MOMSMONEY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memperkirakan, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal.
Sebanyak 437 zona musim (ZOM) atau 48,77% dari total luas daratan Indonesia menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang.
BMKG memprediksikan, fenomena El Niño akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027, dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat.
Potensi kekeringan ini bisa semakin diperparah dengan potensi aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode September hingga Desember 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pihaknya memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah prioritas Indonesia.
Sekaligus, menggalang respons cepat dan terintegrasi dari seluruh pihak guna mengantisipasi lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
“BMKG mengambil langkah proaktif dengan memperkuat dan memperluas OMC sebagai bentuk komitmen mitigasi bencana hidrometeorologi secara terpadu di Indonesia,” kata Faisal dalam siaran pers Kamis (30/7).
Baca Juga: Update BMKG: Peluang Intensitas El Nino 75% dengan Kategori Sangat Kuat, Ini Efeknya
Hingga pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat, sebanyak 509 ZOM atau sekitar 54,5% dari total luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Sementara 77 ZOM (11,8%) masih mengalami musim hujan dan 113 ZOM (33,7%) berada di area tipe satu musim.
BMKG memproyeksikan, puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus yang melingkupi 48,84% wilayah serta September mencakup 25,41% wilayah daratan.
Saat ini, sejumlah wilayah mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek hingga panjang. HTH terpanjang selama 80 hari terjadi PRH Katerban, Purworejo, Jawa Tengah.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, hasil pemantauan BMKG pada akhir Juni mencatat indeks bulanan Niño 3.4 telah menembus angka 1,56.
Ini mengindikasikan, intensitas El Niño telah melampaui ambang batas (threshold) kategori kuat (>1,5).
Selain itu, kondisi suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang saat ini masih berada di angka -0,387, menunjukkan peluang signifikan terhadap pemunculan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News