MOMSMONEY.ID - PT Graha Layar Prima Tbk (CGV Cinemas Indonesia) kembali memunculkan CGV Arthouse untuk memutar film alternatif di Indonesia.
CGV Arthouse mulai beroperasi pada Sabtu (29/8) di Auditorium 1 CGV fX Sudirman, Jakarta. Ruang ini disiapkan untuk menayangkan film alternatif, film independen, dokumenter, film klasik, hingga karya internasional yang tidak selalu masuk dalam jaringan pemutaran bioskop reguler.
Kehadiran kembali Art House ini sekaligus menjadi upaya CGV merespons meningkatnya minat terhadap film non-mainstream dan aktivitas komunitas film. Head of Programming CGV Indonesia Lulu Fahrullah mengatakan, kebutuhan terhadap ruang pemutaran semacam ini tidak hanya datang dari pembuat film, tetapi juga dari penonton yang ingin menikmati film di luar judul-judul komersial.
"Jadi, tidak hanya mainstream movie, kami juga sangat fokus kepada film-film yang punya kualitas dan juga bisa berdialog," ujar Lulu kepada media, Jumat (28/9).
Menurut dia, film festival, film pendek, serta film dokumenter termasuk jenis karya yang berpotensi masuk dalam program Art House. Setelah pemutaran, CGV juga membuka kemungkinan menghadirkan sesi diskusi atau cinema talk agar penonton dapat berdialog mengenai film yang telah disaksikan.
Baca Juga: Tayang di Bioskop 8 Oktober, Film Hasut Rilis Teaser Trailer & Poster
Mengandalkan sistem kurasi
Berbeda dari pemutaran film reguler yang lebih berorientasi pada pasar, program Art House akan menggunakan sistem kurasi. Lulu menjelaskan, CGV memiliki tim internal yang bertugas menilai dan memilih film yang dinilai sesuai untuk masuk ke dalam program tersebut.
Salah satu pertimbangannya adalah rekam jejak film di festival dan apresiasi kritikus. Film yang memperoleh pengakuan di festival internasional menjadi salah satu kategori yang dapat dipertimbangkan.
Di sisi lain, CGV juga ingin memberikan ruang lebih besar bagi film Indonesia yang memiliki kiprah di festival internasional maupun karya dari sineas muda.
"Kita juga pengen ngasih ruang untuk film-film muda, filmmaker muda untuk berkontribusi. Film-film pendek, misalnya," kata Lulu.
Ke depan, proses pencarian film juga tidak hanya mengandalkan film yang sudah tersedia melalui mitra CGV. Perusahaan berencana menjalin komunikasi dengan komunitas film dan universitas yang memiliki program perfilman untuk menjaring karya yang berpotensi ditayangkan.
Namun, proses tersebut tidak serta-merta membuat seluruh film yang diajukan bisa masuk layar. Karya yang diperoleh tetap akan ditonton dan diseleksi berdasarkan kriteria kurasi sebelum diprogramkan.
Baca Juga: Daftar Film Studio Ghibli di Netflix, Bisa Ditonton Bareng Anak Semua
Film berganti setiap pekan
Untuk tahap awal, pemrograman CGV Arthouse dilakukan secara mingguan. Artinya, CGV akan memilih satu film yang dianggap representatif untuk program tersebut, kemudian menggantinya dengan judul lain pada pekan berikutnya.
Pada tahap awal, rencana pemutaran adalah dua pertunjukan per hari. Untuk hari kerja, jadwal diarahkan ke sore hingga jam prime time, sedangkan pada akhir pekan pemutaran lebih ditempatkan sejak siang hari.
Jumlah pertunjukan juga masih dapat disesuaikan dengan permintaan penonton. Jika sebuah film mendapatkan respons tinggi, CGV membuka kemungkinan menambah frekuensi pertunjukan.
Konsepnya juga dibuat khusus di satu auditorium. Auditorium 1 CGV fX Sudirman didedikasikan sebagai ruang Art House, sehingga program pemutaran dan kegiatan pendukungnya akan berlangsung di auditorium tersebut.
Untuk jangka panjang, CGV menyiapkan rencana membuat filmmaker talks, kolaborasi dengan universitas serta kerja sama dengan studio dan rumah produksi hingga mengadakan kompetisi film.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Film Persahabatan Menyentuh Cocok Ditonton Bareng Bestie
Soal sensor film
Salah satu isu yang muncul dalam sesi tanya jawab adalah kemungkinan film Arthouse berisi materi yang berpotensi terkena pemotongan sensor.
Lulu mengatakan, proses seleksi akan dilakukan sejak tahap kurasi. CGV terlebih dahulu melihat konten dan aspek artistik film, kemudian memilih karya yang dinilai memenuhi kriteria untuk diproses lebih lanjut.
Sementara itu, Festival Director Jakarta World Cinema Shandy Gasla menegaskan bahwa pemutaran film di ruang publik Indonesia tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku, termasuk terkait Surat Tanda Lulus Sensor (STLS).
Menurut Sandy, film festival pun tetap menghadapi ketentuan tersebut. Ia mencontohkan, dalam pelaksanaan festival sebelumnya terdapat film yang tidak dapat ditayangkan karena persoalan sensor.
Karena itu, kehadiran Arthouse tidak berarti film akan terbebas dari ketentuan sensor. Film yang akan diputar tetap harus melalui proses sesuai aturan yang berlaku di Indonesia.
Baca Juga: Canggih, Film dan Drakor Ini Tampilkan Teknologi Kloning Manusia pada Ceritanya
Tiga film pembuka
Pada periode awal operasional, CGV Arthouse menyiapkan sejumlah film internasional. Salah satunya Sentimental Value, yang dijadwalkan tayang 28 Agustus hingga 8 September 2026. Film ini tercatat meraih sejumlah penghargaan pada 2026, termasuk Best International Feature Film pada Academy Awards ke-98.
Setelah itu, CGV menjadwalkan MONSTER karya sutradara Hirokazu Kore-eda pada 9-15 September 2026, disusul Peanut Butter Falcon pada 16-22 September 2026.
Untuk harga tiket, CGV membanderol Rp 35.000 untuk hari Senin-Kamis, Rp 40.000 pada hari Jumat dan Rp 45.000 pada akhir pekan.
Dengan model tersebut, CGV Arthouse pada tahap awal tidak hanya menjadi kanal tambahan bagi CGV untuk menayangkan film alternatif. Program ini juga menjadi ruang baru bagi karya yang memiliki jalur distribusi lebih terbatas, terutama film independen, dokumenter, film pendek, dan karya lokal yang berpotensi menjangkau penonton bioskop.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News