MOMSMONEY.ID - Pasar saham domestik pada pekan ini diperkirakan masih dalam bayang-bayang dinamika konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi.
Pekan ini akan berlangsung selama 4 hari bursa, karena ada libur Jumat Agung. Saat ini, pelaku pasar berada dalam fase wait and see, dengan fokus utama pada perkembangan negosiasi geopolitik dan arah harga energi global.
Selama konflik antara Amerika Serikat dan Iran belum menemukan titik temu, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi. Imam Gunadi, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), memperkirakan, pekan ini, pergerakan IHSG berpotensi cenderung sideways di rentang 6.745-7.323.
Deadlock negosiasi yang terjadi sebelumnya menyebabkan setiap perkembangan, baik dalam bentuk pernyataan politik maupun pergerakan militer, berpotensi menjadi penggerak utama. Dengan harga energi yang sudah melonjak tajam, sensitivitas pasar terhadap headline geopolitik diperkirakan tetap tinggi, sehingga investor cenderung mempertahankan sikap wait and see sambil mencermati risiko lanjutan terhadap inflasi global dan stabilitas supply chain energi.
Di awal pekan, menurut Imam, perhatian akan tertuju pada pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dijadwalkan pada 30 Maret. Pernyataan Powell akan menjadi krusial untuk membaca arah kebijakan moneter ke depan, terutama di tengah lonjakan harga energi.
"Pasar akan mencari sinyal apakah The Fed akan tetap pada jalur kebijakan yang hati-hati atau justru membuka ruang pengetatan lebih lanjut, yang dapat memperkuat dollar AS dan menekan aset berisiko, termasuk emerging markets seperti Indonesia," kata Imam mengutip siaran pers, Senin (30/3).
Baca Juga: Harga Emas Hari Memantul ke atas US$ 4.500, Investor Bargain Hunting
Selanjutnya, fokus pasar akan beralih ke data ekonomi dari China melalui rilis NBS Manufacturing PMI bulan Maret pada 31 Maret. Konsensus pasar memperkirakan adanya perbaikan ke level 50 dari sebelumnya 49, yang menjadi batas antara kontraksi dan ekspansi.
Data manufaktur menjadi penting mengingat posisi China sebagai motor utama permintaan global. Jika realisasi mampu kembali ke zona ekspansi, hal ini berpotensi menjadi katalis positif bagi harga komoditas dan pasar negara berkembang. Namun sebaliknya, jika masih berada di bawah ekspektasi, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dapat kembali meningkat.
Dari domestik Indonesia, dua data utama yang akan dirilis pada 1 April adalah S&P Global Manufacturing PMI dan inflasi bulan Maret.
PMI akan memberikan gambaran mengenai aktivitas industri manufaktur di tengah tekanan global, sementara data inflasi akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan Bank Indonesia ke depan. Dengan potensi tekanan dari imported inflation akibat kenaikan harga energi, pasar akan mencermati apakah inflasi domestik masih berada dalam rentang target atau mulai menunjukkan tanda akselerasi.
Menutup pekan, perhatian global akan tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat melalui rilis Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran bulan Maret pada 3 April. Konsensus menunjukkan pemulihan dari kontraksi sebelumnya, dengan NFP diperkirakan naik ke 48.000 dari sebelumnya minus 92.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan sedikit meningkat ke 4,5% dari 4,4%.
"Data ini akan menjadi indikator kunci kesehatan ekonomi AS, sekaligus penentu ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depan. Kombinasi antara pasar tenaga kerja yang kuat dan tekanan inflasi dari energi dapat memperkuat narasi higher for longer, yang berpotensi menjadi sentimen negatif bagi arus dana ke pasar emerging," papar Imam.
Rekomendasi saham pekan ini
Merespons dinamika market pekan ini, IPOT merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini:
- Buy ADRO (Target harga: Rp 2.700, Stop loss < Rp 2.460)
Kenaikan harga batu bara global di atas US$ 140 per ton, yang didorong oleh disrupsi energi akibat konflik Amerika Serikat-Iran, menjadi katalis utama bagi kinerja PT Alamtri Resources Indonesia Tbk atau ADRO. Pergeseran konsumsi energi global, di mana negara seperti Jepang mulai meningkatkan penggunaan batubara sebagai substitusi minyak dan gas menciptakan demand tambahan yang solid.
Dengan struktur biaya yang relatif kompetitif dan eksposur ekspor yang kuat, ADRO berada dalam posisi strategis untuk menangkap momentum kenaikan harga ini.
Selain itu, potensi pelemahan rupiah juga memberikan tambahan tailwind terhadap margin perusahaan. Dalam jangka pendek, saham ini menarik sebagai play terhadap elevated energy prices.
Baca Juga: Catat, Saham Baru WBSA Sudah Bisa Dipesan di E-IPO Mulai Besok 1 April 2026
- Buy on pullback PTBA (Target harga: Rp 3.240, Stop loss: < Rp 2.940)
Berbeda dengan ADRO yang lebih export-oriented, PT Bukit Asam Tbk atau PTBA menawarkan kombinasi exposure terhadap pasar global dan stabilitas dari permintaan domestik Indonesia. Dalam konteks saat ini, kenaikan harga batu bara global tetap menjadi katalis positif, namun yang menarik adalah potensi peningkatan konsumsi domestik seiring upaya pemerintah menjaga ketahanan energi di tengah volatilitas global.
Selain itu, dengan struktur bisnis yang terintegrasi dan dukungan proyek hilirisasi, PTBA memiliki positioning yang lebih defensif dibanding peers. Hal ini membuat PTBA cocok sebagai pilihan bagi investor yang ingin tetap mendapatkan exposure komoditas dengan risiko yang relatif lebih terjaga.
- Buy on pullback LSIP (Target harga: Rp 1.415, Stop loss: < Rp 1.295)
Dari sektor agrikultur, PT PP Lonsum Indonesia Tbk atau LSIP menjadi salah satu beneficiary dari kenaikan harga minyak sawit yang terdorong oleh reli harga energi global. Lonjakan harga minyak mentah meningkatkan daya tarik biofuel, yang secara langsung berdampak pada permintaan CPO.
Ditambah lagi, kebijakan percepatan program biodiesel di Indonesia (B50) memberikan katalis domestik yang kuat bagi sektor ini. Meskipun terdapat potensi headwind dari penurunan permintaan India, secara keseluruhan outlook CPO masih didukung oleh faktor struktural, termasuk supply constraint dan tren energi alternatif.
LSIP, dengan fundamental yang solid dan eksposur terhadap harga CPO, menjadi pilihan menarik untuk menangkap momentum ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News