MOMSMONEY.ID - Di era teknologi saat ini, alternatif sumber pendapatan bagi konten kreator menjadi semakin banyak, lo. Tidak hanya dari endorsement atau kerjasama dengan brand, para konten kreator saat ini marak memiliki kanal penjualan sendiri dan dapat bertransaksi langsung dengan audiens.
Untuk bisa membuka sumber pendapatan baru ini, biasanya konten kreator memanfaatkan platform yang memang memberikan solusi monetisasi dengan menawarkan kanal penjualan sendiri.
Kondisi ini membuka peluang bagi semakin banyak kreator termasuk micro dan nano creator untuk tidak hanya menjadi pembuat konten, tetapi juga berperan sebagai pemilik produk dan bisnis digitalnya sendiri.
Contoh produk digital yang bisa konten kreator ciptakan untuk menambah pundi-pundi adalah menjual e-book, template, kelas online, hingga konsultasi melalui kanal pribadi.
Baca Juga: Indosat Gandeng Adobe Express Cetak 15.000 Kreator Konten di Indonesia, Ini Caranya
Tren ini pun mendorong munculnya berbagai platform creator economy yang membantu kreator mengelola dan memonetisasi audiens mereka. Salah satunya, platform Yapp yang dibangun oleh konten kreator teknologi, Theresa Tjandrawinata.
Ia telah menekuni industri konten digital sejak 2024. Dari pengalamannya menjadi konten kreator ia akhirnya membangun platform yang menyediakan infrastruktur bagi kreator untuk memonetisasi audiensnya lebih luas lagi, lewat platform Yapp.
Theresa mendirikan Yapp di Juni 2025. Platform ini membantu kreator untuk tidak hanya mengandalkan sumber pendapatan dari kerjasama dengan brand saja. Melaikan, kreator dapat membuat dan menjual produk secara digital sekaligus menyediakan berbagai fitur yang dibutuhkan untuk mengembangkan bisnis mereka.
Jadi, melalui satu platform Yapp ini, kreator bisa membuat halaman yang berisi berbagai link milik kreator, memasukkan konten, produk digital seperti e-book, video course, artikel, riset, template, eksklusif konten atau membership, livestream, aksi tipping dan donasi dengan transaksi lintas mata uang.
Ada juga fitur affiliate dan referral di mana kreator bisa memberikan reward kepada pihak yang membantu mempromosikan produknya.
Baca Juga: Aturan Baru YouTube bagi Kreator Konten: Ini Strategi Tembus 4.000 Jam Tonton
Theresa mengatakan saat ini jumlah pengguna Yapp telah mencapai sekitar 50.000 pengguna. Yapp menerapkan model bisnis berbasis biaya transaksi dan tidak mengenakan biaya langganan maupun bagi hasil kepada kreator atau penggunanya.
"Biaya transaksi yang dikenakan Yapp dibuat fleksibel bahkan dari sisi kreator biaya tersebut dapat mencapai 0% karena biaya transaksi dapat dibebankan kepada konsumen yang melakukan pembelian atau memberikan tip," jelas Theresa kepada Kontan, Kamis (10/9).
Dari sisi penggunaan, Yapp juga berupaya membuat proses onboarding sesederhana mungkin. Kreator cukup mengakses situs Yapp, membuat akun, memilih fitur yang dibutuhkan, kemudian dapat langsung menyiapkan produk dan membagikan tautan kepada audiens.
Meski saat ini menyasar content creator, Yapp tidak ingin berhenti sebagai platform untuk kreator. Ke depan, perusahaan berencana memperluas target pasarnya ke bisnis digital secara lebih luas.
"Tidak hanya produk digital, saya melihat perubahan perilaku kreator yang mulai masuk ke produk fisik, jual merchandise," kata Theresa.
Oleh sebab itu, Theresa juga melihat Yapp bisa dikembangkan untuk membatu bisnis maupun kreator membangun toko sendiri, termasuk menyediakan infrastruktur pembayaran.
"Ketika sebuah bisnis memiliki brand, komunitas dan audiens sendiri, kebutuhan untuk bergantung ke traffic di marketplace dapat berkurang," jelas Theresa.
Ke depan, Theresa juga melihat Yapp memiliki keahlian di bidang AI dan berencana memperkenalkan lebih banyak perangkat berbasis AI yang dapat digunakan kreator atau pelaku bisnis digital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News