MOMSMONEY. Memilih skincare untuk bayi dan anak memang tidak bisa sekadar melihat kemasan. Label seperti “100% alami”, “organik”, atau “dermatologically tested” memang terdengar meyakinkan. Namun, bukan berarti setiap klaim tersebut otomatis menjamin produk aman untuk kulit si kecil.
Hal ini penting diperhatikan karena kulit bayi dan anak sekitar 30% lebih tipis dibandingkan kulit orang dewasa. Kondisi tersebut membuat kulit mereka lebih sensitif dan lebih rentan terhadap bahan yang digunakan dalam produk perawatan kulit.
Orangtua juga perlu mewaspadai fenomena greenwashing. Istilah ini merujuk pada strategi pemasaran yang membuat sebuah produk terlihat lebih aman atau ramah lingkungan daripada kondisi sebenarnya.
Sebuah studi pada 2024 terhadap sejumlah merek kosmetik yang mengklaim ramah lingkungan untuk bayi menemukan bahwa 39% di antaranya memanipulasi atau menyembunyikan informasi pada kemasan. Sementara itu, hanya 18,4% yang memiliki sertifikasi organik resmi dari pihak ketiga.
Karena itu, jangan hanya terpaku pada tulisan yang tercetak di bagian depan kemasan. Berikut sejumlah hal yang bisa diperiksa sebelum membeli skincare untuk bayi dan anak.
1. Jangan asal percaya logo kelinci
Logo kelinci atau leaping bunny biasanya dikaitkan dengan produk yang tidak melakukan pengujian pada hewan atau cruelty-free. Namun, keberadaan logo tersebut di kemasan belum tentu berarti seluruh proses produksinya benar-benar bebas uji coba terhadap hewan.
Ada kemungkinan produsen hanya menggunakan klaim cruelty-free, sementara bahan bakunya berasal dari pemasok yang masih melakukan pengujian pada hewan.
Untuk memastikannya, orangtua bisa mengecek apakah merek tersebut tercantum dalam basis data resmi Leaping Bunny. Dengan begitu, klaim bebas uji coba pada hewan tidak hanya berasal dari pengakuan produsen.
Baca Juga: 4 Perbedaan Bronzer dan Contour yang Sering Dianggap Mirip, Jangan Keliru!
2. Periksa klaim “organik”
Tulisan “organik” juga perlu dicermati. Sebuah produk bisa saja menggunakan satu atau beberapa bahan organik, tetapi bukan berarti seluruh formulanya terdiri dari bahan organik.
Sertifikasi dari lembaga independen dapat menjadi salah satu indikator yang lebih bisa dipercaya. Salah satunya adalah standar Ecocert COSMOS Organic yang memiliki persyaratan khusus mengenai penggunaan bahan organik dan proses produksinya.
Namun, jangan berhenti pada logo sertifikasi di kemasan. Konsumen tetap perlu memastikan sertifikat tersebut benar-benar terdaftar melalui basis data resmi Ecocert Greenlife.
3. Jangan terkecoh “Dermatologically Tested”
Label dermatologically tested terdengar seperti jaminan bahwa produk aman untuk kulit bayi. Padahal, istilah tersebut tidak memiliki standar hukum yang seragam.
Pengujian yang dilakukan produsen bisa berbeda-beda, termasuk dari jumlah peserta, lama pengujian, hingga karakteristik kulit yang digunakan sebagai objek penelitian. Artinya, produk yang diuji pada orang dewasa belum tentu memberikan gambaran yang sama ketika digunakan pada bayi atau anak.
Jika memungkinkan, pilih produk yang memberikan informasi lebih jelas mengenai pengujiannya, misalnya melibatkan dokter anak atau mencantumkan ringkasan hasil uji klinis.
Orangtua juga bisa menghubungi layanan konsumen untuk menanyakan bagaimana pengujian keamanan produk tersebut dilakukan.
Baca Juga: Makanan Lokal Kaya Nutrisi, Cek 7 Manfaat Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh
4. Waspadai label “alami” dan “clean formula”
Bahan alami tidak selalu berarti lebih aman untuk kulit bayi. Begitu pula dengan istilah clean formula yang belum memiliki definisi tunggal dan baku.
Pewangi atau fragrance, misalnya, merupakan salah satu bahan yang dapat memicu reaksi alergi pada kulit sensitif. Sementara itu, beberapa produk yang mengandalkan bahan alami juga menggunakan minyak esensial dalam konsentrasi tertentu yang berpotensi menimbulkan iritasi.
Karena itu, jangan hanya membaca klaim di bagian depan kemasan. Balik kemasan dan periksa daftar bahan yang digunakan.
Untuk kulit bayi yang sensitif, produk dengan label fragrance-free lebih mudah menjadi acuan dibandingkan hanya mengandalkan label unscented. Keduanya tidak selalu memiliki arti yang sama.
5. “Aman untuk bayi” juga perlu dicek
Tulisan “aman untuk bayi” atau “aman untuk anak” di kemasan tentu terdengar menenangkan. Namun, reaksi kulit tidak selalu muncul sesaat setelah produk digunakan.
Iritasi atau sensitivitas bisa muncul setelah pemakaian berulang. Karena itu, pengujian seperti clinically patch-tested dapat menjadi informasi tambahan yang patut diperhatikan.
Di rumah, orangtua juga dapat melakukan patch test sederhana sebelum menggunakan produk baru dalam jumlah banyak. Oleskan sedikit produk pada area kulit yang kecil, kemudian perhatikan apakah muncul kemerahan, gatal, atau reaksi lain selama 24–48 jam.
Jika muncul reaksi yang mengkhawatirkan, sebaiknya hentikan pemakaian dan konsultasikan dengan tenaga medis.
Pada akhirnya, memilih skincare untuk bayi bukan soal mencari produk dengan klaim paling banyak. Yang lebih penting adalah melihat komposisi, memahami arti setiap klaim, serta memastikan sertifikasi atau hasil pengujiannya memang dapat diverifikasi.
Dengan sedikit lebih teliti membaca kemasan, orangtua bisa mengurangi risiko memilih produk hanya karena tergoda tulisan “alami”, “organik”, atau “aman untuk bayi”.
Baca Juga: Investasi Otomatis Bukan Berarti Bisa Dilupakan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News