MOMSMONEY.ID - Pakaian bekas yang sudah tidak layak digunakan seringkali menjadi persoalan ketika masyarakat tidak mengetahui cara mengelolanya. Situasi tersebut pernah dialami pendiri Daur Kain, Meizy Paricara yang mendorongnya mencari cara agar sampah tekstil tidak sekadar berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Sebelum merintis Daur Kain di Sukabumi, dia pernah bekerja di industri pengelolaan sampah dan menjalani kegiatan sebagai perajin atau crafter. Saat itu, dia kerap menerima sisa kain dari penjahit untuk diolah menjadi kerajinan.
Persoalan muncul ketika jumlah kain sisa yang diterima semakin banyak, tetapi petugas kebersihan di kompleks tempat tinggalnya tidak menerima sampah tekstil tersebut.
Pengalaman itu mendorongnya melakukan riset mengenai berbagai kemungkinan pengolahan sampah tekstil selama hampir dua tahun. Dari proses tersebut, Daur Kain kemudian terbentuk pada Mei 2026 sebagai fasilitas pengelolaan sampah tekstil, bukan sekadar tempat jual-beli pakaian bekas maupun bank sampah.
Dalam lima bulan pertama operasionalnya, Daur Kain telah menerima sekitar enam ton sampah tekstil dari berbagai daerah di Indonesia. Kiriman terbanyak berasal dari rumah tangga, meski ada pula sampah yang dikirim perusahaan, merek, dan lembaga donasi.
"Setelah sekitar 500 kilogram sampah tekstil terkumpul, baru saya bisa mengidentifikasi material itu bisa dijadikan apa," cerita Meizy kepada Kontan beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Jangan Asal Checkout! Ini Tips Belanja Baju agar Tak Menambah Sampah Tekstil
Mengolah tekstil bukan perkara sederhana
Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah tekstil adalah proses penyortiran. Berbeda dengan anggapan bahwa pakaian bekas bisa langsung diubah menjadi keset, tekstil memiliki karakteristik yang beragam dan tidak selalu bisa diproses dengan metode yang sama.
Satu pakaian bisa terdiri dari beberapa jenis bahan, termasuk serat kain, benang, kancing, karet, ritsleting, dan aksesori lainnya. Komponen nontekstil perlu dipisahkan sebelum kain dikelompokkan berdasarkan jenis seratnya.
Bahkan, dua pakaian yang terlihat serupa belum tentu memiliki bahan yang sama. Oleh karena itu, tim Daur Kain perlu mempelajari karakteristik material sekaligus mengikuti proses penyortiran yang telah ditentukan.
Saat ini, Daur Kain didukung delapan pekerja yang menangani proses tersebut. Meizy mengatakan, pengembangan ke depan tidak hanya berkaitan dengan mesin pengolahan, tetapi juga kemungkinan investasi pada peralatan penyortiran agar prosesnya lebih cepat.
Dari kain bekas menjadi material baru
Setelah melalui penyortiran, sampah tekstil diarahkan ke berbagai jenis pengolahan. Daur Kain telah mengembangkan sejumlah material, termasuk filter air berbahan karbon dari kain, lembaran tekstil kaku atau rigid textile sheet, daswol serta papan yang dapat digunakan sebagai panel.
Material tersebut bisa dibuat berdasarkan permintaan, termasuk ukuran dan ketebalannya. Pendekatan ini ditujukan untuk membuka peluang pemanfaatan tekstil bekas sebagai bahan baku produk baru.
Untuk filter air, Meizy menjelaskan bahwa produk tersebut dapat dicuci ulang selama komponen karbonnya masih berfungsi. Filter itu pernah diuji coba kepada masyarakat yang menghadapi masalah air keruh, minimalnya bisa digunakan untuk kebutuhan mandi.
Meski sudah menghasilkan beberapa material, tidak semua sampah tekstil yang diterima dapat langsung diolah. Meizy menyebut bahwa pengolahan masih berjalan bertahap karena proses penyortiran membutuhkan waktu dan fasilitas juga sempat mengalami keterbatasan kapasitas ruang.
Daur Kain kemudian mulai mengembangkan prototipe material dan menyesuaikan produksi dengan permintaan. Cara ini dilakukan agar hasil olahan tidak sekadar menjadi produk yang menarik secara visual, tetapi juga benar-benar dibutuhkan oleh pengguna.
Baca Juga: Jangan Asal Buang Baju Bekas, Ini 4 Cara Mengelolanya agar Tak Jadi Sampah
Mencari jalan agar hasil daur ulang terserap industri
Meizy bercerita tantangan berikutnya adalah memastikan hasil pengolahan bisa kembali masuk ke rantai produksi. Material daur ulang perlu memiliki kegunaan dan pasar yang jelas agar pengelolaan sampah bisa berjalan secara berkelanjutan.
"Kalau kita membuat fasilitas daur ulang, tetapi hasilnya tidak digunakan lagi atau tidak masuk ke rantai produksi, itu percuma," katanya.
Karena itu, Daur Kain lebih berfokus mengembangkan bahan baku yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lain, alih-alih hanya membuat produk akhir. Salah satu harapannya adalah material berbahan tekstil bekas dapat menjadi alternatif bagi bahan papan yang selama ini digunakan industri. Namun, setiap penyetor tidak wajib membeli produk akhir tersebut.
Dari sisi operasional, Daur Kain juga menerapkan biaya pengelolaan kepada penyetor. Tarif berdasarkan tiga layanan di antaranya daur umum sebesar Rp 10.000 per kilogram, pengelolaan tas sebesar RP 15.000 per kilogram, dan pengelolaan mix textile sebesar Rp 20.000 per kilogram. Biaya ini digunakan untuk mendukung proses pengelolaan, termasuk kebutuhan tenaga kerja dan fasilitas.
Baca Juga: Sadar Lemari Dorong Tanggung Jawab Masyarakat atas Limbah Pakaian
Namun, Meizy mengakui bahwa biaya pengelolaan dan hasil penjualan material belum sepenuhnya menutup biaya operasional. Daur Kain masih mengandalkan kontribusi masyarakat yang bersedia membayar layanan, sembari berupaya agar material hasil olahan dapat terserap pasar.
Di tengah tantangan tersebut, Meizy menilai perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi bagian penting dari penanganan sampah tekstil. Menurut dia, daur ulang seharusnya menjadi pilihan terakhir setelah pakaian tidak bisa lagi digunakan atau didonasikan.
Mengurangi pembelian pakaian yang tidak diperlukan dan memperpanjang masa pakai barang tetap menjadi langkah utama. Sementara itu, fasilitas pengelolaan diharapkan dapat menangani tekstil yang sudah tidak memiliki pilihan penggunaan kembali
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News