M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

Imbas Reklasifikasi MSCI ke Pasar Saham & Obligasi, Begini Saran Strategi Portofolio

Imbas Reklasifikasi MSCI ke Pasar Saham & Obligasi, Begini Saran Strategi Portofolio
Reporter: Danielisa Putriadita  |  Editor: Danielisa Putriadita


MOMSMONEY.ID - Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai usulan MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market sebagai perkembangan serius yang berpotensi membawa konsekuensi jangka panjang bagi pasar modal domestik. 

Persoalan ini tidak hanya menyangkut potensi tekanan jual dalam jangka pendek, tetapi juga posisi Indonesia dalam indeks saham global, akses terhadap investor institusional internasional, serta daya tarik pasar saham Indonesia sebagai tujuan investasi.

MSCI memulai konsultasi atas usulan tersebut pada 15 Oktober 2026, menyusul kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham, kualitas free float, dan dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi. Keputusan final dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027. 

Menurut Mirae, perkembangan ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi pasar saham Indonesia bukan semata-mata sentimen pasar, melainkan menyangkut aspek mendasar dari transparansi dan aksesibilitas pasar bagi investor global.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa apabila reklasifikasi menjadi Standalone Market benar-benar diterapkan, saham-saham Indonesia berpotensi keluar dari indeks Emerging Market yang menjadi acuan berbagai produk investasi global. Konsekuensinya dapat berupa penjualan oleh investor pasif yang mengikuti indeks tersebut, disertai penyesuaian alokasi oleh investor institusional aktif.

Baca Juga: Mirae Asset Soroti Risiko Akuisisi BYAN di tengah Tekanan Pasar

Risikonya bukan hanya berapa besar dana asing yang berpotensi keluar. Dalam jangka lebih panjang, perubahan klasifikasi ini dapat mempersempit basis investor institusional, mengurangi likuiditas pasar, dan meningkatkan premi risiko yang diminta investor untuk berinvestasi di saham Indonesia. "Dengan kata lain, dampaknya bisa lebih luas daripada tekanan jual yang kita lihat saat ini,” jelas Rully dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10). 
 
Meski demikian, Mirae menilai bahwa skenario Standalone Market belum dapat dianggap sebagai hasil yang pasti. Periode konsultasi yang masih berlangsung memberikan kesempatan bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk menunjukkan kemajuan yang konkret, terutama dalam transparansi kepemilikan saham, pengawasan terhadap aktivitas perdagangan terkoordinasi, serta penerapan aturan free float yang kredibel dan konsisten.

“Yang akan menjadi perhatian investor global bukan sekadar komitmen untuk melakukan perbaikan, tetapi sejauh mana reformasi tersebut benar-benar dilaksanakan dan dapat diverifikasi. Karena itu, perkembangan respons regulator terhadap kekhawatiran MSCI akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kepercayaan investor ke depan,” ujar Rully.

Dari sisi strategi investasi, Mirae menyarankan pendekatan yang lebih selektif di tengah volatilitas pasar yang tinggi. Investor yang masih memiliki posisi kas cukup besar dapat mempertimbangkan pembelian kembali secara bertahap (gradual re-entry), dengan fokus pada saham-saham yang relatif rendah kepemilikan investor institusional asing dan memiliki eksposur lebih terbatas terhadap tekanan jual terkait MSCI. 

Beberapa saham komoditas dapat menjadi area yang dicermati, dengan tetap mempertimbangkan likuiditas dan karakteristik masing-masing saham.

“Kami tidak melihat perlunya investor terburu-buru kembali masuk ke pasar secara agresif. Namun, koreksi yang sangat tajam juga dapat membuka peluang secara selektif. Dalam kondisi seperti ini, kami lebih memilih saham yang relatif tidak bergantung pada aliran dana asing, sambil tetap mempertahankan fleksibilitas kas untuk menghadapi kemungkinan volatilitas lanjutan,” saran Rully.

Baca Juga: Mirae Asset Sekuritas Soroti Kredibilitas Fiskal Saat Pergantian Menteri Keuangan

Efek ke pasar obligasi

Dampak perubahan klasifikasi MSCI juga berpotensi meluas ke pasar obligasi pemerintah melalui perubahan sentimen dan arus modal asing. Mirae melihat dua kemungkinan arah dampak terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Memburuknya sentimen terhadap Indonesia dapat meningkatkan premi risiko, menekan rupiah, dan mendorong investor asing mengurangi eksposur lintas aset, termasuk SBN.

Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menjelaskan dalam jangka pendek tekanan terhadap pasar keuangan domestik perlu dicermati. Yield SBN tenor 10 tahun dilaporkan mencapai 7,33% pada pembukaan pasar, sementara rupiah di atas Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan pasar masih perlu diwaspadai.

Kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ke 7,24% ketika yield US Treasury turun sebelumnya juga mengindikasikan adanya tekanan domestik tambahan. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah risiko nilai tukar. "Jika sentimen MSCI memburuk dan mendorong investor mengurangi kepemilikan aset domestik, konversi dana ke valuta asing dapat menambah tekanan terhadap rupiah,” jelas Jessica.

Pada saat yang sama, meningkatnya persepsi risiko dapat mendorong investor meminta yield SBN yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko investasi. Pelemahan rupiah yang berlanjut juga berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia sehingga penurunan yield domestik dapat tertahan meskipun kondisi pasar global membaik.

Baca Juga: IHSG Jumat (16/10) Anjlok 11%, Intip Saham yang Masih Naik Tinggi

Di tengah volatilitas tersebut, Mirae menilai tingkat yield SBN saat ini menarik untuk diakumulasi secara bertahap, terutama pada tenor pendek. Daya tarik ini didukung oleh pelebaran kembali selisih yield antara US Treasury dan obligasi pemerintah Indonesia (UST-INDOGB spread) hingga di atas 200 basis poin.

Meski menawarkan imbal hasil menarik, investor tetap perlu mewaspadai risiko pelemahan rupiah dan ketidakpastian arus modal. Bagi investor asing, pelemahan rupiah dapat menggerus imbal hasil investasi SBN serta membatasi ruang pelonggaran kebijakan BI dan menahan penurunan yield.

Mirae Asset menilai investor perlu lebih selektif terhadap obligasi berdurasi panjang yang lebih sensitif terhadap perubahan yield, dengan preferensi pada tenor pendek hingga menengah. Perkembangan MSCI, stabilitas rupiah, serta arus dana asing dan domestik akan terus dipantau untuk menentukan langkah investasi selanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Moms Bisnis Makanan Siap Saji Masih Punya Potensi Besar

Potensi bisnis makanan siap saji tersebut terlihat dari data BPS yang menyebutkan makin banyak masyarakat mengeluarkan dana untuk makan di luar.

Harga Buyback Emas Hari Ini Kompak Naik, Antam Tertinggi Rp 2,37 Juta

Harga buyback emas hari ini, Jumat, 16 Oktober 2026, kompak naik. Buyback emas Antam tetap tertinggi.

Cek Prakiraan Cuaca Banten di Akhir Pekan, Hujan Guyur Daerah Ini

BMKG memperkirakan cuaca Banten pada Sabtu (17/10/2026) dan Minggu (18/10/2026) didominasi cuaca cerah dan berawan.

Ramaikan Industri Musik, Solois Igan Baswara Rilis Single Baru Ikut Aku Pulang

I Gusti Agung Ngurah Andhika Baswara Dewa ini kembali menunjukkan kematangannya dalam bermusik lewat perilisan single "Ikut Aku Pulang".

Cuaca DKI Jakarta di Akhir Pekan Diramal Cerah, Begini Suhunya

BMKG memperkirakan cuaca di akhir pekan ini, Sabtu (17/10/2026) dan Minggu (18/10/2026) akan didominasi cuaca cerah. ​

Penyematan Barcode di Produk UMKM Permudah Tembus Pasar Ekspor

Kemendag dan Hippindo sudah memfasilitasi pemberian barcode terhadap sebanyak 4.100 produk UMKM untuk bisa tembus pasar ritel modern.

Imbas Reklasifikasi MSCI ke Pasar Saham & Obligasi, Begini Saran Strategi Portofolio

Mirae Asset Sekuritas menyarankan pendekatan yang lebih selektif di tengah volatilitas pasar yang tinggi. 

Harga Emas Dunia Stabil di US$ 4.180, Pasar Cerna Sinyal Terbaru The Fed

Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh meredakan spekulasi kenaikan suku bunga pada Oktober, meski inflasi AS membayangi pergerakan harga emas.

Masih Ada Hujan, Simak Prakiraan Cuaca Sulawesi Selatan Sabtu (17/10)

BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas ringan akan turun di Enrekang Sulawesi Selatan dengan suhu udara berada di kisaran 19–26 °C.

Kalori Dubai Chewy Cookie Ternyata Setara Semangkuk Nasi lo, Awas Risiko Obesitas

Mengombinasikan krim pistachio, kunafa, dan marshmallow, kalori Dubai Chewy Cookie tergolong padat gula dan lemak. Ini dampaknya buat kesehatan.