MOMSMONEY.ID - Setelah sempat tertekan sejak akhir Oktober, harga Bitcoin kembali menguat dan sempat menembus level US$ 80.000 dalam 24 jam terakhir.
Mengutip data CoinMarketCap, Bitcoin diperdagangkan di rentang US$ 78.110 hingga US$ 81.079 dalam 24 jam terakhir. Hingga Kamis (5/11) pukul 21.17 WIB kripto pemegang kapitalisasi pasar terbesar ini dibanderol US$ 79.499.
Sehari sebelumnya, Bitcoin sempat tergelincir hingga ke level US$ 75.709.
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menilai penguatan tersebut menjadi sinyal mulai pulihnya minat pelaku pasar setelah melewati periode ketidakpastian. Penguatan ini menjadi perkembangan positif karena menunjukkan pasar mulai merespons kejelasan situasi global.
"Tetapi kenaikan dalam satu atau dua hari belum cukup untuk memastikan arah pasar dalam jangka panjang. Investor tetap perlu memperhatikan likuiditas dan perkembangan data ekonomi,” kata Aloysia mengutip siaran pers, Kamis (5/11).
Secara global, penguatan Bitcoin berlangsung seiring pasar mencermati hasil midterm election atawa pemilihan sela di Amerika Serikat. Perubahan komposisi politik setelah kemenangan Partai Demokrat AS menjadi perhatian pelaku pasar dalam menilai proses pembahasan dan arah kebijakan ekonomi serta regulasi ke depan.
Pasar juga mencoba menaksir dampak perkembangan politik tersebut terhadap inflasi, suku bunga, serta minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Namun, menurut Aloysia, dampaknya tidak serta merta berarti menghilangkan seluruh risiko, sehingga perkembangan kebijakan dan volatilitas pasar tetap perlu dicermati.
Di sisi regulasi, pembahasan regulasi aset kripto di AS turut menjadi perhatian. Salah satunya, CLARITY Act, termasuk usulan perluasan peran pengawasan Securities and Exchange Commission (SEC) dan penguatan perlindungan investor. Usulan tersebut masih tahap pembahasan, sehingga bentuk akhir aturan dan implikasinya belum dapat dipastikan.
Agenda ekonomi AS berikutnya yang ditunggu pelaku pasar adalah laporan ketenagakerjaan. Data ini dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed dan selanjutnya turut menentukan minat investor terhadap aset berisiko.
Investor kripto Indonesia tembus 23,48 juta
Di tengah dinamika pasar global, ekosistem kripto di Indonesia terus berkembang. Berdasarkan data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor kripto mencapai 23,48 juta pada September 2026, tumbuh sekitar 1,16%.
Nilai transaksi kripto pada September sebesar Rp 30,56 triliun, meningkat sekitar 31,95% dibandingkan bulan sebelumnya.
Indodax mencatat, OJK juga mendorong pengembangan aset keuangan digital dan kripto syariah yang dapat memberikan manfaat ekonomi nyata dan memperkuat kepercayaan masyarakat. Pengembangannya perlu disertai transparansi transaksi, tata kelola, pengawasan, serta penguatan literasi dan perlindungan konsumen.
Menurut Aloysia, peningkatan aktivitas pasar perlu diimbangi dengan literasi agar konsumen dapat menyikapi pemulihan harga secara terukur dan rasional.
Momentum pemulihan sebaiknya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi, bukan alasan mengambil keputusan karena takut tertinggal alias FOMO. Investor perlu melakukan riset mandiri, memahami aset yang dipilih, dan mengatur alokasi sesuai kemampuan menanggung risiko.
Bagi investor, Aloysia menyebut, pembelian berkala atau investasi rutin dapat menjadi pilihan untuk menjaga disiplin investasi, dengan alokasi sesuai kondisi finansial dan kemampuan manajemen risiko. "Gunakan dana di luar kebutuhan pokok dan dana darurat, serta lakukan riset mandiri sebelum berinvestasi," sarannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News