MOMSMONEY.ID - Moms, membeli baju memang terasa menyenangkan apalagi ketika modelnya sedang tren, ada diskon, dan terlihat bagus saat dikenakan orang lain. Tanpa terasa, satu potong pakaian bisa bertambah menjadi beberapa hingga memenuhi lemari.
Namun, pernahkah kita berpikir ke mana pakaian tersebut akan berakhir ketika sudah tidak terpakai?
Persoalan ini menjadi salah satu hal yang disoroti Nana Nurwaesasri dari Sustainable Fashion Indonesia. Menurut dia, kebiasaan membeli pakaian secara berlebihan turut berkontribusi terhadap penumpukan sampah tekstil. Padahal, konsumen memiliki peran untuk memengaruhi bagaimana industri memproduksi dan menawarkan pakaian.
Nana mengaku pernah menjadi konsumen yang gemar membeli baju. Dalam sebulan, dia bisa membeli tiga hingga lima potong pakaian karena harganya beragam dan banyak pilihan menarik yang mudah ditemukan.
Kesadarannya mulai berubah setelah mengetahui dampak sampah tekstil dari kebiasaan tersebut. Pengalaman itu membuatnya berpikir bahwa persoalannya bukan hanya soal berapa banyak pakaian yang diproduksi, tetapi juga bagaimana konsumen menentukan apa yang perlu dibeli.
Baca Juga: Sadar Lemari Dorong Tanggung Jawab Masyarakat atas Limbah Pakaian
Lantas, apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi sampah tekstil tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli pakaian ramah lingkungan?
1. Periksa isi lemari sebelum membeli baju baru
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan pakaian yang sudah dimiliki. Sebelum membeli model terbaru, coba periksa kembali isi lemari. Bisa jadi, pakaian yang dibutuhkan sebenarnya sudah tersedia, tetapi jarang digunakan atau terlupakan.
Menurut Nana, konsumen tidak harus merasa bersalah hanya karena masih mengenakan pakaian berbahan poliester atau belum mampu membeli produk sustainable fashion yang harganya relatif mahal.
Baginya, menggunakan pakaian yang sudah dimiliki justru menjadi langkah penting untuk mengurangi sampah tekstil.
"Baju yang paling ramah lingkungan itu bukan baju yang ada sustainability-nya, tapi apa yang ada di rumah kita masing-masing," ujar Nana dalam diskusi film Menolak Punah pada Jumat (23/10).
2. Jangan langsung checkout hanya karena murah dan sedang tren
Harga murah dan model yang menarik sering kali membuat seseorang membeli pakaian secara spontan. Padahal, baju yang terlihat bagus di foto belum tentu nyaman atau cocok ketika dikenakan.
Nana mengingatkan bahwa tidak semua tren fashion harus diikuti. Pakaian yang dikenakan selebritas atau kreator konten pun belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan gaya masing-masing orang.
Oleh karena itu, sebelum melakukan pembayaran, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri: apakah pakaian ini benar-benar dibutuhkan, apakah akan sering dipakai, dan apakah modelnya cocok dengan pakaian lain yang sudah ada di lemari? Jika jawabannya belum jelas, tidak ada salahnya menunda pembelian.
Baca Juga: Menekan Limbah Tekstil, Setali Indonesia Dorong Pengolahan dan Daur Ulang Pakaian
3. Gunakan tahapan sebelum memutuskan membeli pakaian
Untuk kebutuhan tertentu, seperti pakaian bertema khusus saat perayaan atau acara, membeli baju baru bukan satu-satunya pilihan.
Nana menyarankan agar konsumen mempertimbangkan beberapa alternatif sebelum memutuskan berbelanja. Pertama, periksa apakah pakaian yang dibutuhkan sudah tersedia di lemari. Jika tidak ada, coba tanyakan apakah anggota keluarga memiliki pakaian yang bisa dipinjam.
Pilihan berikutnya adalah menyewa pakaian apabila layanan tersebut tersedia dan biayanya sesuai dengan anggaran. Membeli pakaian baru bisa menjadi pilihan terakhir jika alternatif lain tidak memungkinkan dan pakaian tersebut memang dibutuhkan.
Sebagai contoh, ketika membutuhkan baju merah putih untuk perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, seseorang bisa lebih dahulu memeriksa isi lemari, mencari kemungkinan meminjam dari keluarga, atau mempertimbangkan penyewaan sebelum membeli.
