M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

Efek dari Potensi Kebijakan AS di Era Kedua Presiden Trump

Reporter: Danielisa Putriadita  |  Editor: Danielisa Putriadita


MOMSMONEY.ID - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyampaikan ulasan dan proyeksi kondisi pasar global dan domestik kala Donald Trump memimpin Amerika Serikat. 

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income MAMI, menyampaikan dalam keterangan tertulis, jika di periode pertama kepemimpinan Trump diwarnai dengan beragam kebijakan yang tidak terduga, drastis, hingga dianggap emosional, situasi tersebut bisa  menyebabkan guncangan di pasar finansial, stabilitas nilai tukar, serta hubungan dagang internasional.

Di era tersebut, beberapa kebijakan yang muncul adalah penurunan pajak dan kebijakan proteksionisme tidak mampu meningkatkan pertumbuhan serta tak terlalu memicu inflasi. Siklus ekonomi yang justru memengaruhi angka inflasi dan arah suku bunga.

Pasar global dan Asia

Ezra mengatakan, di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi kebijakan-kebijakan AS ke depan, potensi pemangkasan suku bunga di 2025 tidak berubah.

Diperkirakan perekonomian global akan memasuki siklus moderasi pertumbuhan dan pelandaian inflasi, sehingga penurunan suku bunga dapat berlanjut. 

Dampak kebijakan Trump terhadap inflasi dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS sepertinya belum akan terjadi di tahun depan sehingga The Fed masih punya peluang untuk melanjutkan pemangkasan Fed Funds Rate (FFR).

Saat ini, besaran pemangkasan FFR memang lebih konservatif, namun ekspektasi pasar akan selalu dinamis mengikuti data dan sentimen terbaru yang muncul.

Kawasan Asia sendiri menurut Ezra punya beberapa peluang yang dapat dioptimalkan di tengah outlook kondisi yang menantang seperti pada era perang dagang AS – China 2018 di mana banyak perusahaan multinasional menerapkan strategi China +1 dan Friendshoring.

Solusi ini dinilai cukup berhasil menghadapi ketatnya kebijakan AS saat itu dan kebijakan serupa sangat terbuka diterapkan di 2025. ASEAN dan India sebenarnya diuntungkan dari kondisi tersebut, seiring biaya produksi yang kompetitif dan keterbukaan pemerintah terhadap investasi asing.

Baca Juga: Platform Lokasi Bantu Pengusaha Cari Tempat Bisnis Lebih Mudah

Pasar domestik

Ezra melanjutkan, Indonesia sendiri tak luput dari tantangan global tersebut, oleh karena itu perlu dukungan dari sisi fiskal untuk mengawal pertumbuhan ekonomi di 2025 dalam upayanya menjaga stabilitas rupiah dan potensi pelemahan ekspor imbas dari kebijakan tarif AS.

Di tahun depan, BI diperkirakan akan berhati-hati melanjutkan pemangkasan suku bunga dengan tetap berfokus pada upaya stabilisasi nilai tukar. 

Namun dari sisi yang lain, perang tarif ini berpotensi memicu peningkatan Foreign Direct Investment (FDI) ke Indonesia.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, terjadi peningkatan kontribusi FDI China dan Hong Kong dari 17% dari total FDI Indonesia di 2016 menjadi 28% di 2023.

Menilik data terkini, komitmen investasi di sektor teknologi tinggi (AI, baterai EV, carbon capture) juga menggembirakan dan diharapkan mendukung pengembangan industri domestik dan memberi nilai tambah lebih.

Berbicara tentang perekonomian, upaya perbaikan konsumsi dan daya beli menjadi fokus utama, terlebih ekonomi Indonesia yang berorientasi domestik mampu menjadi tameng terhadap risiko perlambatan ekonomi global.

Kebijakan pemerintah untuk mendorong konsumsi dapat menjadi penopang pertumbuhan ekonomi 2025.

Selanjutnya, jika angka inflasi domestik masih rendah potensi pemangkasan BI Rate sangat terbuka, peluang ini diperkirakan mampu membawa efek positif bagi aset finansial salah satunya instrumen obligasi.

Baca Juga: Ada Potensi January Effect, Cek Arah IHSG & Rekomendasi Saham Awal 2025

Pasar obligasi

Ezra juga menjelaskan bahwa di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini, memilih strategi defensif menjadi salah satu opsi menarik sehingga berinvestasi di pasar obligasi menjadi sangat ideal untuk tujuan tersebut. Kelas aset obligasi menawarkan stabilitas lebih dari pembayaran kupon berkala.

