MOMSMONEY.ID - Jakarta Doodle Fest (JDF) 2026 kembali menghadirkan Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done sebagai program utama. Pertunjukan ini merupakan pengembangan dari karya ilustrator lokal Michelle Sherrina atau yang dikenal dengan nama Sherchle ke dalam format teater musikal.
Berbeda dari pementasan perdananya pada November 2025, Musikal Absurd tahun ini hadir dengan durasi yang lebih panjang, yakni 90 menit. Sejumlah karakter baru juga ditambahkan untuk mengembangkan cerita.
Pertunjukan tersebut dipersembahkan oleh Jakarta Doodle Fest bersama Indonesia Kaya dan diproduksi kembali oleh Jakarta Art House. Pementasan menjadi bagian dari JDF 2026 yang berlangsung pada 4–5 September 2026 di Galeri Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Co-founder JDF dan TFR News Christine Laifa mengatakan, pengembangan Musikal Absurd tidak terlepas dari respons penonton terhadap pementasan sebelumnya.
Menurut dia, JDF sebelumnya menjadikan pertunjukan yang diadaptasi dari intellectual property (IP) kreator sebagai salah satu program pendamping. Namun, tingginya antusiasme terhadap Musikal Absurd membuat format tersebut kemudian ditempatkan sebagai program utama.
Dalam konferensi pers JDF 2026, Christine mengungkapkan bahwa respons penonton pada pementasan 2025 bahkan di luar ekspektasi. Pertunjukan tersebut digelar di Galeri Indonesia Kaya dengan kapasitas sekitar 150 penonton, tetapi antusiasme terhadap tiket gratis membuat antrean membludak.
"Antusiasmenya segitu tingginya. Makanya tahun ini dikembangkan kembali," ujar Christine dalam konferensi pers pada Jumat (4/9).
Baca Juga: Home Sweet Loan akan Tampil di Panggung Musikal, Hadirkan Lima Lagu Orisinal Idgitaf
Dari ilustrasi menjadi cerita musikal
Konsep Musikal Absurd berangkat dari upaya memperluas cara sebuah karya visual berinteraksi dengan audiens. Menurut Christine, JDF melihat banyak kreator visual yang tidak hanya memiliki ilustrasi, tetapi juga karakter dan cerita yang dapat dikembangkan menjadi IP.
Hal tersebut kemudian membuka kemungkinan untuk membawa karakter-karakter dari karya visual ke medium lain, termasuk pertunjukan langsung.
Dalam karya Sherchle, sejumlah ilustrasi, karakter, hingga tulisan yang sebelumnya hadir dalam karya visual menjadi materi yang kemudian dikembangkan ke dalam naskah pertunjukan.
Founder sekaligus Producer Jakarta Art House Fadli Hafizan mengatakan, keberadaan karakter dan cerita yang sudah kuat dari karya Sherchle justru membantu proses adaptasi.
Karakter-karakter tersebut kemudian dikembangkan agar memiliki cerita dan kehidupan di atas panggung. Salah satunya adalah Cibimaru Kocuan, yang sudah memiliki identitas sebagai karakter dalam karya visual sebelum diolah menjadi bagian dari cerita musikal.
"Karena karya sendiri sudah kuat, jadi tinggal napas kehidupannya ditambahkan," ujar Fadli.
Baca Juga: Pecinta Musik Jangan Sampai Lewatkan 7 Drakor Musikal Ini
Bukan sekadar komedi
Meski membawa label "absurd" dan mengandalkan humor, pertunjukan ini tidak semata-mata ditujukan sebagai hiburan ringan.
Cerita berpusat pada Vina Panduanidup, perempuan berusia 29 tahun yang merupakan pekerja ibu kota dan mulai kehilangan makna hidup. Dalam perjalanan cerita, Vina berinteraksi dengan berbagai makhluk dari alam khayalan Absurd. Melalui musik, seni visual, dan emosi, penonton diajak mengikuti perjalanan Vina dalam menelusuri kembali memori serta menemukan alasan untuk terus menjalani hidup.
