MOMSMONEY.ID - Simak panduan lengkap cara mengelola keuangan saat perceraian agar aset, utang, dan kebutuhan anak tetap terlindungi dengan bijak.
Perceraian bukan hanya soal berpisah secara emosional, tetapi juga memisahkan keuangan yang sudah lama menyatu.
Banyak orang baru menyadari rumitnya urusan finansial ketika harus membagi aset, utang, hingga tanggung jawab terhadap anak.
Jika tidak direncanakan dengan matang, kesalahan kecil bisa berdampak besar pada kondisi ekonomi di masa depan. Karena itu, pemahaman tentang pemisahan finansial menjadi kebutuhan penting bagi siapa pun yang sedang atau akan menghadapi perceraian.
Melansir dari Britannica Money, proses ini idealnya dilakukan dengan transparansi, dokumentasi yang jelas, dan pertimbangan jangka panjang.
“Pemisahan keuangan yang tertata sejak awal dapat mengurangi konflik dan membantu kedua pihak membangun stabilitas finansial baru,” mengutip dari laman Britannica Money.
Baca Juga: Kebiasaan Hemat di 2026 yang Membuat Keuangan Lebih Aman Tanpa Terlihat Pelit
Memahami arti pemisahan finansial
Pemisahan finansial adalah proses memisahkan seluruh hak dan kewajiban keuangan antara dua pihak yang bercerai. Ini mencakup pembagian aset, pengelolaan utang, hingga penyesuaian rekening dan investasi.
Tujuannya bukan sekadar membagi harta, tetapi menciptakan kejelasan agar tidak muncul masalah baru setelah perceraian selesai. Transparansi dan keterbukaan data keuangan menjadi kunci utama agar proses berjalan adil.
Mengenali harta bersama dan harta pribadi
Langkah awal yang penting adalah memahami perbedaan antara harta bersama dan harta pribadi. Umumnya, aset yang diperoleh selama pernikahan dianggap sebagai milik bersama, sementara yang dimiliki sebelum menikah termasuk harta pribadi.
Namun, bukti kepemilikan sangat menentukan. Dokumen pembelian, catatan transaksi, dan perjanjian tertulis akan sangat membantu jika terjadi perbedaan pandangan dalam pembagian aset.
Menata ulang rekening bank
Rekening bank sering menjadi titik rawan dalam perceraian. Banyak pasangan memiliki rekening bersama untuk kebutuhan rumah tangga. Buat daftar seluruh rekening yang ada, baik atas nama pribadi maupun bersama.
Jika belum memiliki rekening pribadi, sebaiknya segera membuka satu dan memisahkan arus pemasukan. Rekening bersama idealnya ditutup dan saldonya dibagi sesuai kesepakatan atau putusan hukum agar tidak menimbulkan risiko di kemudian hari.
Baca Juga: Kartu Kredit Digital, Pilihan Cerdas untuk Transaksi Praktis di Zaman Sekarang
Menyikapi utang dengan bijak
Utang tetap ada meski status pernikahan berakhir. Pinjaman atau kartu kredit atas nama bersama masih menjadi tanggung jawab kedua pihak sampai diselesaikan.
Menutup kartu kredit bersama dan mengalihkan utang ke satu pihak bisa menjadi solusi, asalkan disertai perubahan perjanjian secara resmi. Langkah ini penting untuk menjaga riwayat kredit dan menghindari beban finansial yang tidak adil.
Membagi investasi dan dana pensiun
Aset investasi membutuhkan perhatian ekstra karena sering berkaitan dengan pajak dan aturan khusus. Rekening investasi bersama dapat dicairkan lalu dibagi sesuai kesepakatan.
Untuk rekening individu, hakim atau mediator bisa mempertimbangkan kondisi ekonomi masing-masing pihak, terutama jika terdapat kesenjangan penghasilan.
Dana pensiun juga kerap dibagi demi menjaga keseimbangan finansial jangka panjang, terutama bagi pihak yang sebelumnya memiliki pendapatan lebih rendah.
Mengamankan aset digital
Di era digital, aset tidak hanya berbentuk fisik. Akun langganan, penyimpanan data, hingga akun belanja online juga perlu diatur ulang. Tentukan siapa yang berhak menggunakan akun tertentu dan segera ganti kata sandi untuk akun pribadi.
Langkah sederhana ini sering diabaikan, padahal sangat penting untuk keamanan dan privasi setelah perceraian.
Baca Juga: Cara Mudah Mencari Tambahan Penghasilan untuk Kebutuhan yang Mendesak
Memprioritaskan kebutuhan anak
Jika memiliki anak, pengaturan keuangan tidak bisa lepas dari kepentingan mereka. Biaya pendidikan, kesehatan, makanan, dan kegiatan pengembangan diri perlu dibahas secara terbuka.
Pembagian biaya bisa dilakukan secara proporsional sesuai penghasilan masing-masing pihak. Kesepakatan yang jelas membantu anak tetap mendapatkan stabilitas meski orang tua berpisah.
Peran profesional dalam proses perceraian
Mengelola pemisahan keuangan sendirian berisiko menimbulkan kesalahan. Bantuan penasihat keuangan dan ahli hukum dapat membantu melihat dampak jangka panjang dari setiap keputusan.
Dalam kondisi yang relatif damai, mediasi sering menjadi pilihan efektif. Namun, jika konflik tinggi, pendampingan hukum sangat disarankan agar hak dan kepentingan tetap terlindungi.
Memisahkan keuangan saat perceraian memang tidak mudah, tetapi bisa dijalani dengan lebih tenang jika direncanakan dengan baik.
Kejelasan aset, utang, dan tanggung jawab akan membantu kedua pihak melangkah ke fase hidup berikutnya dengan lebih stabil.
Fokus utama bukan hanya membagi harta, melainkan membangun fondasi finansial baru yang lebih sehat. Melalui pendekatan yang tepat, perceraian tidak harus berakhir dengan k
Selanjutnya: Passive Income Jadi Kunci Tabungan Stabil di Tengah Tantangan Ekonomi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News