M O M S M O N E Y I D
Bugar

Kasus DBD 5 Tahun Terakhir Meningkat, Ini Cara Pencegahannya

Kasus DBD 5 Tahun Terakhir Meningkat, Ini Cara Pencegahannya
Reporter: Jane Aprilyani  |  Editor: Jane Aprilyani


MOMSMONEY.ID - Infeksi virus dengue, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan DBD, masih menjadi persoalan kesehatan yang jadi ancaman masyarakat di Indonesia.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat. Angka ini dilihat dari siklus puncak kasus yang kini terjadi lebih cepat, dari sekitar 10 tahun menjadi 3 tahun atau kurang.

Penyakit ini tidak lagi bersifat musiman, melainkan ada sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Beban yang ditimbulkan juga tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi turut memengaruhi produktivitas keluarga hingga ekonomi nasional. Data BPJS Kesehatan mencatat, lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD pada 2024 dengan beban pembiayaan mencapai sekitar Rp 3 triliun.

Melihat kondisi ini, PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc menjalin kemitraan untuk meningkatkan edukasi dan akses layanan kesehatan bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari kontribusi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan DBD di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan yang komprehensif.

Melalui kemitraan ini, Takeda dan Halodoc menghadirkan inisiatif yang mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan terkait DBD dan upaya pencegahannya, serta berbagai kegiatan edukasi publik melalui platform digital Halodoc.

Masyarakat juga dapat memperoleh akses konsultasi dokter untuk mendapatkan informasi yang tepat seputar DBD dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan, termasuk di antaranya vaksinasi.

Baca Juga: Studi Ungkap Alasan Pekerja Ragu Vaksin Dengue, Apa Itu?

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan, dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa.

Hingga saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkannya, sehingga penanganannya lebih berfokus pada pengelolaan gejala. Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting.

Sebagai mitra dari Kementerian Kesehatan,  Andreas bilang, Takeda terus mendukung upaya menuju Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030, di antaranya melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.

"Kami melihat kesamaan tujuan dengan Halodoc dalam meningkatkan literasi publik terkait dengue, terutama dalam hal pencegahaan, dan kemitraan ini menjadi salah satu langkah konkret untuk memperluas jangkauan edukasi tersebut," kata Andreas dalam keterangan resmi Kamis (7/5).

Senada dengan hal tersebut, Jonathan Sudharta, CEO & Co-Founder Halodoc, melihat ekosistem kesehatan digitalnya yang sudah mencapai lebih dari 20 juta pengguna aktif terus diupayakan untuk layanan preventif.

Kemitraan Halodoc dengan Takeda untuk memperkuat edukasi medis yang akurat sekaligus memperluas proteksi bagi masyarakat. Upaya ini membuahkan hasil nyata, di mana akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc melonjak hampir 2 kali lipat pada kuartal I-2026 dibanding kuartal IV-2025.

"Ke depan, kami berharap dapat menjangkau dan mengedukasi lebih banyak lagi masyarakat Indonesia," sebutnya.

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menekankan, DBD memiliki karakteristik yang unik karena perjalanan penyakitnya tidak selalu dapat diprediksi.

Baca Juga: Kasus Demam Berdarah Dengue di Kalimantan Utara Tinggi, Ini Bentuk Pencegahannya

Menurut dr. HArtono, seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok.

Selain itu dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

Sekitar 75% kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun, dengan proporsi kematian terbesar, yaitu sekitar 41%, terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, yang dapat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala.

Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif.

Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan yang tersedia, termasuk imunisasi. Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun.

“Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan perlindungan diri. Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang- orang terdekat dari bahaya infeksi DBD,” tuturnya.

Sementara Dr. dr. Sukamto Koesnoe. SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), mengungkapkan, dengue juga memberikan dampak yang signifikan pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif.

Sering kali dengue dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak, padahal pada kelompok usia dewasa risikonya tetap tinggi dan dapat berdampak luas.

