MOMSMONEY.ID - Bagi banyak orang di kota, produk minyak pijat, aromaterapi, sabun herbal, lilin wangi, atau parfum padat, mungkin hadir sebagai bagian dari rutinitas relaksasi. Produk-produk itu dipakai setelah hari yang panjang, di ruang spa, hotel, atau rumah, untuk membantu tubuh kembali tenang.
Namun, di balik rasa nyaman dan aroma alami tersebut, ada rantai produksi yang jarang terlihat. Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, berada di kawasan yang rentan banjir pasca gempa dan hujan ekstrem. Banjir berulang antara 2020 hingga 2021 berdampak pada sekitar 1.365 orang dan mengubah lahan pertanian subur menjadi hamparan pasir.
Di tengah kondisi itu, Dilah Sahim (29 tahun), Direktur Badan Usaha Milik Desa Pulu, memperkenalkan sereh wangi sebagai tanaman pemulih. Akarnya membantu memperkuat bantaran sungai, dan bersama bambu, tanaman ini dipakai menahan erosi.
"Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan," kata Dilah, dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7).
Baca Juga: Kulit Sehat Maksimal, Ini 8 Manfaat Minyak Zaitun untuk Bebas Kering Seharian
Nilai ekonominya baru muncul kemudian, ketika daun sereh wangi mulai disuling menjadi minyak esensial, bahan utama berbagai produk spa dan perawatan tubuh. Dari sinilah lahir Lana Tumbavani. Namanya diambil dari bahasa Kaili, "lana" berarti minyak dan "tumbavani" berarti sereh.
Melalui Lana Tumbavani, sereh wangi dari Desa Pulu tidak lagi hanya berfungsi sebagai tanaman penahan erosi, tetapi juga menjadi bahan utama produk berbasis bahan alami.
Usaha ini kemudian berkembang ke berbagai produk turunan, mulai dari minyak pijat, sabun herbal dengan campuran daun kelor lokal, lilin berbasis lilin lebah, hingga parfum padat. Kini, produk Lana Tumbavani telah digunakan sebagai amenities di berbagai destinasi pariwisata.
Tanpa campuran aroma sintetis
Bagi konsumen yang terbiasa dengan produk perawatan tubuh pabrikan, angka produksinya mungkin mengejutkan. Sereh wangi membutuhkan sekitar delapan bulan sejak tanam hingga panen pertama, dan setelah itu panen berjalan setiap tiga bulan.
Dari sekitar 200 kilogram daun, hanya dihasilkan kurang lebih 200 mililiter minyak murni. Tidak ada campuran aroma sintetis atau bahan tambahan lain. Rasio yang sangat kecil ini yang membuat setiap tetesnya bernilai, sekaligus membatasi volume produksinya.
Baca Juga: Rahasia Rahim Sehat, Ini 5 Manfaat Sereh untuk Kesehatan Wanita
Justru keterbatasan itu yang menjadi daya tariknya. Kualitas minyak Lana Tumbavani menarik pembeli dari luar Indonesia, termasuk dari Malaysia, Nepal, dan Amerika Serikat. Lini produknya kini berkembang ke minyak pijat, sabun herbal dengan campuran daun kelor lokal, lilin berbasis lilin lebah, dan parfum padat.
Skalanya memang masih kecil. Pada 2024 hingga awal 2025, sekitar 3 sampai 4 rumah tangga terlibat dalam rantai produksi. Pendampingan dari Gampiri Interaksi melalui program inkubasi GIAT 2.0 membantu usaha ini menata struktur biaya, kapasitas produksi, strategi harga, dan kesiapan pasar.
Ke depan, arah pengembangan Lana Tumbavani tetap bertumpu pada prinsip bahwa peningkatan kapasitas produksi hanya dilakukan sejauh tidak melampaui kemampuan lahan untuk pulih.
"Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama," kata Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi.
Dilah menambahkan, kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk, dan tidak akan ada pendapatan. Yang kami lakukan hanya membuktikan bahwa merawat alam bisa langsung berdampak ke ekonomi warga.
Praktik dari Desa Pulu ini menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas. Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), asosiasi pemerintah kabupaten, mendorong kemandirian daerah melalui ekonomi restoratif, model yang memulihkan alam sekaligus menumbuhkan kesejahteraan.
Lana Tumbavani dipandang sebagai praktik nyata pendekatan tersebut, yang diperkuat lewat dukungan ekosistem, kolaborasi multi pihak, dan ruang promosi seperti Sustainable District Outlook dan Suara Selatan-Selatan.
Baca Juga: 8 Khasiat Konsumsi Teh Sereh untuk Kesehatan Tubuh Anda
“Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh,” ujar Nedya
Di tengah meningkatnya minat pada produk wellness berbahan alami dan berkelanjutan, cerita seperti ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Konsumen tidak diminta percaya pada label, tetapi bisa mengikuti jejaknya: dari bantaran sungai di Sigi, Sulawesi Tengah, ke proses penyulingan desa, sampai ke botol kecil di meja spa.
Dari Desa Pulu, produk spa organik ini membawa cerita tentang pemulihan lahan, keterlibatan komunitas, dan ekonomi restoratif yang menjadikan alam sebagai titik awal pertumbuhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News