Setelah berdiskusi panjang, akhirnya mereka memutuskan memproduksi dan memasarkan sapu.

Alasan pertama, sang suami memiliki kemampuan dan pengalaman menggeluti produksi sapu. Alasan kedua, mereka menilai sapu jenis tertentu, terutama glagah masih besar peluangnya.

Akhirnya mereka pun membuat aneka jenis sapu mulai dari sapu lidi dan sapu lantai. Berbeda dengan sapu pada umumnya, sapu glagah ini terbuat dari rumput glagah yang banyak didapatkan di Purbalingga.

Baca Juga: Kisah Mantan Pegawai Bank yang Sukses Bikin Sepatu Raja

Saat awal memulai, mereka hanya berani membuat 100 sapu dalam seminggu. Target pasarnya adalah pasar dan toko kelontong di Purbalingga.

Dua bulan awal, usaha Rohimah belum berjalan sesuai rencana. Tidak mudah tenyata memasarkan produk sapu glagah. Namun keduanya dengan sabar menempuh pemasaran dari toko ke toko. “Bahkan sempat juga door to door,” kenangnya.

Memutuskan jadi TKW
Kesabaran ada batasnya. Melihat perkembangan bisnis mereka yang mandek, Rohimah pun mengambil jalan lain. Apalagi modal usaha sudah habis.

Ia mendapat kesempatan untuk bekerja di Singapura menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) di tahun 2004. “Saya ambil kesempatan itu karena jiwa memang masih labil saat itu,” akunya.

Setelah dijalani, ternyata Rohimah tidak kerasan bekerja di tempat orang. Hanya berlangsung selama sebelas bulan, ia pun pamit kepada bos tempat ia bekerja.

Rohimah pun kembali ke Purbalingga. Kedua pasangan suami istri ini pun kembali memutuskan melanjutkan usaha sapu dengan berbagai perbaikan terutama dalam hal administrasi dan strategi penjualan.

“Uang sisa hasil tabungan menjadi TKW sekitar Rp 1,5 juta saya pakai untuk modal melanjutkan usaha,” tegas Rohimah.

Tidak hanya itu, mereka memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Mereka nekad untuk menjajal kerasnya ibukota. Setelah menyewa rumah kontrakan, mereka pun memproduksi dan menjual produk sapu di tempat itu.

Sang suami fokus memproduksi sapu, sedangkan Rohimah mendapatkan tugas keliling daerah Jakarta Selatan dengan menggunakan gerobak. Kadang ia keliling, terkadang pula ia menjajakan sapu di pinggiran trotoar jalan.

Baca Juga: Cuan Seger Menjadi Youtuber

Mereka menjual produk sapu antara Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per batang. Hampir selama dua tahun mereka mempertahankan strategi ini dan mulai mendapatkan hasil. 

Di tahun 2005, mereka sudah punya lima agen yang siap menampung produk sapu buatan mereka. Rata-rata per minggu mereka memasok 500 hingga 700 sapu ke setiap agen.

Di Jakarta pula mereka mendapat kesempatan memasok sapu ekspor ke Jepang lewat sebuah perusahaan kenalan mereka.   

Melihat perkembangan yang mulai sesuai harapan, Rohimah memutuskan kembali ke Purbalingga untuk membangun usaha dengan nama Rayung Pelangi.

Namun, sang suami tetap di Jakarta untuk melanjutkan usaha yang lebih dekat dengan ibu kota. “Saya juga memastikan pasokan bahan baku dari Purbalingga lancar ke Jakarta,” tegas Rohimah.

Usaha mereka kian berkibar ketika di tahun 2007, mereka berhasil mengeskpor sebanyak 8.000 batang sapu ke Malaysia lewat kenalan lama yang tinggal di sana.

Seiring dengan keberhasilan mengekspor, maka Rohimah dan sang suami pun mendapatkan bantuan pelatihan dari Dinas Perdagangan setempat.

Baca Juga: Tertarik Usaha Ternak Kura-Kura? Simak Cara Memulainya Ini

Saat itu bentuk pelatihan mulai dari bagaimana memanajemen sebuah perusahaan hingga bagaimana belajar digital marketing memanfaatkan website dan media sosial (medsos). 

Rohimah mengaku sempat khawatir karena disuruh mengetik sendiri dan menyusun kata-kata promosi. “Sebuah pengalaman pertama kali berinteraksi dengan computer,” kenangnya sambil tersenyum.

Dengan intens menggunakan promosi dunia maya, maka bisnis Rohimah kian meluas baik di dalam maupun ke luar negeri. Rohimah mengaku hanya menuliskan komposisi, nomor handphone dan menyebutkan nama produk Sapu Glagah Purbalingga.

Pernah tertipu konsumen
Saat sedang mulai berkembang, ujian datang menghampiri Rohimah. Pada akhir tahun 2008, ia kedatangan pembeli asal Taiwan. Ia meminta Rohimah mengirimkan satu kontainer berisi sapu.

Belum lagi ia membayar pesanan pertama, sudah datang lagi permintaan kedua sebanyak satu kontainer berikutnya.

