MOMSMONEY.ID - Lonjakan harga minyak dunia kembali memberi tekanan pada aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Pada perdagangan Rabu (8/7), menurut data Bloomberg, harga minyak mentah Brent berada di sekitar US$ 76 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah dipicu keputusan Amerika Serikat mencabut izin ekspor minyak Iran, setelah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Kebijakan ini sebagai respons langsung atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Pasar energi langsung bereaksi dengan lonjakan pembelian kontrak berjangka dan meningkatnya volatilitas harga komoditas. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran inflasi global kembali meningkat.
Di saat yang sama, harga Bitcoin bergerak di zona merah. Mengutip CoinMarketCap, Bitcoin diperdagangkan di level US$ 62.034 per koin pada Rabu (8/7) pukul 19.55 WIB. Dalam 24 jam terakhir, raja aset kripto ini sudah melorot 2,13%.
Baca Juga: Peringkat Harga Buyback Emas 8 Juli 2026, Siapa yang Tertinggi?
Crypto Analyst Reku, Andri Fauzan, mengatakan kenaikan harga energi dapat mempersulit upaya bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk memangkas suku bunga. Kalau inflasi naik, peluang The Fed memangkas suku bunga semakin kecil, bahkan bisa berbalik arah.
"Ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi lebih lama, aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin biasanya menjadi yang pertama mengalami tekanan," ujarnya mengutip siaran pers, Rabu (8/7).
Rotasi ke emas
Sepanjang tahun berjalan, harga Bitcoin sudah terpangkas 29,20%. Sementara, harga emas global bergerak di kisaran US$ 4.140 hingga US$ 4.190 per troi ons. Di Indonesia, harga emas Antam bertahan di sekitar Rp 2.670.000 per gram.
Divergensi pergerakan dua aset ini menarik perhatian pelaku pasar global, termasuk Peter Brandt, trader veteran dengan pengalaman lebih dari empat dekade. Brandt secara terbuka menyatakan di akun X bahwa ia mempertimbangkan menjual sebagian kepemilikan Bitcoin dan mengalihkannya ke emas. Pernyataan dari figur yang dikenal disiplin dan jarang beropini tanpa dasar ini memperkuat diskusi soal rotasi modal dari kripto ke emas yang sedang terjadi di pasar.
Baca Juga: Gejolak Timur Tengah dan The Fed, Begini Nasib Harga Emas Selanjutnya!
Dari sisi teknikal, kata Andri, rasio perbandingan harga emas terhadap Bitcoin sedang menguji level resistance jangka panjang yang sudah bertahan sejak 2011. Jika level ini berhasil ditembus ke atas, itu bisa menjadi sinyal bahwa rotasi modal dari kripto ke emas sedang berlangsung dalam skala yang lebih serius.
Menurutnya, investor perlu mencermati area US$ 60.000-US$ 62.000 sebagai level penting bagi Bitcoin. Jika harga turun dan bertahan di bawah area tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut.
Data makro AS yang akan dirilis dalam waktu dekat, termasuk data inflasi dan laporan ketenagakerjaan, akan menentukan seberapa lama premi risiko di pasar komoditas dan aset berisiko tetap tinggi.
Oleh karena itu, investor tidak terburu-buru menambah eksposur pada aset kripto. Andri menyarankan diversifikasi portofolio menjadi langkah yang lebih bijak untuk menghadapi kondisi pasar saat ini.
"Alokasi ke aset yang lebih defensif seperti emas patut dipertimbangkan. Bagi investor yang ingin tetap berada di ekosistem kripto, aset digital berbasis emas seperti PAXG dan XAUT juga bisa menjadi alternatif," sarannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News