Dengan demikian, pakaian baru tidak langsung menjadi jawaban untuk setiap kebutuhan berpakaian.
4. Jangan buru-buru membuang pakaian lama
Ketika pakaian sudah tidak lagi menjadi favorit, langkah pertama bukan berarti harus membuangnya. Periksa terlebih dahulu apakah pakaian tersebut masih layak dikenakan, bisa diperbaiki atau dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain.
Pakaian yang masih layak bisa terus digunakan atau diberikan kepada orang lain yang membutuhkannya. Sementara itu, pakaian yang rusak perlu diperlakukan berbeda karena belum tentu bisa langsung didonasikan atau digunakan kembali.
Nana menilai, persoalan sampah tekstil juga berkaitan dengan belum tersedianya sistem pengelolaan yang memadai. Ia mencontohkan, kategori pemilahan sampah belum memasukkan tekstil sebagai kategori tersendiri.
Oleh karena itu, konsumen perlu memahami bahwa memindahkan pakaian dari lemari ke tempat lain tidak selalu menyelesaikan persoalan. Jika pakaian sudah tidak layak digunakan, penting untuk mencari jalur penanganan yang sesuai, bukan sekadar membuangnya bersama sampah rumah tangga.
5. Cari komunitas pengelola sampah tekstil
Untuk pakaian yang sudah tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya, konsumen bisa mencari informasi mengenai komunitas atau pengelola yang menerima dan mengolah limbah tekstil.
Nana mengusulkan adanya bank sampah tekstil yang dapat menampung pakaian bekas, kemudian menyalurkannya kepada komunitas yang memiliki keterampilan untuk mengolah material tersebut.
Melalui proses upcycling atau pemanfaatan kembali, material tekstil berpotensi diolah menjadi produk baru. Namun, tidak semua jenis pakaian dapat diproses dengan cara yang sama. Ketersediaan fasilitas, kondisi material, serta biaya pengolahan turut memengaruhi hasilnya.
Nana juga mengingatkan bahwa pengolahan pakaian menjadi benang atau kain baru membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini menjadi salah satu tantangan dalam memperluas praktik daur ulang tekstil.
Sambil menunggu sistem pengelolaan yang lebih memadai, konsumen dapat mencari komunitas yang memang menerima jenis tekstil tertentu dan menanyakan ketentuan penyerahannya. Dengan demikian, pakaian tidak langsung dibuang tanpa mengetahui kemungkinan penanganan selanjutnya.
Baca Juga: Jangan Asal Buang Baju Bekas, Ini 4 Cara Mengelolanya agar Tak Jadi Sampah
6. Coba tantangan 90 hari tanpa membeli baju baru
Jika ingin mulai mengubah kebiasaan belanja, konsumen bisa mencoba tantangan 90 hari tanpa membeli pakaian baru, seperti yang diajakkan Nana kepada peserta diskusi.
Selama tiga bulan, fokuskan perhatian pada pakaian yang sudah dimiliki. Coba padu padan berbeda, gunakan kembali baju yang lama tersimpan, dan evaluasi kebutuhan sebelum tergoda membeli model terbaru.
Ketika muncul keinginan untuk melakukan checkout, ingat kembali alasan ingin mengurangi belanja pakaian. Apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya menarik karena sedang tren dan harganya murah?
Tantangan ini bukan berarti seseorang tidak boleh membeli pakaian dalam keadaan apa pun. Kebutuhan yang mendesak tetap perlu dipertimbangkan. Tujuannya adalah membangun kebiasaan untuk lebih sadar sebelum berbelanja.
Nana berharap kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi gaya hidup yang lebih bijak. Menurut dia, konsumen memiliki pengaruh terhadap pasar karena keputusan membeli turut menentukan barang apa yang akan terus diproduksi.
Perjalanan mengurangi sampah tekstil memang tidak bisa diselesaikan oleh konsumen seorang diri. Produsen, pemerintah, dan pengelola limbah juga memiliki peran penting. Namun, menggunakan pakaian yang sudah dimiliki dan menahan pembelian yang tidak diperlukan merupakan langkah sederhana yang dapat dimulai dari rumah.
Jadi, tips nomor berapa yang Moms dan keluarga akan lakukan?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News