MOMSMONEY.ID - Hati-hati, harga Bitcoin anjlok dalam 24 jam terakhir. Mengutip coinmarketcap.com, raja aset kripto anjlok lebih dari 11% dalam satu hari ke level US$ 60.000 pada Kamis pagi (6/2).
Meskipun mencoba bangkit ke sekitar US$ 64.622 pada pukul 10.39 WIB, harga Bitcoin masih ambles 9,23% dalam hitungan 24 jam terakhir.
Dengan kejatuhan ini, Bitcoin telah kehilangan lebih dari 50% nilainya dari rekor tertinggi (all time high) US$ 126.000 yang tercapai pada Oktober 2025 lalu.
Menurut Fahmi Almuttaqin, Crypto Analyst Reku, pasar aset kripto mencatatkan salah satu penurunan harga paling tajam dalam sejarah modern. Penurunan Bitcoin lebih dari 11% dalam sehari menjadi penurunan harian terdalam sejak runtuhnya bursa FTX pada November 2022 silam.
Tekanan jual terjadi di tengah kondisi likuiditas pasar yang sangat tipis, di mana minim pesanan beli menyebabkan setiap tekanan jual memicu efek domino likuidasi besar-besaran. Sejumlah level dukungan alias support kunci Bitcoin seperti US$ 75.000 dan US$ 70.000 ditembus secara beruntun, mempercepat kejatuhan harga.
Baca Juga: Pasar Kripto Babak Belur, Hanya 4 Kripto Penghuni Kripto Top Gainers
Altcoins mengalami tekanan yang lebih dalam. XRP memimpin penurunan dengan tumbang 19%. Tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto. Aset lain juga ambles, dengan harga perak turun 14%, dan harga emas turun ke kisaran US$ 4.850.
Fahmi menilai pergerakan pasar saat ini telah memasuki fase kapitulasi. Situasi saat ini sudah bukan lagi sekadar koreksi sehat, melainkan fase kapitulasi total. "Turunnya Bitcoin hingga di bawah puncak harga tahun 2021 menunjukkan bahwa seluruh keuntungan dari reli Trump Trade telah terhapus sepenuhnya,” beber Fahmi mengutip siaran pers, Jumat (6/2).
Kapitulasi adalah fase terakhir dalam siklus pasar, yang ditunjukkan oleh pergerakan harga menurun atau downtrend. Dalam fase ini, banyak investor menyerah dan menjual asetnya secara bersamaan, menyebabkan harga jatuh drastis dalam periode singkat.
Fahmi menambahkan, sinyal yang paling mengkhawatirkan adalah ikut dijualnya aset-aset safe haven seperti emas dan perak. Ketika emas dan perak ikut dilepas secara agresif, ini mengindikasikan investor berada dalam mode panik likuiditas.
"Level US$ 60.000 menjadi area harga Bitcoin yang sangat krusial saat ini untuk memungkinkan terjadinya fase konsolidasi dan stabilisasi pasar,” imbuhnya.
Pelaku pasar diimbau untuk mencermati perkembangan volatilitas global serta manajemen risiko secara ketat, mengingat tekanan likuiditas dan sentimen masih berpotensi mendominasi pergerakan aset berisiko dalam waktu dekat.
Selanjutnya: Dukung Program 3 Juta Rumah, BRI Kucurkan KPR Subsidi Rp16,16 Triliun di 2025
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News