MOMSMONEY.ID - Usaha kopi tak selalu berjalan mulus. Kenali 5 penyebab coffee shop gagal di tahun pertama dan cara agar bisnis tetap bertahan.
Bisnis kopi masih jadi pilihan menarik bagi banyak orang yang ingin memulai usaha. Kedai kopi terus bermunculan dengan konsep yang beragam, mulai dari tempat sederhana untuk ngopi sampai coffee shop yang menawarkan ruang nyaman untuk bekerja dan berkumpul.
Meski terlihat menjanjikan, menjalankan usaha kopi ternyata tidak cukup hanya bermodal menu enak dan tempat yang instagramable.
Melansir dari OCBC, ada sejumlah persoalan yang perlu diperhitungkan sejak awal supaya bisnis tidak hanya ramai ketika baru buka, tetapi juga mampu bertahan setelah memasuki fase awal usaha.
“Memahami tantangan bisnis kopi sejak awal penting agar usaha tidak hanya ramai saat pembukaan, tetapi juga mampu bertahan dalam jangka panjang,” dikutip dari OCBC.
Baca Juga: Anak Minta Gawai Mahal untuk Sekolah? Begini Cara Orang Tua Menyikapinya
5 penyebab usaha kopi gagal di tahun pertama
Tahun pertama biasanya menjadi masa ketika pemilik masih mencari pola bisnis yang paling pas. Pelanggan belum sepenuhnya terbentuk, biaya operasional harus dikontrol, sementara persaingan dengan coffee shop lain terus berjalan.
Berikut beberapa penyebab yang patut diwaspadai.
1. Buka usaha tanpa persiapan matang
Melihat coffee shop ramai lalu ikut membuka usaha memang terlihat sederhana. Masalahnya, konsep yang hanya mengikuti tren belum tentu punya daya tarik untuk jangka panjang.
Sebelum membuka kedai, penting mengetahui siapa calon pelanggan, berapa harga yang sanggup mereka bayar, menu apa yang dibutuhkan, serta seperti apa persaingan di sekitar lokasi.
Konsep juga tidak harus mewah. Hal sederhana seperti menu khas, pelayanan cepat, suasana nyaman, atau harga yang sesuai target pasar bisa menjadi pembeda.
2. Salah memilih lokasi
Lokasi punya pengaruh besar terhadap jumlah pelanggan. Tempat yang sulit ditemukan, aksesnya kurang nyaman, atau ternyata tidak sesuai dengan target konsumen bisa membuat penjualan sulit berkembang.
Sebelum menyewa tempat, coba amati kondisi lokasi pada jam berbeda. Perhatikan lalu lintas orang dan kendaraan, akses parkir, lingkungan sekitar, sampai coffee shop yang sudah lebih dulu beroperasi.
Jangan hanya tergoda lokasi yang terlihat ramai. Pastikan orang-orang yang melintas memang merupakan calon pelanggan yang sesuai dengan konsep bisnis.
3. Operasional berantakan
Pelanggan mungkin datang karena penasaran, tetapi mereka akan kembali jika mendapatkan pengalaman yang memuaskan.
Masalah seperti rasa kopi yang berubah-ubah, pelayanan lambat, tempat kurang bersih, atau stok bahan baku yang tidak terkontrol bisa membuat pelanggan memilih tempat lain.
Karena itu, pemilik perlu membuat standar sederhana untuk resep, pelayanan, kebersihan, penyimpanan bahan, dan pengecekan stok. Langkah kecil ini bisa membantu menjaga kualitas sekaligus mengurangi pemborosan.
4. Tidak paham kondisi keuangan
Coffee shop yang ramai belum tentu menghasilkan keuntungan besar. Bisa saja omzet terlihat bagus, tetapi uang terus keluar untuk membayar sewa, gaji, bahan baku, listrik, perawatan, dan kebutuhan lainnya.
Tanpa pencatatan yang rapi, pemilik bisa kesulitan mengetahui apakah bisnis benar-benar untung atau sekadar berputar.
Minimal, pisahkan uang pribadi dan uang usaha. Catat pemasukan serta pengeluaran secara rutin dan hitung biaya operasional secara realistis sejak awal.
Baca Juga: 5 Keterampilan Charlie Munger untuk Meraih Financial Freedom yang Bisa Dicoba
5. Modal habis sebelum bisnis stabil
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah menghabiskan hampir seluruh modal untuk membuka coffee shop.
Renovasi, mesin kopi, furnitur, dekorasi, dan perlengkapan memang penting. Namun, bisnis baru tetap membutuhkan uang untuk membayar operasional ketika jumlah pelanggan belum stabil.
Karena itu, jangan hanya menghitung biaya untuk membuka toko. Siapkan pula dana operasional dan cadangan untuk menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Tips agar usaha kopi lebih siap bertahan
Memulai coffee shop tidak harus langsung besar. Yang lebih penting adalah memastikan setiap pengeluaran memiliki tujuan dan konsep bisnis sesuai dengan kondisi pasar.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Riset calon pelanggan dan kompetitor sebelum membuka usaha.
- Tentukan konsep yang jelas dan sesuai kemampuan modal.
- Pilih lokasi berdasarkan target pasar, bukan sekadar tempat yang ramai.
- Gunakan peralatan sesuai kebutuhan dan kapasitas penjualan.
- Susun menu yang tidak terlalu banyak tetapi tetap menarik.
- Pisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha.
- Sisihkan dana cadangan untuk menjaga arus kas.
- Evaluasi penjualan dan biaya secara rutin.
Mengatur modal Rp100 juta untuk usaha kopi
Modal Rp100 juta tidak otomatis membuat sebuah coffee shop aman dari risiko. Besarnya modal tetap perlu disesuaikan dengan harga sewa, kondisi tempat, peralatan, kebutuhan renovasi, dan biaya operasional di daerah masing-masing.
Daripada seluruh dana dihabiskan saat pembukaan, sebagian sebaiknya tetap disiapkan untuk modal kerja. Pos yang perlu diperhitungkan antara lain sewa, peralatan, renovasi, bahan baku, gaji, pemasaran, administrasi, dan dana cadangan.
Usaha kopi memang punya peluang, tetapi menjalankannya membutuhkan perhitungan yang lebih serius daripada sekadar mengikuti tren.
Persiapan yang kurang matang, lokasi yang keliru, operasional berantakan, keuangan yang tidak tercatat, serta modal tanpa cadangan bisa menjadi beban berat pada tahun pertama.
Kuncinya bukan membuat coffee shop terlihat paling ramai, melainkan membangun bisnis yang mampu mengontrol biaya, menjaga kualitas, memahami pelanggan, dan beradaptasi ketika kondisi pasar berubah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News