Aulion yang kembali dipercaya sebagai sutradara mengatakan, salah satu kekuatan pertunjukan ini adalah kedekatannya dengan pengalaman sehari-hari.
Ia menyebut Musikal Absurd sebagai karya yang "jujur" karena cerita di dalamnya banyak mengambil situasi yang dekat dengan kehidupan orang-orang yang menjalani rutinitas dan berbagai tekanan hidup.
"Kita ingin menertawakan hidup," ujar Aulion kepada media.
Pandangan serupa disampaikan Fadli. Menurutnya, di balik kemasan yang ringan dan menghibur, Musikal Absurd membawa pesan mengenai beban hidup serta pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri untuk kembali mengingat sisi kanak-kanak atau inner child.
"Musikal ini merupakan musikal ringan namun mempunyai makna yang sangat besar," kata Fadli.
Baca Juga: Galeri Indonesia Kaya Meriahkan HUT ke-499 Jakarta Lewat Pertunjukan Lenong Betawi
Karakter baru dan semesta Absurd
Pengembangan tahun ini juga dilakukan melalui penambahan karakter. Salah satunya Christuna Aguillera yang diperankan Ode Waode. Sejumlah pemain dari pementasan sebelumnya juga kembali, di antaranya Made Aurellia sebagai Vina Panduanidup, Pila sebagai Mamah, dan Uyo sebagai Sugeng.
Aulion mengatakan, karakter-karakter dalam pertunjukan tidak hadir tanpa latar belakang. Mereka merupakan representasi berbagai pengalaman dan persoalan yang menemani perjalanan hidup Vina.
Ia juga memberikan sedikit gambaran mengenai karakter Haji Sincan dan Sugeng. Haji Sincan, misalnya, digambarkan sebagai sosok yang berkaitan dengan masa lalu Vina ketika tinggal di Condet. Sementara Sugeng merupakan karakter yang juga memiliki latar cerita tersendiri dalam kehidupan Vina.
Tidak hanya melalui panggung, JDF 2026 juga menghadirkan "Komplek Absurd" yang memungkinkan pengunjung menikmati elemen-elemen dari semesta karya Sherchle secara langsung.
Area tersebut menghadirkan sejumlah instalasi dan elemen yang sebelumnya muncul dalam ilustrasi, termasuk Pecel Hehe, Kremes-Kremes Kehidupan, Warung Ncik Sherchle, Fotokopi Bang Jali, Toko Kembang Absurd by Rosette Florist, Kedai Es Yuzurly by Kaeru Yuzu, serta Balai Warga Absurd.
Eksplorasi IP kreator lokal
Pengembangan Musikal Absurd juga mencerminkan arah baru JDF dalam mengembangkan IP kreator visual. Jika sebelumnya JDF dikenal melalui creator's market, workshop, dan kegiatan yang mempertemukan kreator dengan audiens, pada penyelenggaraan keempat ini fokus diperluas ke pengalaman dan pertunjukan.
Christine mengatakan, ke depan JDF masih akan mengeksplorasi kemungkinan mengembangkan IP kreator ke dalam berbagai bentuk pengalaman, baik pertunjukan maupun format live experience lainnya.
Bagi Sherchle, pengembangan karyanya menjadi pertunjukan untuk kedua kalinya merupakan pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia mengaku terharu melihat karya yang awalnya hadir dalam bentuk ilustrasi kemudian dihidupkan oleh para kolaborator di atas panggung.
"Saking nggak pernah kebayang. Kayak ilustrator, kok karyanya jadi musikal," ujar Sherchle dalam konferensi pers.
Dengan pendekatan tersebut, JDF tidak hanya mempertemukan karya visual dengan penikmatnya, tetapi juga mencoba membuka kemungkinan baru bagi IP kreator lokal untuk menjangkau audiens melalui medium yang berbeda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News