MOMSMONEY.ID - Memasuki tahun baru, resolusi sering menjadi momentum untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. Hal ini semakin relevan di tengah ketidakpastian ekonomi global di 2026.
Apalagi, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan tahun 2026 sebagai tahun yang rentan akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi, termasuk di Indonesia.
Dalam situasi ini, perencanaan keuangan yang disiplin menjadi kunci untuk menghadapi masa depan dengan lebih mantap.
Sejalan dengan hal tersebut, PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life), yang merupakan anggota IFG, BUMN holding asuransi, penjaminan, dan investasi, menekankan pentingnya kesiapan finansial sejak dini.
Baca Juga: 6 Resolusi Keuangan Keluarga di 2026 agar Sang Anak Lebih Siap Mengelola Uang
Gatot Haryadi, Corporate Secretary IFG Life, menyampaikan beberapa resolusi yang bisa dipertimbangkan untuk menyambut 2026, dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1), berikut ini.
Menabung di awal bulan
Meski terdengar klise, kebiasaan menabung tetap menjadi fondasi utama dalam perencanaan keuangan. Kunci dari kebiasaan ini bukan pada besar kecilnya jumlah, melainkan konsistensi.
Agar lebih efektif, kamu bisa coba untuk menabung di awal bulan. Begitu gaji diterima, sebagian dana bisa langsung dipindahkan ke rekening tabungan atau dialokasikan ke rekening dana nasabah (RDN) sebagai langkah awal berinvestasi.
Dengan cara ini, menabung menjadi bagian dari sistem keuangan, bukan sekadar niat baik di akhir bulan. Tabungan pun perlu dijadikan komponen tetap dalam anggaran dan perencanaan keuangan, sehingga tetap berjalan terlepas dari naik turunnya pengeluaran bulanan.
Evaluasi sebelum membeli
Resolusi tahun baru juga dapat dimulai dengan membangun kebiasaan belanja yang lebih mindful. Di era belanja online, proses pembelian yang serba cepat kerap membuat keputusan diambil secara impulsif.
Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah memberi jeda satu atau dua hari sebelum checkout, terutama untuk barang yang tidak mendesak.
Sebelum menyelesaikan transaksi, ajukan tiga pertanyaan dasar: apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah akan bermanfaat, dan apakah tersedia anggaran.
Kebiasaan ini membantu meningkatkan kesadaran dalam mengelola pengeluaran tanpa harus sepenuhnya menahan diri dari belanja.
Hati-hati dengan layanan langganan
Model layanan berbasis langganan semakin umum, dari aplikasi hingga hiburan digital. Tanpa disadari biaya kecil yang dibayar rutin dapat menggerus pendapatan bulanan, termasuk dari layanan yang sudah jarang digunakan.
Untuk menghindari kebocoran anggaran, kamu bisa mulai kebiasaan untuk melakukan pengecekan secara berkala terhadap layanan yang masih aktif di riwayat transaksi e-wallet atau kartu kredit.
Menggunakan satu alamat email khusus untuk layanan berbayar juga dapat membantu, sehingga lebih mudah melacak layanan apa saja yang masih aktif dan segera menghentikan yang sudah tidak diperlukan.
Memahami perlindungan yang kamu punya
Situasi tak terduga dapat terjadi kapan saja, sehingga penting memahami perlindungan yang dimiliki, termasuk asuransi dan BPJS.
Luangkan waktu untuk memahami kembali manfaat, ketentuan klaim, hingga batasannya, agar perlindungan dapat dimanfaatkan optimal dan kebutuhan lain dapat diantisipasi dalam perencanaan keuangan.
Sejumlah penyedia asuransi, seperti IFG Life, kini menghadirkan layanan digital untuk membantu nasabah memahami perlindungan yang dimiliki tanpa harus menelusuri dokumen polis secara manual.
Melalui aplikasi One by IFG, nasabah dapat mengakses informasi terkait jenis asuransi dan manfaat perlindungan, sekaligus memanfaatkan proses klaim yang lebih sederhana.
Kehadiran layanan digital ini ditujukan untuk meningkatkan kemudahan akses layanan asuransi bagi masyarakat, baik dari sisi informasi maupun proses.
Baca Juga: Tips Mengelola Keuangan dengan Kepala Dingin agar Hidup Lebih Tenang
Tetapkan limit hidup
Berniat untuk lebih hemat pun sering kali tidak cukup. Kamu perlu batasan yang jelas untuk membantu mengatur pengeluaran gaya hidup dengan lebih konsisten.
Karena itu, memasuki 2026, kamu dapat mulai menetapkan “limit hidup” atau batas maksimal pengeluaran bulanan untuk kebutuhan gaya hidup seperti makan di luar, hiburan, atau aktivitas sosial.
Angka ini sebaiknya ditentukan sejak awal bulan dan dibuat lebih rendah dari limit kartu yang tersedia. Dengan cara ini, pengeluaran tetap terkontrol tanpa harus sepenuhnya mengorbankan ruang untuk bersenang-senang, sehingga keseimbangan antara menikmati hidup dan menjaga kesehatan keuangan tetap terjaga.
Pada akhirnya, membangun kebiasaan finansial bukan soal perubahan besar yang dilakukan sekaligus, melainkan konsistensi dalam langkah-langkah kecil sehari-hari.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, resolusi keuangan yang realistis dan terukur dapat menjadi pegangan untuk menjaga stabilitas dan rasa aman.
Dengan perencanaan yang lebih sadar dan disiplin, kamu dapat menghadapi 2026 dengan lebih siap, bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk kestabilan finansial di setiap tahap kehidupan.
Selanjutnya: Sinopsis Film Penerbangan Terakhir Tentang Skandal di Pesawat, Tayang Besok!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News