MOMSMONEY.ID - Berwisata kini tak lagi sekadar soal datang ke sebuah destinasi, mengambil foto, lalu pulang. Bagi semakin banyak wisatawan, terutama generasi milenial dan Gen Z, pengalaman yang didapat selama perjalanan justru menjadi bagian penting dari keputusan mereka dalam memilih destinasi.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa melihat, wisatawan saat ini semakin mencari pengalaman yang autentik, personal, dan bermakna. Hal ini turut terlihat dari kecenderungan generasi milenial dan Gen Z yang disebut 52% bersedia membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman wisata berkualitas.
“Pengembangan MICE Indonesia harus bergeser dari sekadar menghadirkan event menuju penciptaan pengalaman yang bernilai,” ujar Ni Luh di acara Indonesia Tourism and MICE Outlook (ITMO) 2027 bertajuk Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia Melalui Experience Tourism belum lama ini.
Menurut dia, perubahan minat wisatawan tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan kualitas pariwisata sekaligus mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang di destinasi yang dikunjungi.
Salah satu cara yang didorong Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk mengembangkan wisata pengalaman adalah dengan memanfaatkan tren Meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) serta bleisure, yakni perpaduan perjalanan bisnis dan rekreasi.
Tren bleisure membuat perjalanan yang awalnya dilakukan untuk menghadiri pertemuan atau acara bisnis dapat diperpanjang dengan aktivitas wisata di daerah tujuan.
Dengan begitu, wisatawan tidak hanya menghabiskan waktu di lokasi acara, tetapi juga berkesempatan menikmati kuliner, atraksi, budaya, hingga destinasi wisata lokal.
Berdasarkan ICCA Global Watch Business Analytics Country and City Ranking 2025, Indonesia berada di peringkat ke-37 dunia dan ke-4 di ASEAN dalam penyelenggaraan MICE.
Baca Juga: Ini Pengalaman Paling Menarik Minat Wisatawan Asia Pelesiran dengan Kapal Pesiar
Meski demikian, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperkuat ekosistem pariwisata agar berbagai sektor dapat terhubung dan menciptakan pengalaman wisata yang lebih utuh.
Mulai dari penyedia atraksi, hotel, restoran, pelaku ekonomi kreatif, hingga komunitas lokal perlu terhubung dalam satu ekosistem.
Ni Luh mencontohkan Singapura sebagai salah satu pesaing utama Indonesia di kawasan. Menurutnya, Indonesia perlu memastikan penyelenggaraan event tidak berhenti pada aktivitas di dalam venue.
“Indonesia tidak hanya menawarkan venue, tapi juga pengalaman di dalamnya,” katanya.
Upaya tersebut juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Berdasarkan data Kemenpar, program Event by Indonesia sepanjang 2025 mendatangkan 12,2 juta pengunjung dan menggerakkan 20.887 UMKM. Program tersebut juga melibatkan 257.561 tenaga kerja, termasuk pelaku seni dan anggota komunitas.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menambahkan wisata pengalaman akan menjadi bagian penting dari masa depan pengembangan pariwisata Indonesia.
Menurut dia, wisata pengalaman yang berkualitas setidaknya perlu dibangun melalui tiga komponen utama, yakni penghargaan terhadap budaya, alam, serta koneksi antarmanusia.
Atas dasar itu, Kemenpar sejak tahun lalu mengembangkan tiga program flagship sebagai bagian dari pengembangan wisata pengalaman, yakni gastronomy, wellness, dan marine tourism.
Baca Juga: Tembus Tiga Besar, Kuliner jadi Kategori Airbnb Experiences Populer di Indonesia
Ke depan, pemerintah juga akan menambahkan wisata wastra serta wisata seni budaya ke dalam pengembangan tersebut. Langkah ini sekaligus menjadi upaya untuk menghindari konsentrasi wisatawan hanya pada destinasi yang sudah populer.
“Pemerintah bisa mengarahkan dan membuat tren sehingga bukan lagi ke tempat itu-itu saja. Ingat, mass tourism. Ini sesuatu yang kita takutkan terjadi, kita tidak mau,” tutur Ni Made.
Dengan pendekatan itu, pengalaman wisata diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di daerah.
Founder dan CEO Artotel Group Erasmus Radjimin mengatakan perkembangan gaya hidup sehat menjadi salah satu tren yang perlu diperhatikan pelaku industri perhotelan.
Menurutnya, wisatawan kini semakin memperhatikan kualitas tidur dan kebugaran selama bepergian. Penggunaan health tracker misalnya, membuat sebagian orang mulai memperhatikan kualitas tidur mereka melalui sleeping score.
Karena itu, Artotel Group mencoba meningkatkan pengalaman tidur para tamu. Selain itu, perusahaan juga akan meluncurkan Wanderlust Recovery Center berupa fasilitas gym untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang menjalankan gaya hidup aktif.
“Karena gaya hidup ke depannya, 1 dari 3 traveller itu akan membutuhkan gym,” sebut Erasmus.
Bagi Indonesia, pengembangan experience tourism membuka peluang untuk menghubungkan wisatawan dengan kekayaan budaya, alam, kuliner, seni, hingga pelaku ekonomi lokal.
Jika ekosistem tersebut dapat berjalan bersama, perjalanan wisatawan bukan hanya berpotensi menjadi lebih berkesan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha di destinasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News