M O M S M O N E Y I D
Santai

Humanis: Aksi Iklim yang Adil Harus Sensitif Gender

Humanis: Aksi Iklim yang Adil Harus Sensitif Gender
Reporter: Danielisa Putriadita  |  Editor: Danielisa Putriadita


MOMSMONEY.ID - Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis) memandang perlu adanya keadilan gender dalam aksi iklim. Untuk itu, Humanis menyelenggarakan hajatan yang bertajuk Ruang Setara dan Lestari pada 13-14 Juni 2025.

Inisiatif ini untuk memastikan cerita-cerita mengenai perempuan dalam krisis iklim ini tak terlewatkan atau dilupakan. Acara ini sengaja dirancang sebagai wadah kolaborasi antar organisasi dan komunitas gender dan iklim untuk berkumpul,

Ruang Setara dan Lestari tak hanya menghadirkan cerita dari serangkaian diskusi, namun juga Pameran Komunitas, pameran seni “Merawat Keresahan Bumi”, penayangan film “Mendadak Sinema”, panggung seni “Panggung Setara”, bahkan rangkaian permainan interaktif dengan pengunjung yang datang seperti acara “Tur Tara Tari”.

Di Ruang Setara dan Lestari, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa aksi iklim yang adil harus sensitif gender, harus melibatkan seluruh pemangku hak, termasuk perempuan.

Berkolaborasi dengan lebih dari 20 organisasi dan komunitas yang bergerak di isu gender dan iklim, Ruang Setara dan Lestari hadir sebagai ruang alternatif untuk menggaungkan inisiatif dan aksi iklim yang sensitif gender dan tidak melupakan orang-orang yang selama ini terpinggirkan. 

Krisis iklim, atau lebih sering dikenal sebagai perubahan iklim, tak serta merta adil. Peninggalan dari sejarah panjang kolonialisme ditambah lagi dengan model ekonomi yang mengutamakan ekstraktivisme memperlebar kesenjangan yang memang sudah ada. Tak jarang orang-orang dengan andil paling kecil dalam krisis iklim malah jauh lebih parah terdampak akibat kerusakan alam. 

Perempuan, dengan segala ragam identitasnya, adalah salah satu kelompok yang paling terdampak krisis iklim. Perempuan adalah kelompok yang lebih cenderung bergantung kepada hasil pertanian dan sumber daya alam untuk penghidupan mereka, dan seringkali juga keluarga mereka. 

Karena budaya patriarki juga, perempuan bertanggung jawab untuk menyediakan makanan dan air bersih untuk keluarga. Di daerah terpinggirkan, kelangkaan air karena krisis iklim lebih membebani perempuan yang harus berjalan lebih jauh, memasuki daerah yang lebih rawan,hanya untuk mendapatkan air bersih untuk keluarganya.

Walaupun paling terdampak, perempuan seringkali disingkirkan dalam pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan mengenai iklim. Kebijakan iklim menjadi tak sensitif gender. Misalnya, ketika bencana alam terjadi, perempuan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan penanggulangan bencana Akibatnya, banyak upaya adaptasi dan mitigasi terhadap krisis iklim yang tak mengatasi permasalahan yang dihadapi perempuan atau malah memperparah kesenjangan.

Baca Juga: Penetapan OVNI di Kawasan Industri Ciptakan Iklim Investasi Kondusif

Dalam acara Puan Bercerita di Ruang Setara dan Lestari, Asmania dari Perempuan Pulau Pari bercerita, sebagai perempuan yang berjuang, tantangannya tidak hanya dari luar. Seringkali, suara perempuan dipandang sebelah mata. "Ketika rapat, hanya disuruh menyeduh kopi,” kata Asmania. 

Cerita serupa diutarakan oleh Iren Fatagur, perempuan adat Keerom dari FAMM Indonesia. “Ketika menyuarakan pendapat, saya pernah mendengar, perempuan jangan berbicara, lelaki sudah membuat keputusan,” kata Iren. 

Namun hambatan struktural dan budaya ini tak menghalangi banyak perempuan seperti Iren dan Asmania untuk melakukan inisiatif iklim dan menjadi tonggak perubahan untuk komunitasnya. Asmania mengorganisir dan membentuk kelompok Perempuan Pulau Pari, yang menanam bakau untuk mencegah abrasi dan membersihkan pantai untuk pariwisata warga.

Iren juga memiliki inisiatif untuk menanam bersama Mama-Mama di Keerom untuk menanam, membuat obat tradisional, hingga akhirnya perempuan di Keerom terlibat dalam musyawarah di kampung.

Farwiza Farhan perempuan yang juga aktif dalam isu iklim, dari Yayasan HAkA, berujar bahwa perempuan harus menjadi perempuan keras kepala yang percaya bahwa perubahan itu juga milik perempuan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

8 Makanan Alami untuk Stabilkan Gula Darah yang Tinggi Serat

Tahukah bahwa ada beberapa makanan alami untuk stabilkan gula darah yang tinggi serat, lo. Ini dia daftarnya!

7 Rekomendasi Makanan yang Bisa Mencegah Sembelit, Tinggi Serat!

Cek beberapa rekomendasi makanan yang bisa mencegah sembelit berikut ini, yuk!                       

Jangan Abaikan! Ini 9 Tanda Terlalu Banyak Konsumsi Garam pada Tubuh

Ternyata ini, lo, tanda terlalu banyak konsumsi garam pada tubuh yang penting Anda ketahui. Apa saja?

Kabupaten dan Kota Ini Hujan Sangat Lebat, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (6/3)

Peringatan dini BMKG cuaca besok Jumat 6 Maret 206 dengan status Siaga hujan sangat lebat di kabupaten dan kota di Indonesia berikut ini.

5 Sayuran yang Efektif Menurunkan Tekanan Darah Tinggi secara Alami

Ada beberapa sayuran yang efektif menurunkan tekanan darah tinggi secara alami, lo. Intip selengkapnya di sini, yuk!

Jadwal Buka Puasa Kota Probolinggo Ramadan 5 Maret 2026 dari Kemenag

Mari intip jadwal buka puasa Kota Probolinggo Ramadan 5 Maret 2026 dari Kemenag berikut ini. Jangan lupa catat, ya!

Jadwal Buka Puasa Kota Madiun Ramadan 5 Maret 2026 dari Kemenag

Cek dan catat jadwal buka puasa Kota Madiun Ramadan 5 Maret 2026 dari Kemenag resmi berikut ini, yuk!

Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (6/3) di Jabodetabek, Hujan Sangat Lebat di Mana?

Peringatan dini BMKG cuaca besok Jumat (6/3) di Jabodetabek dengan status Siaga hujan sangat lebat dan Waspada hujan lebat di daerah berikut ini.

5 Manfaat Jalan Kaki Setelah Makan untuk Gula Darah hingga Jantung, Cek Faktanya

Ada 5 manfaat jalan kaki setelah makan untuk kesehatan. Salah satunya menurunkan gula darah, berikut informasi selengkapnya.

Jadwal Buka Puasa Kota Kediri Ramadan 5 Maret 2026 dari Kemenag

Yuk, intip jadwal buka puasa Kota Kediri Ramadan 5 Maret 2026 dari Kemenag berikut ini.