Baca Juga: United Against Dengue Jadi Langkah Mencegah DBD

Karena itu, menurut dr. Sukamto, tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue, yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga produktivitas keluarga.

Selain itu, pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta atau komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi.

Kondisi ini dapat memperberat perjalanan penyakit dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif. Padahal, pencegahan yang dilakukan sejak awal dapat membantu mengurangi risiko kondisi yang lebih serius.

Oleh sebab itu, diakui dr. Sukamto, penting bagi masyarakat untuk menjadikan pencegahan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga lingkungan hingga mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif.

"Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dan keluarga, termasuk dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai opsi pencegahan yang tersedia, seperti imunisasi, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing,” jelasnya.

Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu, termasuk suhu udara yang lebih tinggi, turut meningkatkan risiko penyebaran DBD.

Oleh karena itu, langkah pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengendalian lingkungan, peningkatan kesadaran, hingga pemanfaatan inovasi kesehatan sebagai bagian dari perlindungan yang lebih menyeluruh terhadap DBD.

Melalui kolaborasi ini, Takeda dan Halodoc berharap dapat mendorong lebih banyak pihak untuk turut ambil bagian dalam memperkuat pencegahan DBD di Indonesia.

Upaya bersama yang berkelanjutan diharapkan dapat memberikan dampak nyata dalam menurunkan beban penyakit dan melindungi kesehatan masyarakat secara luas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Ingin Punya Rumah Premium dengan Desain Berkelas? Cek Signature Residence Ini

​Signature Residence di Tower 2 Savyavasa punya desain yang memadukan perspektif internasional dan sentuhan kriya Indonesia.

Ramalan Zodiak Besok Sabtu 8 Agustus 2026: Cinta, Karier dan Keuangan

Simak ramalan zodiak Sabtu 8 Agustus 2026 untuk Aries hingga Pisces, lengkap dengan prediksi cinta, karier, keuangan dan kesehatan.

Promo Indomaret Ice Cream Fair 6-19 Agustus 2026, Aice Cup-Concerto Beli 2 Gratis 1

Promo Indomaret Ice Cream Fair Periode 6-19 Agustus 2026. Cek dan manfaatkan untuk belanja hemat es krim favorit.

Cerah hingga Berawan, Cek Prakiraan Cuaca Banten di Akhir Pekan Ini

​BMKG memperkirakan cuaca besok, Sabtu (8/8) dan lusa, Minggu (9/8) di wilayah Banten akan cerah dan berawan.

Promo Indomaret Weekend Treats 7-9 Agustus 2026, Frost Bite Cup Beli 3 Diskon 30%

Promo Indomaret Weekend Treats Periode 7-9 Agustus 2026. Cek dan manfaatkan untuk belanja hemat di akhir pekan.

Dari Esai ke Layar Lebar, Begini Proses Pengembangan Film Seni Merayu Tuhan

Diadaptasi dari buku, pengembangan film Seni Merayu Tuhan membutuhkan proses yang panjang dan berliku.       

Probiotik Berpotensi Bantu Terapi Jerawat, Ini Hasil Temuannya

Selain menjaga kesehatan pencernaan, probiotik kini diteliti memiliki potensi mendukung pengobatan jerawat. ​

Akhir Pekan, Besok dan Lusa di Jawa Tengah Diprediksi Cerah, Cek Daerah Anda

Akhir pekan di Jawa Tengah diperkirakan cerah hingga berawan, tanpa potensi hujan, menurut BMKG.      

Patch Keamanan Android 2026 Dirilis, Ini Cara Google Lindungi Pengguna Ponsel

Google merilis patch keamanan Android Agustus 2026 untuk menutup celah keamanan dan memperkuat perlindungan pengguna dari aplikasi berbahaya.

Akhir Pekan Nyaman, Cek Prakiraan Cuaca Jawa Barat yang Didominasi Cerah

BMKG memprakirakan cuaca Jawa Barat pada 8-9 Agustus didominasi cerah dan berawan tanpa potensi hujan.