Alhasil, sudah ada dua pengiriman ke Taiwan. Malangnya, Rohimah kehilangan kontak dengan sang pembeli. “Total nilai mencapai Rp 1 miliar,” ujar wanita kelahiran tahun 1980 itu.

Saat itu kondisi Rohimah betul-betul terpuruk. Ia sama sekali tidak pernah berpikir ada orang yang niatan buruk terhadap bisnisnya.

Rohimah bahkan harus menjual sebagian besar asetnya mengingat ia harus membayar utang bahan baku kepada pengepul di Purbalingga.

Kalau tidak memiliki mental yang kuat, nampaknya kedua pasangan suami istri ini tidak akan mampu bangkit.

Untungnya, Rohimah dan suami punya mental sekuat baja. Mereka kembali memperbaiki sistem bisnis terutama mempelajari jenis-jenis perjanjian seperti Memorandum of Understanding (MoU), invoice dan berbagai jenis kelengkapan teknis lainnya. “Hikmahnya adalah memang sistem usaha kami masih terus harus diperbaiki,” ujarnya.

Dengan cepat, Rohimah mampu bangkit dari keterpurukan. Bahkan produk sapu mereka kian masif terjual di berbagai negara mulai dari India, Korea Selatan, Pakistan dan beberapa negara Asia lainnya.

Sebagai gambaran, kini dalam sebulan ia mampu menjual hingga 2.000 batang sapu di dalam negeri dengan harga mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 25.000. Sedangkan penjualan ke luar negeri minimal 60.000 batang tiap bulannya.

Baca Juga: Berhenti Kerja Sales demi Bisnis Sepatu Wedges & Heels

Untuk kebutuhan produksi, ia bersyukur memiliki lahan luas di dekat rumahnya. Alhasil, Rohimah menyulap tanah di dekat sebelah rumahnya menjadi pabrik.

Selain memang punya sendiri, ada alasan lain mengapa Rohimah memilih membuat pabrik dekat dengan rumahnya yakni agar proses quality control lebih mudah.

Ia mengaku pernah sebelumya membuat tempat produksi yang jauh dari tempat tinggal. Hasilnya tidak efisien.

Rohimah pun kini sudah memiliki 120 orang karyawan yang mayoritas adalah warga asli desanya.

Rohimah mengaku menerapkan sistem hybrid antara kekeluargaan dan profesionalisme dalam mengelola karyawannya.

Di satu sisi mereka merasa kerja di rumah sendiri, namun di sisi lain harus berusaha mencapai target produksi.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Garmin Run 2026 Jadi Ruang Pelari Bertumbuh, dari 5K hingga Half Marathon

​Garmin Run Indonesia 2026 mengajak 8.000 pelari menikmati proses berkembang, dari langkah pertama hingga menuntaskan half marathon.

Mahasiswa Ternyata Bisa Jadi Peneliti Sebelum Lulus, Ini Contohnya

​Belum lulus kuliah, mahasiswi i3L University Bianca Haidi sudah mengembangkan riset di sejumlah negara.

Roemah Koffie Luncurkan Kopi Bercitarasa Fruity dan Juicy Bertajuk Cing Cangkeling

Roemah Koffie meluncurkan premium roasted coffee beans terbaru yang bertajuk Cing Cangkeling, kopi single origin yang berasal dari Mandalagiri. 

Spotify Rilis Pengaturan Baru biar Musik Anak Tak Pengaruhi Rekomendasi Orang Tua

Fitur baru Spotify memungkinkan orang tua menjaga musik anak dan keluarga agar tidak memengaruhi rekomendasi personal mereka.

Promo Alfamidi Ngartis 16-30 September 2026, Beli 1 Gratis 1 Pepsodent Aneka Varian

Cek promo Alfamidi Ngartis periode 16-30 September 2026 untuk belanja Beli 1 Gratis 1 dan Beli 2 Gratis 1.

Vitamin B Complex Punya Efek Luar Biasa: Risiko Gula Darah Turun 11%

Asupan vitamin Complex, khususnya B6 mampu menekan risiko diabetes hingga 11%. Simak aturan konsumsi vitamin B complex yang tepat agar tak keliru.

Pakai Softlens Jangan Asal, Ini Tips dari Pinkrabbit Lens​

Cara merawat dan menggunakan softlens menjadi faktor penting agar tetap nyaman saat dipakai beraktivitas.​

Bahaya Kolesterol Tinggi saat Hamil Picu Preeklamsia, Bumil Wajib Waspada

Pengelolaan kolesterol saat hamil tidak boleh sembarangan. Intip langkah aman dari dokter untuk cegah komplikasi persalinan.

Cukupi Kebutuhan Air Minum, Dehidrasi Berdampak Buruk pada Penyakit Asam Urat

Ginjal menyaring 70% asam urat tubuh, tetapi butuh cukup cairan. Simak jenis minuman terbaik untuk cegah serangan nyeri asam urat Anda.

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Jadi Rp 2.628.000 per Gram, Buyback Melonjak Rp 25.000

Harga emas Antam naik Rp 5.000 menjadi Rp 2.628.000 per gram, sementara buyback melonjak Rp25.000 per gram.