M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

Bitcoin cs Sensitif terhadap Data Inflasi AS, Ini Dua Skenario Nasib Kripto

Bitcoin cs Sensitif terhadap Data Inflasi AS, Ini Dua Skenario Nasib Kripto
Reporter: Dupla Kartini  |  Editor: Dupla Kartini


MOMSMONEY.ID - Laju inflasi di Amerika Serikat (AS) menekan kinerja aset berisiko di pasar global, termasuk aset kripto.

Data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, indikator inflasi favorit The Fed naik 3,8% secara tahunan pada April 2026, lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 3,5%. Core PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, juga meningkat ke 3,3%. Ini salah satu level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir, dan memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari ekspektasi pasar.

Fahmi Almuttaqin, Crypto Analyst Reku, menilai data ini langsung mempengaruhi sentimen investor global. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kini semakin mundur, sementara yield obligasi pemerintah AS naik.

"Kombinasi inflasi tinggi, dinamika geopolitik di Timur Tengah, dan dampak tarif perdagangan baru AS, mulai menciptakan tekanan besar terhadap aset-aset berisiko, termasuk saham teknologi dan pasar kripto," ujar Fahmi mengutip siaran pers, Jumat (29/5). 

Baca Juga: Harga Emas Global Naik Dua Hari, Mengapa Perjanjian AS-Iran jadi Kunci?

Mengutip coinmarketcap.com, Jumat (29/5), CMC Crypto Fear and Greed Index berada di level 33, yang mencerminkan psikologis investor sedang cemas atau fear. Harga Bitcoin tergelincir di sekitar US$ 73.300. Padahal, belum lama ini masih di area atas US$ 80.000.

Struktur pasar kripto berbeda dari siklus sebelumnya

Namun, Fahmi menilai, dinamika yang terjadi di pasar kripto saat ini memiliki karakteristik unik. Berbeda dari siklus sebelumnya yang didominasi investor ritel, reli kripto kini semakin digerakkan institusi besar.

Arus dana ETF Bitcoin spot, pertumbuhan stablecoin, serta meningkatnya integrasi aset digital ke sistem keuangan tradisional, mulai mengubah struktur pasar kripto secara fundamental. Bitcoin kini semakin dipandang sebagai aset makro dibanding sekadar instrumen spekulatif.

Dalam jangka pendek, inflasi tinggi dan suku bunga ketat memang dapat memicu volatilitas. "Namun di sisi lain, kekhawatiran terhadap pelemahan daya beli dollar AS secara jangka panjang, utang pemerintah AS yang terus membengkak, dan ketidakpastian geopolitik, justru memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai alternatif," jelas Fahmi.

Baca Juga: Perjalanan Uang dari Zaman Barter hingga Bitcoin, yuk Pahami Sistem Keuangan Dunia

Beberapa aset kripto lain juga mulai menonjol karena memiliki katalis struktural yang kuat. Misalnya, Solana mendapat perhatian besar berkat pertumbuhan ekosistem stablecoin dan aktivitas perdagangan on-chain yang meningkat tajam. Ethereum tetap menjadi tulang punggung infrastruktur tokenisasi aset dunia nyata dan stablecoin global.

Sementara proyek-proyek di persimpangan AI dan kripto seperti Near dan Bittensor, serta proyek strategis dan inovatif seperti Sui, dan Hyperliquid mulai menarik perhatian investor institusional sebagai representasi infrastruktur internet generasi berikutnya.

Dua skenario ke depan

Menurut Fahmi, pasar aset kripto tetap berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap data ekonomi AS.

Dia memaparkan dua skenario yang sama-sama terbuka. Jika inflasi terus bertahan tinggi dan The Fed mempertahankan kebijakan hawkish lebih lama, pasar saham dan kripto dapat mengalami fase koreksi lanjutan akibat tekanan likuiditas global.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Jumat (29/5) Naik Rp 20.000 Jadi Rp 2.774.000

Sebaliknya, jika inflasi mulai melandai dalam beberapa bulan ke depan, pasar berpotensi memasuki fase ekspansi baru yang didorong kombinasi AI boom, adopsi kripto institusional, dan ekspektasi pelonggaran moneter.

Bagi investor Indonesia, kondisi ini menjadi pengingat bahwa pasar global kini semakin saling terhubung. Pergerakan rupiah, yield obligasi AS, inflasi Amerika, saham teknologi Wall Street, hingga harga Bitcoin, kini bergerak dalam satu ekosistem makro yang sama.

"Dalam fase seperti ini, disiplin manajemen risiko dan kemampuan membaca perubahan arus likuiditas global menjadi faktor yang jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren pasar jangka pendek," tukas Fahmi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Tidak Boleh Asal, Ini 5 Cara Merawat Botol Parfum agar Aromanya Tahan Lama

Membeli parfum mahal ternyata belum tentu menjamin aroma awet. Simpan botol parfum di tempat gelap dan stabil suhunya.

Pilih Bra Biasa atau Sport Bra? Ketahui 4 Perbedaannya Sebelum Beli

Bingung mau beli bra biasa atau sport bra? Sebelum beli, ketahui dulu 4 perbedaan sport bra dan bra biasa ini.

Prediksi Belanda vs Swedia Piala Dunia 2026: Duel Sengit Dua Tim Serang

Minggu, 21 Juni 2026, dini hari WIB. Pertandingan krusial Belanda vs Swedia akan sajikan duel taktik dan kualitas pemain. Jangan sapai terlewat.

Prediksi Jerman vs Pantai Gading (21/6): Perebutan Puncak Grup E

Pantai Gading punya kecepatan, Jerman punya lini serang mematikan. Siapa yang akan menang di Toronto Stadium? Cek prediksinya!  

Fitur Baru WhatsApp Android Tingkatkan Interaksi, Tak Perlu Repot Lagi

Jangan lewatkan update WhatsApp Android yang paling ditunggu. Menu pesan baru ini hadirkan tampilan segar dan interaksi lebih intuitif. 

HP Samsung Terbaru: Fitur Kamera S25 Ultra Unggul Jauh dari Seri Lain

Mencari HP Samsung terbaik? Galaxy S25 Ultra hadir dengan Snapdragon 8 Elite, namun ada kejutan di seri S25 & A35. Simak perbandingannya!

Kesehatan Anak Optimal: 7 Manfaat Labu Siam untuk MPASI, Kunci Tingkatkan Imun

Penting memberikan MPASI dengan nutrisi penting. Labu siam murah meriah ini bisa jadi solusi cegah obesitas dan tingkatkan imunitas anak.

Tablet Mini Terbaik: Ukuran Kecil, Performa Juara di 2026

Jangan salah pilih tablet mini. Huawei MatePad Mini dirilis dengan M-Pencil Pro dan layar OLED tajam. Lihat perbandingannya dengan tablet lain!

DBD Bukan Hanya Urusan Anak, Dokter Internist Desak Orang Dewasa Segera Vaksinasi

PAPDI desak vaksinasi DBD untuk dewasa 18–60 tahun karena komorbiditas perbesar risiko komplikasi hingga 7 kali lipat  

12 Daftar Makanan dan Minuman yang Mengandung Kalori Tinggi

Intip beberapa daftar makanan dan minuman yang mengandung kalori tinggi berikut ini, yuk!