MOMSMONEY.ID - Cara menghemat Rp100.000 seminggu lewat kebiasaan kecil seperti kurangi jajan, atur belanja, hemat transportasi, listrik, dan air.
Menyisihkan Rp100.000 setiap minggu sebenarnya tidak harus dimulai dari penghematan besar. Bagi banyak orang, nominal tersebut bisa dikumpulkan dari kebiasaan sederhana seperti mengurangi jajan, membawa air minum sendiri, dan lebih disiplin saat berbelanja.
Tantangannya adalah pengeluaran kecil sering terasa tidak berarti karena dilakukan sedikit demi sedikit. Melansir dari ojk.go.id, memahami arus kas dan mencatat pengeluaran menjadi bagian penting dalam pengelolaan keuangan agar seseorang mengetahui ke mana uangnya digunakan.
“Pencatatan pengeluaran secara rutin membantu memantau arus keluar uang dan mencegah pengeluaran berlebihan,” dikutip dari ojk.go.id.
Cara mengumpulkan Rp100.000 tanpa memangkas kebutuhan utama
Target hemat mingguan akan terasa lebih ringan jika Rp100.000 tidak dianggap sebagai satu angka besar. Pecah menjadi beberapa bagian sesuai kebiasaan sehari hari yang paling mudah dikendalikan.
Baca Juga: Cara Atur Uang Pakai Kakeibo, Bisa Dipakai Mahasiswa sampai Ibu Rumah Tangga
Misalnya, Rp35.000 berasal dari pengurangan jajan atau pesan makanan, Rp25.000 dari belanja bahan makanan yang lebih terencana, Rp15.000 dari penggunaan listrik dan air, Rp15.000 dari transportasi, serta Rp10.000 dari menunda pembelian yang belum diperlukan.
Cara tersebut membuat proses berhemat terasa lebih realistis karena tidak bergantung pada satu sumber penghematan saja.
Ubah cara belanja sebelum mengubah gaya hidup
Salah satu titik yang cukup mudah diperiksa adalah belanja makanan. Sebelum pergi ke pasar atau toko, lihat terlebih dahulu isi dapur. Beras, minyak, telur, bumbu, sayuran, dan bahan lain yang masih tersedia sebaiknya masuk dalam pertimbangan sebelum membuat daftar belanja.
Setelah itu, tentukan menu untuk beberapa hari. Bahan seperti telur, tahu, tempe, ayam, ikan, dan sayuran bisa disusun menjadi beberapa hidangan sehingga pembelian lebih terarah.
Perencanaan seperti ini juga membantu mengurangi risiko membeli bahan berlebihan yang akhirnya tidak terpakai. Pengelolaan keuangan yang baik memang tidak hanya berbicara soal menabung, tetapi juga membuat prioritas pengeluaran secara sadar.
Cari penghematan dari pengeluaran yang berulang
Daripada langsung mengurangi kebutuhan penting, perhatikan transaksi yang muncul berkali kali dalam satu minggu.
Contohnya, membeli minuman Rp10.000 beberapa kali mungkin terlihat kecil. Namun jika dilakukan berulang, nilainya bisa menjadi puluhan ribu rupiah. Membawa air minum, kopi, teh, atau camilan dari rumah dapat menjadi alternatif sederhana.
Begitu juga dengan pesan makanan. Tidak harus dihentikan sepenuhnya. Cukup tentukan hari tertentu untuk memasak atau memanfaatkan makanan yang sudah tersedia di rumah.
Hemat transportasi dengan merencanakan perjalanan
Biaya perjalanan juga dapat diperiksa. Jika ada beberapa keperluan di lokasi yang berdekatan, usahakan menyelesaikannya dalam satu perjalanan.
Untuk jarak yang memungkinkan, berjalan kaki juga dapat menjadi pilihan. Sementara itu, berbagi kendaraan dapat dipertimbangkan jika memang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing masing.
