M O M S M O N E Y I D
HOME, InvesYuk

3 Hal yang Perlu Diatasi Untuk Menghindari NFT Menjadi Bubble

Reporter: Danielisa Putriadita  |  Editor: Danielisa Putriadita


MOMSMONEY.ID - Masyarakat semakin mengenal Non fungible token (NFT). Perkembangan dan popularitas NFT kini jauh lebih meluas dibanding tahun-tahun sebelumnya. 

NFT saat ini pun masih menjadi perbincangan hangat di masyarkat. Apalagi setelah karya Beeple dengan judul Everdays: The First 5000 Days laku terjual US$ 69.346.250 atau sekitar Rp 9 triliun. Sebelumnya, NFT lokal Ghozali Everyday juga berhasil meraih popularitas dan terjual puluhan juta rupiah. 

Namun, Asih Karnengsih Chairwoman Asosiasi Blockchain Indonesia menyampaikan fenomena NFT  selalu menimbulkan berbagai pertanyaan di masyarkat. "Apakah NFT ini hanya tren semata atau akan menjadi bublle kedepannya?" kata Asih dalam keterangan tertulis, Rabu (8/6). Pertanyaan ini menurut Asih bagus untuk menjadi jembatan edukasi bagi masyarakat terkait implementasi dan manfaat dari teknologi blockchain. 

Dari sisi ekonomi, teknologi blockchain NFT dapat dimanfaatkan pelaku seni untuk mendapatkan apresiasi dan reward atas karyanya. 

Sementara, bubble merupakan kondisi di mana sebuah aset yang bernilai tinggi akan truun drastis dan dengan cepat hilang dari pasaran. Oleh karena itu, Asosiasi Blockchain Indonesia mencatat ada 3  hal yang membuat NFT sangat mungkin menjadi bubble, apabila tidak segera diatasi dengan tepat. 

Baca Juga: Harga Kripto Anjlok, Apakah Saatnya Untuk Pergi?

Meskipun NFT mengalami penurunan yang cukup signifikan, tetapi cryptocurrency masih memiliki sirkulasi yang kuat di OpenSea setiap harinya dan trader masih menghabiskan ribuan hingga ratusan dolar untuk NFT. 

Pasar NFT Terus Menurun

Pasar NFT nyatanya mulai terlihat tenang dalam beberapa waktu terakhir. Menurut Bloomberg, nilai perdagangan rata-rata dari NFT telah turun drastis dalam beberapa waktu terakhir. Seperti penjualan utama NFT yang turun secara nyata dalam satu bulan terakhir dan menurut data tercatat penjualan NFT turun sebesar 29% dan 1,17% dalam USD. Sedangkan, penjualan utama yakni penjualan yang berlangsung di website proyek NFT turun 73%, dan dalam USD turun 49%. 

Menurut data Financial Times, volume transaksi harian untuk NFT di Open Sea turun 80%, yaitu menjadi $50 juta pada Maret 2022, dibandingkan pada Februari dengan total transaksi yang mencapai $284 juta. 

Pasa pelacak NFT DappRadar di OpenSea juga menunjukkan adanya penurunan jumlah trader dan volume secara keseluruhan, dimana volume perdagangan turun hampir 67% dan diikuti dengan trader yang turun sebanyak 23%.

Menjadi Skema Ponzi

Selain nilainya yang turun, NFT juga masih memiliki sentimen negatif di masyarakat, misalnya untuk pencucian uang. Pencucian uang bisa dengan mudah dilakukan karena pembeli dan penjual tidak bisa terlacak sepenuhnya apabila mereka menggunakan identitas anonim.

Dilansir dari The Conversation, NFT dikatakan mirip skema ponzi karena beberapa kesamaan yang dimiliki, seperti pembeli pertama mendapatkan keuntungan yang tinggi daripada pembeli terakhir yang sudah tertinggal tren NFT sehingga pembeli terakhir tidak mendapatkan keuntungan. 

Tidak Memiliki Nilai Fundamental

Harus diakui masih banyak NFT yang tidak memiliki nilai fundamental dan kegunaan yang jelas, seperti hanya berupa gambar acak yang dibeli pengguna karena FOMO (Fears of Missing Out). Apabila NFT terus-menerus seperti ini maka sangat mungkin bubble akan terjadi, dan karya NFT yang memiliki fungsi jelas akan ikut terseret ke dalam sentimen negatif ini. 

Baca Juga: Investasi Aman di Tengah Inflasi Tinggi

Apabila NFT bubble terjadi, dampaknya tidak hanya berefek pada NFT saja melainkan akan menyebar ke aset kripto secara umum. Karena untuk membeli NFT dibutuhkannya kripto lain sebagai alat transaksi. 

Melihat masih banyaknya pertanyaan dan kekhawatiran mengenai NFT di masyarakat, Asosiasi Blockchain Indonesia mendukung penuh adanya literasi atau edukasi mengenai peran dan implementasi NFT untuk memperkuat ekosistem dan mencegah terjadinya NFT menjadi bubble.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Waspada Hujan di Kota Ini, Cek Prakiraan Cuaca Jawa Tengah Besok Selasa (16/6)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan mendominasi cuaca Jawa Tengah besok, Selasa (16/6).

Prakiraan Cuaca Jawa Barat Besok Selasa (15/6): Didominasi Berawan, Hujan di Kota Ini

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Jawa Barat besok, Selasa (16/6), didominasi berawan dan hujan.

Harga Buyback Emas Hari Ini 15 Juni 2026: Pegadaian Melejit Rp 46.000, Antam Stagnan

Kabar baik bagi pemilik emas. Harga buyback dan jual emas hari ini mayoritas melonjak. Cek merek mana yang memberikan keuntungan terbaik.

Tak Sekadar Hiburan, Game Arcade Ini Antar Pemain Indonesia ke Podium Internasional

Hobi bermain bisa menjadi sebuah prestasi. Pemain Indonesia ini bukti juarai Turnamen Pump It Up Asia Pasifik

Pizza Party Super Hemat dengan Promo Pizza Hut, Nikmati Porsi Melimpah Cuma 2 Hari

Ingin kumpul bareng teman atau keluarga tanpa khawatir biaya? Pizza Hut hadirkan paket 2 pizza super hemat. Simak durasi promonya di sini.

Hasil Piala Dunia 2026 Grup F: Jepang-Belanda Seri, Swedia ke Puncak Tekuk Tunisia

Hasil Piala Dunia 2026 Grup F, Jepang dan Belanda bermain imbang, Swedia tekuk Tunisia dan memimpin klasemen sementara.​

Hasil Piala Dunia 2026 Grup E: Jerman Pimpin Klasemen, Pantai Gading di Posisi Ke-2

Hasil Piala Dunia 2026 Grup E, Jerman menang telak atas Curaçao dan memimpin klasemen sementara, dan Pantai Gading di posisi kedua.

7 Hobi yang Buat Pintar, Senjata Rahasia untuk Jaga Ketajaman Berpikir Anda

Temukan ragam hobi yang buat pintar dan mampu mengasah ketajaman otak. Aktivitas ini menjadi investasi terbaik untuk meningkatkan kecerdasan.

Dari Checkout hingga Terpasang, Begini Cara Pakai Fitur Baru Lazada

​Proses belanja furnitur di Lazada kini lebih praktis karena pelanggan dapat memilih layanan instalasi saat checkout.

Tren Berbelanja Berubah, Live Shopping dan PayLater Makin Diminati

Cara masyarakat Indonesia berbelanja terus berubah seiring pesatnya perkembangan teknologi digital.