MOMSMONEY.ID - Lanskap layanan kesehatan di Asia-Pasifik mulai bergeser dari pendekatan pengobatan ketika seseorang mengalami penyakit menuju upaya menjaga kesehatan, mencegah penyakit, memperpanjang usia harapan hidup, hingga meningkatkan kualitas hidup.
Perubahan tersebut mendorong semakin terintegrasinya layanan kesehatan preventif, estetika, wellness, kedokteran regeneratif, dan longevity.
Perkembangan tren tersebut terlihat dari semakin besarnya perhatian terhadap layanan yang tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan dan pemeliharaan kesehatan dalam jangka panjang. Teknologi medis, inovasi di bidang estetika, layanan kebugaran, hingga pendekatan regeneratif mulai ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem kesehatan yang lebih luas.
Chairman GlobalHealth Asia-Pacific (GHAPAC) Narender Panjwani mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pasar sekaligus pemain regional dalam pertumbuhan sektor aesthetics, wellness, dan longevity. Potensi tersebut didukung oleh perkembangan infrastruktur kesehatan, tenaga medis, industri estetika dan wellness, serta sektor hospitality dan pariwisata.
“Seiring aesthetics, wellness, dan longevity semakin terhubung dengan sektor kesehatan, pertumbuhannya juga perlu didukung oleh kredibilitas ilmiah, standar profesional, serta inovasi yang bertanggung jawab,” ujar Panjwani dalam keterangan tertulis, Senin (28/9).
Tren ini juga memperlihatkan semakin tipisnya batas antara layanan medis dan layanan kesehatan preventif. Konsumen tidak lagi hanya mencari layanan ketika mengalami gangguan kesehatan, tetapi semakin memperhatikan bagaimana mempertahankan kebugaran, penampilan, kualitas hidup, dan kesehatan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Kadar Gula Darah Stabil Saat Tidur: Intip Pilihan Camilan Aman Ini
Di Indonesia, perkembangan tersebut berjalan seiring dengan upaya pemerintah mengembangkan ekosistem wisata kesehatan. Kementerian Kesehatan menyebut hingga September 2026 terdapat 44 rumah sakit yang telah ditetapkan untuk mendukung pariwisata medis dengan berbagai layanan unggulan, termasuk kardiologi, onkologi, ortopedi, bedah estetika, dan kedokteran regeneratif.
Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Dwi Puspasari mengatakan, perkembangan pariwisata kesehatan tidak hanya berpotensi menciptakan devisa dan investasi, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan di dalam negeri.
Menurutnya, Indonesia memperkirakan pariwisata kesehatan berpotensi memberikan kontribusi hingga US$ 84 miliar atau sekitar Rp 1.362 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB).
Perkembangan layanan kesehatan tersebut turut mendorong munculnya konsep longevity, yang menempatkan kesehatan jangka panjang sebagai salah satu fokus utama. Pendekatan ini tidak semata-mata mengejar usia hidup yang lebih panjang, tetapi juga mempertahankan kualitas hidup dan kondisi kesehatan selama mungkin.
Di sisi lain, pertumbuhan layanan aesthetics, wellness, dan longevity membuat aspek keamanan dan kualitas layanan menjadi semakin penting. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa perkembangan kedokteran estetika, layanan preventif, wellness, dan layanan terkait longevity perlu berjalan bersama dengan kompetensi tenaga profesional, standar kualitas, keselamatan pasien, serta praktik berbasis bukti ilmiah.
Baca Juga: Sering Jadi Topping Makanan, Ternyata Daun Kucai Bisa Mencegah Kanker
Perubahan pola konsumsi layanan kesehatan tersebut juga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan layanan yang menggabungkan aspek medis dengan wellness dan pemulihan. Model ini dapat mencakup layanan kesehatan, kebugaran, pemulihan, hingga aktivitas rekreasi dalam satu ekosistem.
Asisten Deputi Pengembangan Usaha dan Akses Permodalan Kementerian Pariwisata, Hanifah Makarim, mengatakan pemerintah tengah mendorong pengembangan paket pariwisata kesehatan terintegrasi yang menggabungkan layanan medis dan kebugaran dengan aktivitas pemulihan serta rekreasi.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sektor kesehatan ke depan tidak hanya akan berbicara mengenai rumah sakit dan pengobatan penyakit. Preventive health, wellness, estetika, kedokteran regeneratif, dan longevity semakin menjadi bagian dari spektrum layanan yang membentuk pola baru konsumsi kesehatan masyarakat.
Bagi Indonesia, tren tersebut sekaligus membuka ruang pengembangan industri kesehatan yang lebih luas, dengan menggabungkan kapabilitas medis, teknologi, layanan wellness, serta infrastruktur pariwisata dan hospitality.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News