MOMSMONEY.ID - Lima belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam perjalanan satu setengah dekade mendampingi masyarakat Indonesia merencanakan perjalanan, tiket.com telah tumbuh bukan hanya sebagai platform pemesanan kebutuhan wisata, tetapi juga menjadi bagian dari jutaan cerita, kenangan, dan pengalaman yang tercipta di berbagai destinasi.
Selama periode tersebut, tiket.com turut menyaksikan perubahan dalam cara masyarakat memaknai perjalanan. Jika dahulu bepergian lebih banyak dikaitkan dengan liburan pada momen tertentu, kini perjalanan semakin melekat dengan gaya hidup dan berbagai momentum personal. Mulai dari merayakan pencapaian, mengeksplorasi minat dan hobi, hingga mencari pengalaman baru.
Perjalanan pun tidak lagi sekadar tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di tengah rutinitas yang semakin padat, masyarakat mulai menjadikan perjalanan sebagai ruang untuk mengambil jeda, memulihkan energi, mempererat hubungan, sekaligus menjalani pengalaman yang relevan dengan kebutuhan dan ketertarikan mereka.
Healing dan recharge menjadi salah satu alasan utama masyarakat Indonesia bepergian. Berdasarkan survei Lokadata terhadap 1.300 responden, sebanyak 31% responden melakukan perjalanan untuk memulihkan energi dan mengambil jeda dari rutinitas.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin intentional dalam merencanakan perjalanan. Pertimbangannya pun tidak lagi hanya “Mau pergi ke mana?” tetapi juga “Apa yang ingin saya rasakan?” dan “Pengalaman apa yang ingin saya dapatkan?”
Tren perjalanan berbasis tujuan rupanya semakin menguat. Wisatawan kini bepergian untuk menghadiri konser musisi favorit, mengikuti event olahraga, menjelajahi kuliner lokal, atau mencoba aktivitas baru.
Baca Juga: TransNusa Buka Rute Jakarta-Bangkok Dua Kali Sehari, Tiket Tersedia di tiket.com
Makna recharge juga berbeda bagi setiap orang. Sebagian memilih beristirahat dan menikmati alam, sementara yang lain justru mendapatkan energi baru dari konser, event olahraga, atau pengalaman yang berkaitan dengan minat personal. Destinasi tetap penting, tetapi semakin dipandang sebagai wadah untuk mewujudkan pengalaman tersebut.
Perubahan ini turut memengaruhi cara wisatawan menilai sebuah perjalanan. Sebanyak 88% responden menyatakan bersedia mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan perjalanan yang lebih berkesan. Alih-alih menjadi lebih konsumtif, wisatawan semakin selektif dan mempertimbangkan nilai dari pengalaman yang akan diperoleh.
“Wisatawan kini semakin sadar terhadap nilai yang ingin mereka peroleh dari sebuah perjalanan. Mereka tidak hanya mencari destinasi, tetapi juga mempertimbangkan apakah pengalaman tersebut relevan dengan minat, kebutuhan, dan prioritas mereka,” ujar Gaery Undarsa, Co-Founder & Chief Marketing Officer, tiket.com, dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8).
Meski tujuan perjalanan semakin personal, destinasi tetap berperan penting dalam pengambilan keputusan. Sebanyak 74% responden menentukan destinasi terlebih dahulu sebelum memilih aktivitas, sedangkan 26% lainnya memulai perjalanan dari aktivitas tertentu yang ingin diikuti.
Perubahan ini mendorong industri perjalanan untuk semakin customer-centric. Platform perjalanan tidak lagi hanya berperan dalam menyediakan tiket dan akomodasi, tetapi juga perlu memahami alasan di balik setiap perjalanan serta membantu wisatawan menemukan pilihan yang sesuai dengan preferensi mereka.
Baca Juga: Bisa Pesan Tiket Sihnkansen Langsung di Tiket.com, Liburan ke Jepang Makin Nyaman
Sebagai online travel agent (OTA) di Indonesia yang telah mendampingi perjalanan masyarakat selama 15 tahun, tiket.com terus mengembangkan perannya menjadi the most loved OTA and lifestyle platform. Teknologi dimanfaatkan untuk membantu wisatawan menemukan inspirasi, menyusun rencana, serta menikmati perjalanan secara lebih praktis dan relevan.
“Teknologi seharusnya tidak hanya mempermudah proses pemesanan, tetapi juga membantu masyarakat merancang perjalanan berdasarkan preferensi dan tujuan personal mereka. Pendekatan yang customer-centric memungkinkan kami untuk terus memahami kebutuhan wisatawan yang semakin beragam,” tambah Gaery.
Pada akhirnya, perjalanan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh seberapa jauh seseorang pergi, tetapi oleh tujuan yang melatarbelakanginya dan makna yang dibawa pulang. Setiap perjalanan menjadi kesempatan untuk merajut kenangan, mempererat hubungan, serta menemukan pengalaman yang benar-benar berarti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News