MOMSMONEY.ID - Harga emas hari ini di pasar global relatif stabil, karena pelemahan dollar AS mengimbangi ketegangan di Selat Hormuz.
Mengutip Bloomberg, Selasa (8/9), harga emas spot diperdagangkan turun tipis sekitar US$ 2 menjadi US$ 4.402,56 per troi ons pada pukul 14.18 WIB.
Dollar AS melemah terhadap yen, karena ekspektasi Bank of Japan akan menaikkan suku bunga. Pelemahan dollar membuat emas batangan yang dihargai dalam mata uang AS menjadi lebih kompetitif bagi banyak pembeli.
Namun, penguatan harga emas dibatasi oleh risiko inflasi yang timbul dari gangguan aliran energi melalui Hormuz. Harga minyak mendaki pekan ini setelah bentrokan kembali terjadi antara AS dan Iran, dengan harga minyak acuan Brent mendekati US$ 100 per barel.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Loyo, Faktor Minyak Ikut Menekan
Para pedagang sekarang memperkirakan 60% kemungkinan bagi Federal Reserve menaikkan suku bunga paling cepat minggu depan. Kebijakan moneter yang lebih ketat biasanya menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan bunga.
Data harga konsumen AS yang akan dirilis akhir pekan ini diperkirakan akan memberikan petunjuk penting mengenai kemungkinan keputusan bank sentral tentang suku bunga pada pertemuan 15-16 September.
Menurut Christopher Wong, ahli strategi di Oversea-Chinese Banking Corp., harga minyak yang lebih tinggi membuat kekhawatian inflasi tetap ada. Jadi data PPI dan CPI AS minggu ini akan menjadi kunci dalam menentukan apakah suku bunga akan terus naik atau turun," katanya mengutip Bloomberg, hari ini.
Setelah memantu dari titik terendah sekitar US$ 4.000 per troi ons pada Juli, harga emas telah stabil dalam kisaran relatif sempit di sekitar US$ 4.400, dengan para pedagang berulang kali menilai kembali prospek kebijakan moneter The Fed.
Baca Juga: Harga Emas dan Buyback Antam Hari Ini (8/9) Turun Rp 10.000, Cek Harga Terbaru
Terlepas dari tantangan jangka pendek, banyak investor bertaruh bahwa harga emas batangan akan terus naik seiring kembalinya nilai tradisionalnya sebagai lindung nilai portofolio. Munculnya kembai pembelian oleh bank sentral dan debasement trade atau perdagangan penurunan nilai, mengingatkan pada reli dahsyat yang membawa logam mulia ke rekor tertinggi mendekati US$ 5.600 pada Januari.
Beberapa manajer keuangan terbesar di dunia telah menambah kembali kepemilikan mereka dalam beberapa minggu terakhir.
Wong mengatakan tetap optimistis terhadap emas dalam jangka menengah, didukung oleh partisipasi investor yang lebih luas disamping permintaan bank sentral dan kekawatiran berkelanjutan terkait kredibilitas fiskal dan diversifikasi dollar.
"Namun, seteah rebound kuat bulan Agustus, kami pikir kenaikan selanjutnya mungkin membutuhkan katalis makro baru," imbuh Wong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News