MOMSMONEY.ID - Permasalahan lingkungan menjadi semakin mengkhawatirkan, salah satunya terkait limbah pakaian yang menumpuk di tempat pembuangan akhir. Di Indonesia, limbah tekstil telah menjadi penyumbang sampah yang cukup besar. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023 menyebutkan, sampah tekstil menyumbang 2,87% dari total komposisi sampah nasional.
Tren seperti fast fashion turut membuat porsi limbah pakaian semakin meningkat. Tren ini mendorong masyarakat untuk menggunakan pakaian baru hanya sekali atau dua kali pakai saja. Ketika minggu depan atau bulan depan muncul mode fesyen terbaru, mereka akan beralih dan meninggalkan tumpukan pakaian yang semakin tinggi.
CEO Setali Indonesia, Gema Minang mengungkapkan bahwa meningkatnya daya beli masyarakat turut mendorong konsumsi pakaian. Tren di media sosial seperti konten shopping haul dan mix and match yang kerap menampilkan pembelian serta penggunaan berbagai pakaian, juga dapat mendorong masyarakat memiliki lebih banyak pakaian daripada yang sebenarnya dibutuhkan.
“Tapi kalau untuk perorangan sendiri mungkin tantangannya memang pertama kemawasan diri itu ya. Dan bahayanya karena baju-baju tersebut kebanyakan terbuat dari bahan sintetis. Jadi tidak bisa terurai. Jadi awareness itu memang masih cukup susah,” ujar Gema.
Baca Juga: Jangan Langsung Dibuang, Limbah Pertanian Kini Bisa Diolah Jadi Biomassa
Melihat fenomena seperti itu, Setali Indonesia dibentuk dalam rangka mengelola pakaian bekas dan mendukung ekonomi sirkular untuk memperpanjang masa pakainya. Upaya dilakuan dengan pengelolaan limbah tekstil melalui penggunaan kembali pakaian bekas (upcycling) dan pengolahan material yang sudah tidak layak pakai menjadi bahan baku baru (downcycling). Langkah ini dilakukan untuk memperluas pemanfaatan limbah fesyen agar tidak langsung berakhir sebagai sampah.
Material yang masih dapat diolah akan dimanfaatkan kembali menjadi produk baru melalui teknik upcycling. Proses ini tidak terbatas pada jenis kain tertentu, tetapi mempertimbangkan kondisi bahan dan kemungkinan pemanfaatannya. Contohnya seragam perusahaan yang sudah tidak digunakan dapat diubah menjadi produk lain, seperti tas dan laptop sleeve.
Sementara itu, kain yang sudah tidak memungkinkan untuk diolah menjadi produk melalui proses penjahitan dapat dimanfaatkan melalui teknik downcycling. Proses ini dilakukan dengan kain yang sudah tidak dapat digunakan kemudian dicacah. Hasilnya untuk dijadikan material pengisi atau filler material, misalnya untuk bantalan leher dan boneka.
Setali tidak membatasi penerimaan limbah berdasarkan jenis limbahnya. Mereka tidak hanya menerima limbah fesyen saja, tetapi juga limbah tekstil lain seperti sprei dan sarung bantal.
Gema menyebutkan bahwa setali memiliki dua pintu penerimaan limbah pakaian. Pertama, Setali Indonesia melakukan kerjasama dengan perusahaan baik di bidang fashion maupun non-fashion untuk mengolah limbah pakaian. Dan kedua, setali membuka jalan bagi perorangan dan menyediakan layanan pick-up sebagai layanan berbayar di mana setiap hari customer bisa mengirimkan limbahnya.
Baca Juga: Pakaian Bekas Tak Selalu Jadi Limbah, Ini Cara Uniqlo Perpanjang Masa Pakainya
Pakaian dengan bahan sintetis seperti poliester, akrilik, dan spandek pada dasarnya akan lebih sulit untuk diuraikan. Pembuatannya yang berbahan dasar kimiawi, ketika menjadi limbah pakaian, menimbulkan zat mikroplastik dan melepas sisa senyawa karbon ke lingkungan.
Setali mengembangkan inovasi melalui Fabrics Lab untuk mengolah cacahan kain menjadi material padat baru. “Apapun jenis bahannya bisa diolah melalui teknik downcycling itu, nanti bisa dijadikan bahan baku yang wujudnya solid. Bisa jadi batu bata, bisa jadi furniture, bisa jadi coaster. Karena teksturnya udah nggak seperti kain lagi, jadi solid material,” kata Gema.
Gema berharap pemerintah ikut andil memberikan solusi atas masalah limbah pakaian yang menumpuk ini. Setidaknya pemerintah memfasilitasi masyarakat, komunitas atau organisasi dengan menyediakan tempat khusus pengolahan. Dan salah satu solusi yang juga penting adalah dana untuk melakukan riset.
Setali sendiri melakukan riset dengan modal yang tidak sedikit hingga dapat mengolah limbah pakaian menjadi material solid. Mekanisme pengolahan yang terus berkembang melalui riset dapat memaksimalkan daya serap pengolahan limbah.
“Jadi memerlukan teknologi atau inovasi untuk bisa memecahkan masalah ini sih. Supaya yang dihasilkan inovasinya itu sangat relevan dengan kebutuhan industry. Dan supaya apa yang diolah jumlahnya juga bisa sangat besar gitu,” jelasnya.
Punya pakaian bekas dan ingin didonasikan? Temukan informasi lebih lanjut melalui akun Instagram @setali.indonesia dan situs web resmi di setali.net
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News