Intinya bukan menghilangkan mobilitas, tetapi menghindari perjalanan tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Baca Juga: Merasa Keuangan Aman? 3 Tanda Ini Bisa Membuktikan Kondisi Sebenarnya
Jadikan rumah sebagai tempat pertama untuk berhemat
Penggunaan listrik dan air sering luput dari perhatian karena tagihannya baru terlihat ketika periode pembayaran tiba.
Kebiasaan sederhana seperti mematikan lampu di ruangan kosong, mematikan perangkat elektronik yang tidak digunakan, menggunakan mesin cuci dengan muatan yang cukup, serta mengendalikan pemakaian air panas atau pendingin ruangan dapat membantu mengurangi pemborosan.
Penghematan ini sebaiknya tetap proporsional. Jangan sampai mengejar target Rp100.000 justru mengganggu kebutuhan dasar keluarga.
Gunakan aturan tunggu sebelum membeli
Pengeluaran kecil yang muncul secara spontan juga layak diawasi. Ketika ingin membeli barang yang bukan kebutuhan mendesak, coba beri jeda selama 24 jam.
Masukkan barang tersebut ke daftar pertimbangan. Jika setelah sehari ternyata masih benar benar diperlukan, pembelian bisa dipertimbangkan kembali. Jika keinginan sudah hilang, uang tersebut dapat tetap disimpan.
Kebiasaan menunda ini sederhana, tetapi dapat membantu membedakan kebutuhan dengan keinginan sebelum uang keluar.
Lakukan pemeriksaan uang setiap akhir pekan
Sediakan waktu sekitar 10 sampai 15 menit pada akhir minggu untuk melihat kembali seluruh transaksi. Jangan hanya mencatat pengeluaran besar.
Parkir, camilan, pulsa, ongkos tambahan, dan pembelian kecil juga perlu diperhatikan. Dari catatan tersebut, cari satu atau dua pengeluaran yang paling mudah dikurangi pada minggu berikutnya.
Mengutip dari bfi.co, pengendalian pengeluaran sehari hari dapat menjadi bagian dari kebiasaan mengelola keuangan secara lebih teratur. Dengan evaluasi mingguan, target hemat tidak sekadar menjadi rencana, tetapi bisa diukur berdasarkan kondisi nyata.
Pisahkan uang yang sudah berhasil dihemat
Kesalahan yang sering terjadi adalah uang hasil penghematan kembali digunakan untuk kebutuhan lain. Karena itu, setelah berhasil mengumpulkan Rp100.000, segera pisahkan dari uang belanja.
Uang tersebut bisa ditempatkan pada pos tabungan khusus atau wadah terpisah yang tidak digunakan untuk transaksi harian.
Jika konsisten selama satu tahun, target Rp100.000 setiap minggu dapat mencapai sekitar Rp5.200.000. Namun angka tersebut hanya tercapai jika target mingguan benar benar terpenuhi.
Baca Juga: 11 Tips Menggunakan Kartu Kredit dengan Bijak biar Keuangan Tetap Sehat
Tidak perlu memaksakan target
Kondisi keuangan setiap orang berbeda. Jika Rp100.000 per minggu terasa terlalu berat, tidak ada salahnya memulai dari Rp25.000 atau Rp50.000.
Terpenting adalah membangun kebiasaan yang dapat dipertahankan. Jangan mengurangi makanan bergizi, obat, pendidikan, kebutuhan anak, maupun pembayaran penting hanya demi mengejar nominal penghematan.
Menghemat Rp100.000 seminggu bukan perlombaan untuk hidup sesulit mungkin. Tujuannya adalah membuat pengeluaran kecil lebih terkendali dan mengubah uang yang biasanya habis tanpa terasa menjadi simpanan yang memiliki tujuan.
Ketika dilakukan konsisten, kebiasaan kecil tersebut justru bisa memberikan hasil yang jauh lebih terasa dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News