MOMSMONEY.ID - Cek tren dekorasi rumah yang mulai ditinggalkan di 2026 dan temukan solusi desain yang lebih hangat, personal, dan relevan untuk hunian masa kini.
Tahun 2026 menjadi titik balik cara banyak orang memandang desain rumah, bukan lagi sekadar mengikuti tren visual. Hunian kini dituntut terasa nyaman, punya cerita, dan benar-benar mencerminkan karakter penghuninya.
Melansir dari Better Homes & Gardens, para desainer interior melihat perubahan besar dari gaya yang terlalu kaku menuju desain yang lebih personal dan berlapis.
Tren lama yang dulu populer di media sosial mulai terasa hambar saat diterapkan dalam kehidupan nyata. Inilah alasan mengapa banyak konsep dekorasi lama mulai ditinggalkan dan digantikan pendekatan yang lebih manusiawi.
“Memasuki 2026, desain rumah bergerak ke arah kurasi yang lebih dalam dan terasa nyata untuk kehidupan sehari-hari,” ujar desainer interior Erica Davis.
Baca Juga: Bukan Tren, Desain Rumah Joanna Gaines Mengungkap Cara Hunian Jadi Diri Anda
Tanaman palsu yang terlihat tidak alami
Tanaman hias memang jadi elemen favorit untuk mempercantik rumah, tetapi tanaman palsu dengan kualitas rendah kini dianggap mengganggu estetika.
Teksturnya yang kaku dan warna yang terlalu plastik membuat ruangan terasa tidak hidup. Desainer menyarankan beralih ke tanaman asli yang mudah dirawat atau memilih tanaman artifisial premium yang tampak realistis.
Alternatif lain adalah menghadirkan elemen alam seperti kayu, batu, atau anyaman alami sebagai pengganti nuansa hijau.
Ruangan serba putih tanpa tekstur
Interior putih total yang dulu dianggap bersih dan modern kini mulai terasa dingin. Tanpa permainan tekstur dan warna pendamping, ruangan terlihat datar dan kurang berkarakter.
Tren 2026 mengarah pada warna netral hangat seperti krem, beige, dan broken white. Sentuhan material alami dan pencahayaan lembut membuat ruang tetap terang sekaligus nyaman.
Penggunaan rotan yang berlebihan
Rotan adalah material alami yang cantik, tetapi penggunaannya secara masif justru membuat ruangan cepat terasa usang. Kursi, lampu, rak, hingga aksesori rotan dalam satu ruang kini dianggap terlalu mengikuti tren.
Desainer menyarankan menggunakan rotan sebagai aksen saja. Dipadukan dengan kayu solid atau logam, rotan justru tampil lebih elegan dan tahan lama secara visual.
Furnitur instan yang hanya ikut tren
Furnitur yang dibeli karena viral sering kali mengorbankan kenyamanan dan kualitas. Di 2026, pendekatan ini mulai ditinggalkan.
Desainer mendorong pemilik rumah untuk memilih furnitur yang fungsional, nyaman, dan desainnya abadi. Investasi pada satu sofa berkualitas dinilai jauh lebih bijak dibanding sering mengganti furnitur murah yang cepat rusak.
Dekorasi yang terlalu serasi
Dekorasi yang semuanya senada, dari warna hingga motif, kini dianggap membuat rumah terasa kaku. Tren terbaru justru mengutamakan perpaduan yang terkurasi, bukan seragam.
Menggabungkan warna, tekstur, dan gaya yang berbeda menciptakan kedalaman visual. Ruangan pun terasa lebih alami dan tidak seperti ruang pamer.
Gaya minimalis ekstrem tanpa sentuhan personal
Minimalis tetap digemari, namun versi ekstrem yang kosong dan tanpa identitas mulai ditinggalkan. Rumah di 2026 diharapkan tetap rapi tetapi memiliki cerita.
Kehadiran buku, karya seni, foto pribadi, dan pencahayaan berlapis membuat ruangan terasa hidup. Hunian bukan lagi ruang steril, melainkan tempat bernaung yang hangat.
Baca Juga: Tren Cat Rumah 2026 Ini yang Akan Jadi Tempat Pemulihan, Bukan Sekadar Pamer Lo
Cat mengilap di semua permukaan
Lapisan cat mengilap yang digunakan secara menyeluruh kini dinilai terlalu mencolok. Desainer merekomendasikan kombinasi hasil akhir, seperti matte untuk dinding dan satin untuk detail tertentu.
Variasi ini menciptakan dimensi visual yang lebih modern. Selain itu, tampilan rumah jadi lebih elegan dan tidak cepat terlihat kuno.
Dominasi warna abu abu dingin
Abu abu bernuansa dingin yang sempat mendominasi selama bertahun-tahun kini mulai ditinggalkan. Warna ini dianggap membuat rumah terasa kaku dan kurang ramah.
Tren 2026 lebih mengarah pada warna hangat seperti cokelat muda, taupe, dan terracotta. Palet hangat dinilai lebih cocok dengan iklim tropis dan gaya hidup masyarakat Indonesia.
Skema hitam putih dengan kontras tajam
Kombinasi hitam putih dengan kontras tinggi yang dulu terlihat tegas kini mulai terasa terlalu keras. Desainer menyarankan pendekatan kontras lembut dan berlapis.
Hitam dan putih tetap bisa digunakan, namun dengan gradasi dan material yang lebih halus. Hasilnya adalah ruangan yang tetap modern tanpa terasa dingin.
Perubahan tren dekorasi di 2026 menunjukkan bahwa rumah bukan lagi soal mengikuti gaya sesaat. Desain yang hangat, personal, dan cocok dengan kehidupan sehari-hari kini menjadi prioritas.
Setelah meninggalkan konsep yang cepat usang dan beralih ke pendekatan yang lebih manusiawi, hunian akan terasa nyaman dalam jangka panjang. Inilah saat yang tepat menjadikan rumah sebagai cerminan diri, bukan sekadar tampilan visual.
Selanjutnya: Rekor! Harga Emas Antam Hari Ini (23/1): Naik Rp 90.000 ke Rp 2,88 Juta Per Gram
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News