MOMSMONEY.ID - Demam berdarah dengue (DBD) bukan lagi penyakit yang hanya muncul saat musim hujan. Di Indonesia, risiko penularan virus dengue kini dapat terjadi sepanjang tahun, sehingga langkah pencegahan perlu dilakukan secara konsisten.
Selain mengancam kesehatan, dengue juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar bagi keluarga. Studi terbaru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan beban ekonomi akibat dengue di Indonesia pada 2024 mencapai hampir Rp 9 triliun, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap.
Temuan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Jakarta Dengue Forum (JDF) yang diselenggarakan PT Takeda Innovative Medicines bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang DKI Jakarta. Forum ini dihadiri lebih dari 300 tenaga kesehatan untuk memperkuat upaya pencegahan dengue di Indonesia.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), menjelaskan bahwa dampak dengue tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga seluruh anggota keluarga.
Menurutnya, ketika seorang anak harus dirawat akibat dengue, orang tua biasanya harus mendampingi di rumah sakit sehingga kehilangan waktu bekerja dan produktivitas menurun. Begitu pula jika orang tua yang sakit, aktivitas keluarga ikut terganggu.
"Dapat dikatakan bahwa selain biaya perawatan dan pengobatan yang harus dikeluarkan, dampak lain yang tidak tampak adalah terganggunya produktivitas; apalagi untuk pemulihan dari infeksi dengue perlu waktu yang cukup lama sekitar 1-2 minggu,” urai Prof. Sri dalam keterangan resmi yang diterima Selasa (21/7).
Baca Juga: Studi Ungkap Alasan Pekerja Ragu Vaksin Dengue, Apa Itu?
Disisi lain, studi terbaru dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK), Universitas Gadjah Mada (UGM), oleh Dr. Diah Ayu Puspandari, M.Kes, MBA, Apt., memaparkan total beban ekonomi akibat dengue di Indonesia.
Pada tahun 2024 angkanya bergerak sangat masif, yaitu US$ 550,9 juta atau hampir Rp 9 triliun. Diah menunjukkan studi terbaru pada 2024 menunjukkan kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya membebaskan pasien dari beban biaya.
Pasien JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri (out-of-pocket) rata-rata Rp1,1 sampai Rp 1,3 juta saat menghadapi sebuah periode sakit akibat dengue untuk kebutuhan nonmedis seperti transportasi dan akomodasi pendamping, di luar hilangnya produktivitas (termasuk kehilangan pendapatan). Sementara bagi pasien yang tidak memiliki asuransi, biayanya melonjak drastis hingga Rp 4,3 sampai Rp 5,6 juta karena seluruh biaya perawatan medis harus ditanggung sendiri.
Dari sisi intervensi medis, vaksinasi dengue banyak dibahas sebagai upaya pencegahan yang komprehensif. Prof. Dr. Jarir At Thobari, D.Pharm., Ph.D., Guru Besar dari Departemen Farmakologi dan Terapi, FK-KMK UGM, memaparkan implementasi vaksinasi dengue di Indonesia diproyeksi menurunkan kasus dengue. Baik bergejala ataupun rawat inap selama periode 20 tahun.
Dengan penerapan vaksinai, potensi pengurangan beban penyakit juga mencapai 1,1–1,3 juta DALY (Disability-Adjusted Life Years). Yaitu ukuran yang menggambarkan hilangnya tahun kehidupan sehat akibat penyakit, kecacatan, atau kematian dini.
Baca Juga: Miliaran Orang Beresiko Kena Demam Berdarah Dengue, Ini Solusinya
"Omplementasi vaksinasi dengue berpotensi menghasilkan penghematan biaya sebesar USD 329 sampai 731 juta, atau sekitar Rp 5,2 sampai Rp 11,5 triliun, selama 20 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa investasi pada pencegahan penyakit tidak hanya berpotensi meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan dalam jangka panjang,” jelas Prof. Jarir.
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines sangat prihatin melihat besarnya beban kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkan oleh dengue di Indonesia. Dirinya menyadari bahwa semua orang berisiko terjangkit virus dengue, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi berat yang berisiko fatal. Apalagi, dengue menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak di Indonesia.
"Takeda bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, sektor swasta, sektor pendidikan, masyarakat, media dalam mendukung upaya pencegahan dengue yang komprehensif," sebut Andreas.
Upaya yang dilakukan Takeda diwujudkan melalui edukasi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat, serta upaya perluasan akses terhadap pencegahan dengue yang inovatif, agar semakin banyak keluarga Indonesia dapat memahami risiko dengue dan mengambil langkah perlindungan sejak dini.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. Rismala Dewi, Sp.A(K), Ketua IDAI Jaya mendukung upaya pencegahan dengue yang lebih menyeluruh, khususnya melalui penguatan peran dokter anak dalam edukasi, deteksi dini, dan pendampingan keluarga. Katanya dengue masih menjadi tantangan kesehatan yang perlu kita hadapi bersama. Sebagai organisasi profesi, IDAI Jaya terus mendukung peningkatan pemahaman dan kapasitas tenaga kesehatan dalam pencegahan serta tata laksana dengue.
"Kami mengajak para dokter anak untuk terus berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada orang tua, mendorong deteksi dini, serta membantu keluarga memahami langkah-langkah perlindungan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko dan dampak dengue pada anak,” ujar Prof. Rismala.
Baca Juga: Promo Hypermart Weekday 21-23 Juli 2026, Beli 1 Gratis 1 Spikoe-Keju Mozzarella
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News