MOMSMONEY.ID - Harga emas hari di pasar global turun untuk hari ketiga berturut-turut dan menyeretnya ke bawah US$ 4.000 per troi ons. Logam mulia melemah karena kekhawatiran terhadap prospek kenaikan suku bunga AS semakin menguat.
Mengutip Bloomberg, Rabu (1/7), harga emas spot turun 0,86% menjadi US$ 3.973,65 per troi ons pada pukul 12.23 WIB. Harga emas hari ini jatuh di bawah level psikologis US$ 4.000, setelah terpangkas 2% dalam dua sesi sebelumnya.
Para pedagang mencermati sinyal bahwa Federal Reserve mungkin akan memperketat kebijakan. Pada Selasa, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack mengatakan bahwa ia tidak melihat banyak bukti suku bunga menghambat perekonomian, dan bank sentral AS mungkin perlu menaikkannya untuk menjaga inflasi tetap pada target 2%.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Berayun Liar di dekat US$ 4.000, Ini Penyebabnya!
Sementara, di Timur Tengah, para negosiator AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, telah berdiskusi positif. Menurut pejabat senior pemerintahan, yang dikutip Bloomberg pada Rabu, pertemuan dengan para pemimpin regional di Qatar dan pembicaraan teknis dengan Iran terus berjalan.
Harga emas anjlok 14% pada kuartal kedua, kinerja terburuk sejak 2013. Setelah cetak rekor pada januari, logam mulia terpukul oleh spekulasi bahwa The Fed mungkin akan mengambil tindakan kenaikan suku bunga tahun ini demi mengendalikan inflasi yang tinggi. Suku bunga yang lebih tinggi menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Menjelang rilis data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan ini, angka-angka menunjukkan ketahanan ekonomi. Lowongan pekerjaan sedikit berubah pada Mei menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja tetap stabil seiring dengan peningkatan pertumbuhan gaji baru-baru ini. Hal itu memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga sambil menilai arah inflasi.
Baca Juga: Stabil Rp 2.630.000, Cek Daftar Harga Emas Antam Hari Ini Rabu (1/7)
Dari segi teknikal, emas juga menghadapi tanda-tanda pelemahan setelah rata-rata pergerakan 200 hari logam mulia baru-baru ini turun di bawah rata-rata pergerakan 50 hari. Pola ini yang dikenal dengan "death cross", dipandang sebagian investor sebagai tanda bahwa tren penurunan jangka panjang sedang terbentuk.
Menurut Li Xing Gan, konsultan strategi di Exness, death cross memperkuat prospek bearish dan tekanan jual yang berkelanjutan. "Namun, ini adalah indikator yang ketinggalan dan mungkin tidak menangkap pemulihan jangka pendek jika sentimen membaik," kata Gan mengutip Bloomberg, hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News