MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global cenderung stabil setelah mengalami turun mingguan terbesar sejak Juni. Pasar mempertimbangkan dampak perlambatan pasar tenaga kerja AS dan imbal hasil obligasi yang tinggi terhadap arah suku bunga Federal Reserve.
Mengutip Bloomberg, Senin (5/10), harga emas spot diperdagangkan naik tipis sekitar US$ 4 menjadi US$ 4.144,67 per troi ons pada pukul 13.08 WIB. Harga emas relatif stabil setelah turun 3,4% minggu lalu.
Menurut data yang dirilis Jumat, data non-farm payroll meningkat 29.000 pada September, di bawah semua perkiraan dalam survei ekonom Bloomberg. Hal itu mengurangi tekanan pada The Fed untuk segera menaikkan suku bunga demi mengekang inflasi yang sulit diatasi.
Pasar memperkirakan sekitar peluang 20% kenaikan suku bunga pada Oktober, turun dari 70% seminggu lalu. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mengurangi daya tarik logam mulia, yang tidak memberikan bunga.
Namun, tekanan inflasi belum hilang. Harga minyak Brent, patokan global, tetap di atas US$ 100 per barel, dan beberapa jangka waktu suku bunga mendekati level tertinggi lebih dari dua dekade. Menteri Keuangan Scott Bessent mengganggap sepele kekhawatiran atas tingginya suku bunga, dengan mengatakan bahwa biaya tersebut masih dalam batas wajar, sejalan dengan tren global.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp 4.000 Hari Ini (5/10), Buyback Tetap di Rp 2.386.000
Harga emas turun lebih dari 6% bulan lalu karena kekhawatiran atas inflasi yang dipicu oleh energi, prospek kenaikan suku bunga AS, dan penguatan dollar yang menyebabkan logam mulia lebih mahal bagi banyak pembeli.
Namun, ada kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Risalah rapat The Fed bulan September, di mana suku bunga dinaikkan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, akan dirlis pertengahan minggu ini, yang memberikan petunjuk tentang langkah selanjutnya.
Manav Modi, analis komoditas di Motilal Oswal Financial Services Ltd., mengatakan, pemulihan harga emas batangan masih terhambat oleh imbal hasil obligasi pemerintah yang tinggi, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun bertahan di sekitar 5,2%. Ini disebabkan inflasi tinggi yang terus-menerus, kekhawatiran fiskal dan pinjaman pemerintah yang besar terus menekan obligasi.
"Penguatan dollar AS juga menjadi hambatan lainnya," kata Modi mengutip Bloomberg, hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News