MOMSMONEY.ID - Pasar kripto terguncang dengan harga Bitcoin anjlok di bawah US$ 80.000. Mengutip coinmarketcap, Bitcoin diperdagangkan seharga US$ 78.568 pukul 13.28 WIB.
Dalam tujuh hari terakhir, harga kripto terpopuler ini sudah merosot hampir 20%. Fyqieh Fachrur, Analyst Tokocrypto, mengatakan, Bitcoin turun setelah gagal mempertahankan level resistensi di US$ 100.000. Kerugian semakin dalam setelah BTC kehilangan level dukungan atau support penting di US$ 95.000.
Bitcoin turun di bawah US$ 90.000 pada 25 Februari, sehari setelah Trump mengumumkan tarif 25% terhadap Kanada dan Meksiko. "Penurunan ini semakin tajam ketika ancaman tarif tambahan 10% terhadap China diumumkan, yang memicu ketidakpastian ekonomi global dan menyeret Bitcoin ke level terendahnya," papar Fyqieh dalam Market Crypto Analysis yang dirilis Jumat (28/2).
Menurut Farside Investors, penerbit ETF Bitcoin melaporkan arus keluar bersih sebesar US$ 754,6 juta pada 26 Februari. Arus keluar pada hari Rabu itu memperpanjang rangkaian arus keluar menjadi delapan hari berturut-turut, yang selanjutnya menekan BTC.
Sentimen bearish semakin menguat dengan Crypto Fear & Greed Index mencapai level "Extreme Fear", yang merupakan titik terendah sejak jatuhnya FTX pada tahun 2022.
Fyqieh mengatakan, lonjakan arus keluar dari ETF Bitcoin, ketidakpastian tarif Trump, serta gejolak ekonomi global menjadi faktor utama yang menekan harga BTC. Beberapa faktor turut memperparah situasi, seperti maraknya skandal penipuan di sektor koin meme yang merusak kepercayaan investor.
Baca Juga: Bitcoin Tiarap, Lebih Waspada Seleksi Altcoins yang Menyala
Pemegang Bitcoin besar (whales) juga turut mencairkan asetnya. Fyqieh mengungkapkan, sejak minggu lalu, whales menjual sekitar 6.813 BTC, senilai sekitar US$ 540 juta, yang menjadi aksi jual terbesar sejak Juli lalu. Tekanan jual ini memperburuk kejatuhan harga dan meningkatkan ketidakpastian investor.
Jika melihat pasar yang lebih luas, penurunan Bitcoin baru-baru ini juga disertai dengan kerugian yang signifikan. Periode 25 dan 27 Februari, kerugian lebih dari US$ 2,16 miliar terjadi, terutama dari investor pendatang baru di pasar. Menurut Fyqieh, aksi jual besar-besaran dari investor baru ini sinyal yang mengkhawatirkan, karena dapat menghalangi partisipasi lebih lanjut di pasar.
Kerugian ini mencerminkan kenyataan pahit bahwa pelaku pasar menghadapi kemunduran yang signifikan, yang dapat mengurangi kepercayaan investor secara keseluruhan. Selama tren ini berlanjut, hal itu dapat sangat membebani pemulihan harga Bitcoin. Dus, ini dapat semakin memperburuk sentimen bearish di pasar.
Namun, aksi akumulasi dari investor besar bisa menjadi sinyal bahwa mereka menunggu momentum pembalikan harga. Secara historis, ketika investor besar mulai membeli kembali di level rendah, harga Bitcoin cenderung pulih dalam jangka panjang.
Skenario bearish
Laporan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis Jumat (28/2) malam, akan menjadi narasi yang menyetir arah BTC selanjutnya.
Inflasi dan pengeluaran pribadi yang lebih rendah, dapat meningkatkan taruhan beberapa penurunan suku bunga The Fed pada tahun ini. Sikap Fed yang lebih dovish dapat memicu permintaan untuk aset berisiko, termasuk BTC.
Namun, menurut Fyqieh, Bitcoin baru-baru ini kehilangan level support penting di US$ 80.313. Jika tekanan jual berlanjut, BTC kemungkinan akan menguji support berikutnya di US$ 76.741.
"Jika level ini gagal bertahan, harga bisa merosot lebih jauh ke US$ 71.529, memperpanjang tren bearish yang sedang berlangsung," prediksi dia.
Baca Juga: Harga Bitcoin Terendah Sejak 11 November 2024, Sudah Anjlok 25% Sejak All Time High
Untuk membatalkan skenario bearish, Bitcoin perlu kembali ke atas US$ 80.313 dan mencoba menembus kembali ke level US $85.000. Jika ini terjadi, kata Fyqieh, ada kemungkinan bahwa pasar akan memulai pemulihan yang lebih stabil menjelang pertengahan tahun 2025.
Meskipun kondisi pasar saat ini menunjukkan tren penurunan yang tajam, masih terlihat peluang bagi pasar kripto untuk bangkit lebih kuat di masa mendatang. Hanya, ketidakpastian ekonomi global tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan oleh investor.
Dalam skenario bearish, prediksi Fyqieh, kekhawatiran perang dagang, data ekonomi AS yang lebih kuat, sikap agresif Fed, dan resistensi terhadap Cadangan Bitcoin Strategis (SBR) di AS, berisiko menekan BTC terus di bawah US$ 80.000.
Sebaliknya, skenario bullish, apabila ketegangan perdagangan mereda, inflasi AS lebih rendah, sinyal Fed yang dovish, dan kemajuan SBR, dapat mendorong harga BTC menuju level resistensi kuat di US$ 90.000.
Selanjutnya: Kinerja TAPG dan DSNG Naik di Tahun 2024, Simak Rekomendasi Sahamnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News