MOMSMONEY.ID - Menikah lagi di usia 65 tahun? Simak 7 persiapan keuangan penting agar dana pensiun, aset, kesehatan, dan warisan keluarga tetap aman.
Menemukan pasangan baru di usia 65 tahun ke atas bisa menjadi kesempatan untuk menikmati kebahagiaan bersama.
Namun, menikah kembali pada usia matang juga membutuhkan persiapan, terutama dalam urusan keuangan dan masa depan keluarga.
Pasalnya, setiap pasangan mungkin sudah memiliki tabungan, rumah, investasi, hingga tanggungan dari pernikahan sebelumnya.
Jika tidak dibicarakan sejak awal, perbedaan kondisi finansial bisa memicu persoalan setelah menikah.
Melansir dari situs Investopedia, perencanaan keuangan sebelum pernikahan membantu pasangan memahami tanggung jawab masing-masing dan menghindari masalah finansial di kemudian hari.
"Menikah kembali di usia matang bukan hanya soal menyatukan hati, tetapi juga menyelaraskan aset, kewajiban, dan rencana masa depan," mengutip dari Investopedia.
Baca Juga: Mengenal Cek dan Bilyet Giro, Ini Perbedaan Fungsi dan Aturan Pentingnya
1. Membicarakan utang dan kondisi keuangan
Sebelum menikah, penting bagi kedua pasangan untuk saling terbuka mengenai kondisi keuangan. Mulai dari cicilan rumah, pinjaman, kartu kredit, hingga pengeluaran rutin perlu dibicarakan sejak awal.
Melansir dari situs limraconsumer, hubungan baru pada usia lanjut juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kemandirian finansial dan kesejahteraan keluarga.
Keterbukaan ini membantu pasangan menentukan tanggung jawab masing-masing dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga tanpa menimbulkan kesalahpahaman.
2. Mengatur pendapatan dan dana pensiun
Setiap pasangan mungkin memiliki sumber penghasilan berbeda, seperti dana pensiun, tabungan, investasi, atau pendapatan usaha.
Karena itu, penting untuk menentukan apakah seluruh keuangan akan digabung atau tetap dikelola secara terpisah.
Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah membuka rekening bersama untuk kebutuhan rumah tangga, sementara rekening pribadi tetap dipertahankan agar masing-masing memiliki kebebasan mengatur pengeluaran.
3. Memahami dampak terhadap tunjangan pensiun
Menikah kembali dapat memengaruhi sejumlah manfaat pensiun, khususnya bagi seseorang yang menerima tunjangan dari pasangan sebelumnya.
Dalam sistem Social Security Amerika Serikat, misalnya, pernikahan kembali dapat mengubah hak atas tunjangan mantan pasangan atau pasangan yang telah meninggal dunia.
Namun, aturan tersebut berbeda dengan sistem jaminan sosial Indonesia. Karena itu, calon pasangan perlu memeriksa kembali ketentuan program pensiun dan manfaat BPJS yang dimiliki masing-masing.
4. Memperbarui surat wasiat dan warisan
Persoalan warisan perlu mendapat perhatian, terutama jika masing-masing pasangan sudah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya.
Pastikan dokumen penting seperti surat wasiat, kepemilikan properti, asuransi, dan daftar penerima manfaat diperiksa kembali.
Di Indonesia, pembagian warisan memiliki ketentuan hukum tersendiri. Konsultasi dengan ahli hukum dapat membantu menghindari perselisihan keluarga pada masa mendatang.
5. Menyiapkan biaya kesehatan
Kebutuhan kesehatan biasanya semakin penting seiring bertambahnya usia. Pasangan perlu memperhitungkan biaya pemeriksaan rutin, obat-obatan, rawat inap, hingga kemungkinan perawatan jangka panjang. Beberapa hal yang perlu disiapkan antara lain:
- Memastikan kepesertaan BPJS Kesehatan.
- Menyiapkan dana darurat kesehatan.
- Memeriksa perlindungan asuransi.
- Menghitung biaya pengobatan rutin.
- Membicarakan rencana perawatan jika salah satu pasangan sakit.
Persiapan ini membantu menjaga kondisi keuangan agar tidak mudah terganggu ketika muncul kebutuhan medis.
Baca Juga: Loss Aversion dalam Investasi: Kenali Rasa Takut Rugi dan Cara Mengatasinya
6. Memeriksa kembali kewajiban pajak
Pernikahan juga dapat memengaruhi administrasi perpajakan pasangan. Terlebih jika keduanya memiliki penghasilan, investasi, atau usaha masing-masing.
Di Indonesia, pasangan perlu memahami ketentuan perpajakan mengenai penghasilan suami dan istri, termasuk pilihan penggabungan maupun pemisahan kewajiban sesuai aturan yang berlaku.
Jika kondisi keuangan cukup kompleks, berkonsultasi dengan konsultan pajak bisa menjadi langkah yang tepat.
7. Menentukan kepemilikan rumah dan properti
Rumah dan properti juga perlu dibicarakan sebelum menikah. Apalagi jika salah satu pasangan sudah memiliki rumah sendiri, sedangkan lainnya masih mempunyai cicilan.
Tentukan apakah akan tinggal bersama, membeli rumah baru, atau mempertahankan tempat tinggal masing-masing.
Ada pula konsep Living Apart Together (LAT), yaitu pasangan tetap menjalin hubungan tanpa harus tinggal dalam satu rumah. Pilihan ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mempertahankan kemandirian sekaligus menikmati kebersamaan.
Pada akhirnya, keterbukaan menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan baru. Jangan ragu membicarakan aset, utang, kebutuhan keluarga, hingga rencana masa pensiun sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Pasangan juga perlu berhati-hati terhadap penipuan berkedok hubungan asmara, terutama jika seseorang yang baru dikenal mulai meminta uang atau informasi rekening pribadi.
Menikah kembali di usia 65 tahun bukan berarti harus mengorbankan kemandirian finansial. Kesepakatan yang jelas dan perencanaan matang, kebahagiaan bersama tetap bisa berjalan tanpa mengabaikan keamanan keuangan serta masa depan keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News