Lalu secara historis kelas aset obligasi juga mampu bekerja optimal di era pemangkasan suku bunga sehingga menawarkan potensi capital gain. Investor bisa berinvestasi pada beberapa obligasi sekaligus untuk tujuan diversifikasi risiko.

Sebagai penutup, Ezra berpendapat bahwa Indonesia masih menjadi salah satu negara berkembang yang menawarkan imbal hasil menarik.

Namun dalam jangka pendek volatilitas rupiah masih menjadi tantangan terbesar, walau dalam jangka panjang kebijakan fiskal AS akan membuat defisit fiskal melebar, menciptakan iklim negatif bagi mata uang USD, bertolak belakang dengan Indonesia yang diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan disiplin fiskal.

Ezra memperkirakan BI Rate tahun depan akan berada di kisaran 5,00% – 5,25% kemudian imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10Y di sekitar 6,00% - 6,25%.

Pasar saham

Beralih ke pasar saham, peluang jangka panjangnya sangat menarik jika melihat rasio PE forward 12m di kisaran 12,1x yang berada di bawah rata-rata 5 tahunnya di 14,8x.

Namun, dalam jangka pendek potensi volatilitasnya sangat tinggi imbas dari kebijakan-kebijakan Amerika-sentris yang memengaruhi banyak faktor: mulai dari perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global hingga nilai tukar mata uang dolar AS.

Melihat tantangan makroekonomi yang tangguh, investor saham bisa melirik sektor-sektor domestik-sentris, terutama sektor yang berpeluang diuntungkan oleh kebijakan-kebijakan Presiden Prabowo untuk menopang daya beli masyarakat.

Strategi Reksadana Saham MAMI sendiri pun akan fokus pada emiten-emiten yang menurut analisis masih memiliki potensi pertumbuhan earnings di kondisi seperti saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Solusi Lapar Cepat! Bakmi GM Hadirkan Promo Super Hemat di ShopeeFood & GoFood

Mau makan Bakmi GM hemat dan praktis? Ada paket berdua di ShopeeFood dan GoFood mulai Rp30 ribuan per orang. Cek jam promonya!

IHSG Ada Peluang Rebound, Ini Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa Sekuritas (23/6)

IHSG berpeluang mengalami rebound pada perdagangan Selasa (23/6/2026)​. Cek rekomendasi saham dari BRI Danareksa Sekuritas untuk hari ini.

IHSG Rawan Terkoreksi, Simak Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas (23/6)

IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa (23/6/2026).​ Simak rekomendasi saham dari MNC Sekuritas untuk hari ini.

IHSG Diproyeksi Lanjut Melemah, Cek Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas (23/6)

IHSG berpeluang melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (23/6/2026).​ Berikut rekomendasi saham dari BNI Sekuritas untuk hari ini.

Promo Pizza Hut & PHD Tiap Selasa: QU4RTZA Rp 99 Ribu, Hemat Besar Porsi Keluarga

Membeli QU4RTZA Pizza seharga Rp99 ribu di Pizza Hut/PHD setiap Selasa bisa untung banyak. Cek periode promo dan cara pesan agar tak ketinggalan!

Sunscreen Mulai 20 Ribuan: SPF Tinggi, Lindungi Kulit dari UV Ekstrem

Sunscreen SPF tinggi tak perlu mahal. Cek 5 rekomendasi mulai Rp20 ribuan yang ampuh lindungi kulit dan bikin glowing seharian.

Gejala Asam Urat: 7 Sinyal Tubuh Ini Selamatkan Sendi dari Kerusakan

Gejala asam urat sering muncul tanpa peringatan, bahkan kulit mengelupas. Pahami pemicu dan tips pencegahannya agar bebas dari kekambuhan. 

Promo Krispy Kreme Terbaru: Beli 1 Lusin Gratis 1, Untung Besar 3 Hari

Donat Krispy Kreme tawarkan 2 lusin dengan harga hemat. Temukan cara mendapatkan diskon fantastis ini sebelum promonya berakhir dalam 3 hari.

HP 2 Jutaan: Redmi Note 15 Pro Punya Kamera 200MP & Fitur AI Canggih

HP 2 jutaan ini dijuluki Titan Tough dengan Gorilla Glass Victus 2 dan IP68. Ketahui fitur lengkapnya sebelum memutuskan beli.

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Ini Ciri-Ciri Petugas yang Wajib Anda Kenali

Sensus Ekonomi 2026 dimulai serentak. Kenali ciri petugas resmi yang sah agar partisipasi Anda aman dan data tidak disalahgunakan.