MOMSMONEY.ID - Berlaku baik itu memang harus dilakukan oleh semua orang. Tetapi, taukah Anda, ada fenomena Good Girl Syndrome?
Fenomena ini mengungkap bahwa pendorong orang menjadi baik berasal dari perasaan takut ditolak, bukan karena pilihan sadar.
Apakah Anda termasuk orang yang tidak enak jika menolak permintaan orang lain?
Terutama, bagi perempuan, mereka sering dituntut untuk selalu lembut, berbaik hati, dan menolong orang lain. Hal ini bukanlah sesuatu yang salah, namun akan menjadi perhatian bila “sikap baik” yang ditampilkan justru membuat perempuan kehilangan dirinya sendiri.
Sering kali perempuan menjadi terpaksa untuk menuruti keinginan orang lain karena ada batasan norma dan standar sosial yang harus dipenuhi. Fenomena ini disebut juga dengan “the good girl syndrome.”
Coba cek diri Anda sendiri, apakah mengalami syndrome ini? Berikut tanda-tandanya.
- Sulit mengatakan “tidak” atau menolak permintaan orang lain.
- Takut membuat orang lain kecewa.
- Merasa dituntut untuk selalu berprestasi.
- Terpaksa melakukan sesuatu untuk membahagiakan orang lain.
Baca Juga: Ada 6 Website Tes Psikologi Gratis dari Kepribadian sampai Karier, Wajib Coba
Psikolog Jiwika Mira Joice Hutajulu menulis dalam laman Kayros Psikologi mengenai akar dari munculnya fenomena the good girl syndrome. Jadi, memang yang terjadi perempuan dituntut untuk menjadi “good girl” yang selalu membantu tanpa pamrih, dan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kebutuhan sendiri. Stereotip ini bukan hanya peninggalan budaya tetapi juga pengaruh yang terus berlanjut hingga saat ini.
Bahkan, The good girl syndrome berakar kuat pada bias gender yang telah ada sejak berabad-abad lalu. Dongeng dan cerita rakyat selalu menggambarkan perempuan harus mengikuti aturan tertentu untuk memenuhi ekspektasi sosial. Hal ini membatasi pertumbuhan pribadi perempuan dan menanamkan pola perilaku yang memprioritaskan kebahagiaan dan penerimaan orang lain daripada diri sendiri.
Sebagai perempuan, kita sering dituntut untuk selalu lembut, berbaik hati, dan menolong orang lain. Hal ini bukanlah sesuatu yang salah, namun akan menjadi perhatian bila “sikap baik” yang ditampilkan justru membuat perempuan kehilangan dirinya sendiri. Sering kali perempuan menjadi terpaksa untuk menuruti keinginan orang lain karena ada batasan norma dan standar sosial yang harus dipenuhi. Fenomena ini disebut juga dengan “the good girl syndrome.”
Secara historis, norma dalam masyarakat menggu nakan peran gender yang menentukan perilaku perempuan. Perempuan dituntut untuk menjadi “good girl” yang selalu membantu tanpa pamrih, dan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kebutuhan sendiri. Stereotip ini bukan hanya peninggalan budaya tetapi juga pengaruh yang terus berlanjut hingga saat ini.
Kemudian, fenomena the good girl syndrome terjadi dari dinamika keluarga, sistem pendidikan, dan pengaruh media yang mengidentikkan perempuan baiknya sanggup berkorban dan merawat orang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News