MOMSMONEY.ID - Kenali loss aversion dalam investasi, dampaknya terhadap keputusan finansial, serta cara mengendalikan rasa takut rugi agar lebih bijak.
Dalam investasi, rasa takut kehilangan uang terkadang justru membuat seseorang mengambil keputusan yang kurang tepat.
Kondisi ini dikenal sebagai loss aversion, yaitu kecenderungan seseorang merasa lebih takut mengalami kerugian dibandingkan mendapatkan keuntungan dengan nilai yang sama.
Bias psikologis ini sering muncul ketika harga aset mengalami penurunan atau investasi tidak berjalan sesuai harapan.
Melansir dari Sahabat Pegadaian, loss aversion dapat memengaruhi cara investor menilai risiko dan menentukan keputusan finansial.
"Memahami bias psikologis menjadi langkah penting agar investor tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa takut," mengutip dari Sahabat Pegadaian.
Baca Juga: 10 Kebiasaan Orang Kaya yang Bisa Mengubah Cara Anda Mengelola Uang buat Masa Depan
Apa itu loss aversion?
Loss aversion adalah kondisi ketika seseorang merasa kehilangan uang jauh lebih menyakitkan dibandingkan kebahagiaan saat memperoleh keuntungan dengan jumlah yang sama.
Dalam investasi, kondisi ini bisa membuat seseorang enggan menjual aset yang terus merugi karena berharap harganya kembali naik.
Sebaliknya, ada juga investor yang buru-buru menjual aset ketika harga mulai turun karena takut mengalami kerugian lebih besar.
Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut bisa mengganggu strategi investasi dan membuat keputusan menjadi kurang rasional.
Dampak loss aversion dalam investasi
Rasa takut kehilangan uang memang wajar. Namun, jika terlalu mendominasi, investor bisa mengalami beberapa dampak berikut.
1. Menunda keputusan cut loss
Investor terkadang enggan menjual aset yang nilainya turun karena tidak ingin mengakui kerugian. Padahal, jika kondisi fundamental aset sudah berubah, mempertahankannya justru berpotensi memperbesar kerugian.
2. Kehilangan peluang investasi lain
Terlalu fokus menunggu aset kembali menguntungkan bisa membuat investor melewatkan peluang pada instrumen lain yang lebih sesuai dengan tujuan keuangan.
3. Mengambil keputusan karena emosi
Rasa takut dapat membuat investor menjual aset secara terburu-buru. Sebaliknya, harapan mendapatkan kembali modal juga bisa membuat seseorang mempertahankan investasi tanpa pertimbangan yang matang.
Cara menghindari loss aversion saat berinvestasi
Agar tidak mudah terbawa emosi ketika menghadapi perubahan harga, ada beberapa kebiasaan yang bisa mulai diterapkan.
1. Tentukan tujuan investasi
Tentukan sejak awal tujuan dan jangka waktu investasi. Dengan begitu, kamu memiliki pedoman untuk menghadapi fluktuasi harga tanpa harus mengubah strategi setiap saat.
Baca Juga: Gaya Hidup Makin Mahal, 5 Pengeluaran Ini Perlu Dipikirkan Ulang oleh Kelas Menengah
2. Buat batas risiko
Tentukan jumlah dana, target keuntungan, serta batas kerugian yang sanggup ditanggung. Perencanaan ini membantu kamu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang sudah dibuat.
3. Pilih informasi terpercaya
Jangan mudah terpengaruh kabar atau opini di media sosial. Periksa informasi dari sumber kredibel sebelum memutuskan membeli atau menjual aset.
4. Lakukan diversifikasi
Jangan hanya bergantung pada satu instrumen investasi. Kamu bisa mempertimbangkan kombinasi saham, obligasi, dan emas sesuai profil risiko. Diversifikasi membantu menyebarkan risiko, meskipun tidak menjamin keuntungan.
5. Evaluasi portofolio secara berkala
Periksa perkembangan investasi secara terjadwal, misalnya setiap bulan. Perhatikan kinerja aset, kondisi pasar, dan kesesuaiannya dengan tujuan keuangan.
Pentingnya mengendalikan emosi dalam investasi
Investasi bukan hanya soal memilih aset yang berpotensi memberikan keuntungan, tetapi juga kemampuan mengelola emosi ketika menghadapi risiko.
Memahami loss aversion membantu investor menyadari kapan rasa takut mulai memengaruhi keputusan. Dengan begitu, setiap langkah bisa dipertimbangkan berdasarkan data, kondisi aset, dan rencana keuangan.
Pada akhirnya, kerugian merupakan salah satu risiko yang perlu dipahami dalam investasi. Hal terpenting adalah tidak membiarkan rasa takut mengendalikan seluruh keputusan finansial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News