MOMSMONEY.ID - Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial inteligence (AI) untuk mencari informasi kesehatan kian marak. Namun, kemudahan ini juga menyimpan risiko, terutama ketika masyarakat mulai menjadikan AI sebagai rujukan utama hingga melakukan diagnosis mandiri (self-diagnose).
Chief Human Capital Halodoc, Thomas Suhardja, mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati menggunakan AI dalam konsultasi kesehatan. Ia menegaskan, penggunaan AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran dokter.
Menurutnya, AI memang bisa membantu menjawab pertanyaan awal, namun tetap memiliki keterbatasan. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah potensi halusinasi AI, yakni kondisi ketika sistem memberikan jawaban yang tidak sepenuhnya akurat atau bahkan keliru.
Baca Juga: Kripto Big Cap Loyo, SIREN Justru Melambung ke Top Gainers
“AI itu kita harus hati-hati. Kalau dia sudah halusinasi, dia bisa menjawab sekenanya, dan itu yang berbahaya, apalagi untuk kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele,” ujarnya dalam acara peluncuran laporan Indonesia Health Insights Q2 di Jakarta, Senin (27/4).
Thomas juga membagikan pengalaman pribadinya. Ia menceritakan salah satu anggota keluarganya sempat panik setelah mendapat informasi dari AI bahwa kondisi ginjalnya sudah tidak berfungsi dan perlu tindakan serius seperti cuci darah. Namun setelah diperiksa langsung oleh dokter, kondisi tersebut ternyata normal untuk usia lanjut.
“Setelah konsultasi ke dokter, ternyata tidak apa-apa. Ini menunjukkan bahwa AI tidak selalu bisa dijadikan acuan utama,” jelasnya.
Baca Juga: 10 Kebiasaan yang Bikin Hidup Stagnan, Pelajaran Logis dari Charlie Munger
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak mendiskreditkan teknologi AI. Justru, AI tetap memiliki peran sebagai alat bantu, selama digunakan secara bijak dan tidak untuk diagnosis mandiri.
Halodoc juga mengembangkan fitur AI bernama Hilda di dalam aplikasinya. Berbeda dengan AI umum, Hilda diklaim dibangun berdasarkan jutaan data kesehatan sehingga dapat memberikan informasi yang lebih terarah.
“Hilda bisa membantu menjawab pertanyaan umum, misalnya apakah boleh minum obat dengan teh. Tapi kalau sudah bingung atau mengarah ke kondisi medis tertentu, tetap diarahkan untuk konsultasi dengan dokter,” tutupnya.
Intinya, AI bisa menjadi pintu awal mencari informasi kesehatan, namun bukan untuk self-diagnose. Konsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi langkah utama untuk memastikan kondisi kesehatan secara akurat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News