MOMSMONEY.ID - Tanggal kembar selalu identik dengan hari belanja. Biasanya kita bisa mendapatkan diskon besar-besaran di tanggal-tanggal tersebut.
Dari sisi pemilik brand pun, penjualannya bisa mencatatkan lonjakan cukup signifikan, hingga 7- 9 kali lipat dari hari biasanya. Namun, angka tersebut belum tentu menggambarkan kondisi bisnis yang sebenarnya.
Gross merchandise value (GMV) hanya menunjukkan berapa banyak uang yang masuk melalui checkout, bukan berapa laba yang diperoleh berapa banyak pembeli yang kembali setelah promo berakhir.
“Promo bisa mendatangkan volume, tetapi yang menentukan apakah volume tersebut menjadi nilai jangka panjang adalah bagaimana brand mengelola stok, pengiriman, dan hubungan dengan pelanggan,” ujar Ronak Modi, Chief Business Officer - Global, Fynd dalam keterangan tertulis Senin (26/10).
Baca Juga: Jangan Kalap, Ini Tips Belanja Saat Promo Tanggal Kembar
Nah menjelang harbolnas 12.12, Fynd mengingatkan pemilik brand untuk memperhatikan persoalan-persoalan tersebut. Perusahaan teknologi dan ecommerce berbasis AI ini berbagi tips bagi pemilik usaha untuk menghadapi lonjakan GMV saat harbolnas :
1. Hitung laba yang kamu peroleh, bukan hanya angka penjualan
Penjualan yang tinggi tidak otomatis mengantongi laba yang besar. Untuk mengetahui keuntungan yang sebenarnya, hitung Peak P&L di tingkat per pesanan, yaitu pendapatan kotor dikurangi diskon bertumpuk, batas atas komisi platform, biaya iklan berbasis lelang, serta cadangan retur di bulan Januari.
Perlu menetapkan batas minimum per pesanan (contribution floor) sebelum kampanye dimulai, agar tidak menjual rugi demi mengejar angka. Jadikan laba di setiap kanal sebagai tolok ukur keberhasilan, bukan total penjualan.
2. Perbaiki kebocoran operasional sebelum pengunjung membanjiri toko
Saat pekan kampanye berlangsung, setiap kelemahan operasional yang diabaikan dapat menimbulkan biaya hingga sepuluh kali lipat dari biasanya.
Salah satu permasalahan yang sering muncul adalah produk terlihat habis di online padahal stok di toko fisik masih ada dan juga spiral oversell yang berujung pada penalti pembatalan dan turunnya peringkat pencarian setelah kampanye.
Satukan stok dari semua kanal ke dalam satu pool yang sama untuk menutup celah ini sebelum trafik melonjak.
Jika usahamu bergerak di kategori fesyen, kamu perlu lebih waspada. Pada umumnya, 30% - 40% pesanan pakaian berakhir dengan retur dan 70% diantaranya karena ukuran yang tidak pas.
Baca Juga: Tak Cuma Harga, Ini yang Dipertimbangkan Konsumen Sebelum Belanja
3. Pastikan tetap bisa mengenal pembeli setelah transaksi selesai
Setelah promo berakhir, banyak brand tidak mengetahui siapa yang membeli produknya di marketplace. Pasalnya pihak marketplace memang memberikan data transaksi dan ada aturan platform yang membatasi kontak langsung dengan pembeli.
Untuk itu, pemilik brand perlu menyertakan manfaat tambahan di dalam paket, seperti pendaftaran garansi atau layanan tukar ukuran, agar pembeli memiliki alasan yang wajar untuk menghubungi kamu melalui kanal usaha kita sendiri.
4. Gunakan marketplace agar brand ditemukan, dan agar toko diingat
Marketplace dan toko milik sendiri bukan dua kanal yang bersaing, melainkan saling melengkapi. Lebih dari 85% transaksi e-commerce Indonesia diproses oleh grup marketplace besar, sehingga kanal ini tetap tidak tergantikan.
Namun, jika bergantung sepenuhnya pada platform pihak ketiga, brand kita akan ikut terdampak setiap kali struktur biayanya berubah.
Sejak penyesuaian biaya platform pada Mei 2026, total potongan platform dan logistik sudah mencapai 10%- 20% dari harga jual. Beberapa merek lokal seperti True to Skin, Raecca, Noera Beauty Care, Iumi, dan Watch Story secara terbuka mengalihkan fokus ke website mereka sendiri.
5. Siapkan langkah lanjutan untuk 45 hari setelah 12.12
Periode 45 hari setelahnya justru menentukan apakah musim promo benar-benar menciptakan nilai, atau sekadar "meminjam" permintaan dari bulan-bulan berikutnya. Sebaiknya, pada periode ini, pisahkan pembeli baru dari para pemburu diskon, lalu bangun hubungan dengan mereka terlebih dahulu sebelum menawarkan produk dengan harga normal.
Jangan lupa untuk mengelola retur, layanan pelanggan, dan penawaran lanjutan dalam satu sistem yang sama, agar lonjakan penjualan dari kampanye berubah menjadi pelanggan jangka panjang.
Untuk membantu brand menjalani transisi ini secara lebih optimal, Fynd menghadirkan platform AI-native omnichannel commerce yang menyatukan pengelolaan inventaris real-time, data pelanggan, dan pemrosesan pesanan dari berbagai kanal ke dalam satu lapisan operasional. Dengan begitu, dapat terhindar dari kehabisan stok, menjaga margin bottom line, dan mengubah pembeli musiman menjadi pelanggan tetap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News