MOMSMONEY.ID - Rambut rontok? Pahami cara memilih cat rambut yang aman dan sesuai tren berikut. Cara terbaik untuk menghindari kerusakan setelah mewarnai rambut adalah dengan menjaganya agar tetap ternutrisi dengan baik.
Sruthi M, dokter umum, menjelaskan, memotong rambut secara teratur adalah teknik yang sangat baik untuk membuatnya tampak sehat. Memangkas rambut secara teratur juga membantu menghilangkan ujung rambut yang bercabang.
Selain itu, jangan lupa untuk membeli produk pelindung warna rambut. Laman Medicinet.com mengungkapkan, produk-produk tersebut membantu pembentukan lapisan pelindung di sekitar batang rambut.
Untuk warna yang lebih dingin, carilah sampo bebas sulfat karena tidak menghilangkan minyak alami rambut. Setelah mewarnai rambut, tunggu setidaknya dua hingga tiga hari sebelum mencucinya lagi.
Sebelum mencuci rambut lagi, oleskan minyak pada rambut. Setelah itu, kurangi frekuensi mencuci rambut agar warna rambut bertahan lebih lama.
Selalu cuci rambut dengan air dingin untuk menghindari hilangnya kelembapan dan rambut kusut. Mencuci rambut dengan air hangat membuat rambut lebih rentan rusak dan rontok.
Baca Juga: Tak hanya Lipstik Wardah, Lipstik Glossy Ini Percantik Bibir Setiap Hari
Mengapa cat rambut menyebabkan rambut rontok?
Cat rambut tidak mencegah atau memperlambat pertumbuhan rambut, tetapi dapat menyebabkan kerontokan. Beberapa kerusakan mungkin disebabkan oleh bahan kimia dalam pewarna rambut.
Mewarnai rambut membutuhkan penyisiran dan penggosokan kuat yang mnyebabkan kerontokan. Semakin sering mewarnai rambut, maka akan semakin banyak rambut yang rontok.
Amonia dan hidrogen peroksida merupakan zat pemutih yang jadi komponen umum dalam cat rambut. Kedua senyawa ini dapat membuat rambut menjadi lebih rileks selama periode telogen.
Pewarna rambut dapat merusak batang rambut hingga menyebabkan rambut patah. Peroksida menghasilkan warna pirang karena menghilangkan pigmen dari warna rambut alami Moms.
Namun, peroksida mengurangi protein dari rambut dan melemahkan batang rambut. Hal ini dapat menyebabkan rambut rontok dari kulit kepala.
Dengan demikian, kerontokan rambut setelah pewarnaan permanen disebabkan oleh rambut patah, bukan kerontokan rambut.
Pemrosesan kimia berulang dapat menyebabkan kerusakan kumulatif pada kutikula dan korteks. Sehingga, rambut menjadi lebih berpori, rapuh, dan mudah patah.
Faktor risiko lain yang memperparah rambut rontok
Berikut ini beberapa faktor lain yang memperparah rambut rontok:
1. Frekuensi pewarnaan
Penggunaan yang lebih sering meningkatkan paparan bahan kimia kumulatif dan kemungkinan terjadinya sensitivitas atau kerusakan struktural rambut.
2. Penggunaan pencerah rambut
Produk-produk ini menggunakan konsentrasi hidrogen peroksida yang lebih tinggi dan menyebabkan kerusakan kutikula yang lebih parah daripada pewarna standar.
3. Penggunaan alat penata rambut dengan panas yang bersamaan
Mengaplikasikan panas pada rambut yang telah diproses secara kimia akan memperparah pelemahan struktur rambut.
4. Kekurangan nutrisi
Kekurangan nutrisi seperti zat besi, feritin, atau vitamin D dapat mengganggu kesehatan folikel rambut. Jika kekurangan nutrisi dicurigai, penanganannya harus dipandu oleh dokter.
5. Perubahan hormon
Periode perubahan hormon seperti periode pasca-persalinan atau menopause dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut. Pewarna rambut umumnya dianggap aman digunakan selama kehamilan, meski beberapa individu mengalami perubahan sensitivitas kulit kepala.
Baca Juga: Pilihan Lipstik Wardah Terbaik: Tentukan Warna Sempurna Sesuai Outfitmu
Tips untuk mencegah rambut rontok setelah pewarnaan
Jangan pernah menggunakan pewarna rambut pada alis atau bulu mata, hal ini dapat menyebabkan cedera mata serius atau kebutaan. Selain itu, hindari produk henna hitam untuk tato sementara karena produk ini sering menyebabkan sensitivitas yang kuat.
Selanjutnya, gunakan sarung tangan saat mengaplikasikan pewarna rambut dan ikuti petunjuk produsen dengan cermat. Hindari kontak dengan kulit kepala sebisa mungkin, terutama jika Moms memiliki kulit kepala yang sensitif atau bermasalah.
Pertimbangkan alternatif dengan risiko lebih rendah seperti:
1. Pewarna bebas paraphenylenediamine (PPD)
Beberapa formulasi menggunakan pewarna alternatif seperti para-toluenediamine sulphate (PTDS). Namun reaksi silang dengan PPD masih dapat terjadi, individu dengan alergi PPD yang diketahui harus berkonsultasi dengan spesialis sebelum menggunakan produk ini.
2. Pewarna semi-permanen atau sementara
Sebagian besar pewarna ini tidak memerlukan hidrogen peroksida dan menyebabkan gangguan struktural yang lebih sedikit pada batang rambut. Meski, formulasinya bervariasi dan menawarkan daya tahan warna yang lebih pendek.
3. Henna alami (lawsonia)
Umumnya dianggap berisiko lebih rendah, tetapi produk henna campuran atau henna hitam sering mengandung konsentrasi PPD yang tinggi dan harus dihindari.
4. Jangan terlalu sering mewarnai rambut
Memperpanjang interval antar sesi pewarnaan akan memberi waktu bagi kulit kepala dan rambut untuk pulih. Menggunakan perawatan kondisioner juga mampu membantu mengembalikan kelembaban dan integritas struktural pada rambut yang telah diproses secara kimia.
Sebisa mungkin hindari mengaplikasikan pewarna secara tumpang tindih pada rambut yang sudah pernah diwarnai sebelumnya. Jaga kesehatan kulit kepala melalui pola makan seimbang, hidrasi yang cukup, dan gunakan produk perawatan rambut.
Demikian tips memilih cat rambut yang tepat agar rambut tidak makin tipis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News