MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global turun, menghapus kenaikan pekan lalu. Risiko inflasi yang terus berlanjut tetap menjadi beban, bahkan setelah kenaikan suku bunga pertama Federal Reserve sejak 2023.
Mengutip Bloomberg, Senin (21/9), harga emas spot diperdagangkan turun 0,56% menjadi US$ 4.353,97 per troi ons pada pukul 16.18 WIB. Penurunan harga emas hari ini menghapus kenaikan kecil yang dicapai pekan lalu.
Beberapa pembuat kebijakan The Fed dijadwalkan akan berbicara di depan umum pekan ini, setelah mereka memberikan suara bulat untuk menaikkan suku bunga 25 bps pada pertemuan 15-16 September lalu. Langkah ini merupakan upaya untuk mendinginkan inflasi yang selama lebih dari lima tahun belum turun di bawah target 2% The Fed.
Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, orang pertama yang angkat bicara pada Minggu. Ia mengatakan bahwa inflasi tetap tinggi dan tekanan telah meluas melampaui guncangan harga minyak akibat perang Iran. Inflasi yang dirasakan Amerika setiap hari jauh melampaui harga minyak, inflasi terjadi di semua aspek ekonomi," katanya dalam wawancara tevelisi, sebagaimana dilansir Bloomberg hari ini.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Jadi Rp 2.628.000 per Gram, Buyback Melonjak Rp 25.000
Presiden Federal Reserve Chicago, Austin Goolsbee, dijadwalkan berbicara pada Senin sore, dan Presiden Federal Reserve New York, John Williams pada Selasa.
Sementara, harga minyak Brent turun untuk hari keempat berturut-turut, tetapi tetap di atas US$ 100 per barel, karena para pedagang memantau upaya dilplomatik untuk mengakhiri perang AS-Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia mungkin terbuka untuk bertemu dengan mitranya dari Iran, Masoud Pezeshkian, di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.
Investor merasa tenang setelah Ketua Fed Kevin Warsh menaikkan suku bunga pekan lalu, meskipun Trump berulang kali menyerukan penurunan suku bunga.
Justin Lin, analis di Global X ETFs, mengatakan, kita sebagian besar telah melewati narasi independensi Fed setelah kenaikan suku bunga oleh Warsh. Sementara panduan ke depan tentang suku bunga secara umum sesuai dengan yang diperkirakan, sehingga emas tidak memiliki narasi riil dan relatif sedikit katalis baru dalam jangka pendek.
"Dalam periode tenang ini, emas kemungkinan akan diperdagangkan lebih erat berdasarkan pergerakan harga minyak dan prospek inflasi secara lebih luas," kata Lin mengutip Bloomberg, Senin (21/9).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News