MOMSMONEY.ID - Warna dalam budaya Bali bukan sekadar elemen estetika, melainkan bagian dari sistem makna yang merekam sejarah, nilai, hingga cara pandang masyarakat.
Perspektif inilah yang diangkat dalam buku Warna Bali: Ketika Sistem & Pertemuan Menjadi Identitas yang diluncurkan Harian Kompas bersama Yayasan Satya Djaya Raya (YSDR), Kamis (16/4), di Bentara Budaya Jakarta.
Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Adi Prinantyo mengatakan, buku ini mengajak pembaca untuk melihat warna sebagai pintu masuk memahami kebudayaan secara lebih utuh.
“Buku ini mengajak kita untuk melihat warna tidak hanya sebagai sesuatu yang tampak, tetapi sebagai pintu masuk untuk memahami sistem nilai, sejarah, dan cara pandang yang membentuk kebudayaan,” ujarnya saat peluncuran buku Warna Bali.
Baca Juga: Jadikan Rutinitas, Ini Manfaat Rutin Baca Buku Sebelum Tidur Malam
Buku ini ditulis oleh lima penulis, yakni Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, praktisi seni dan bahasa; Dewa Gede Purwita, seniman dan penulis; I Gede Gita Purnama Arsa Putra, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
Kemudian, I Made Susanta Dwitanaya, kurator dan peneliti seni rupa; serta I Wayan Sariyoga Parta, pengajar dan peneliti seni rupa dan kebudayaan.
Melalui buku ini, warna diposisikan sebagai bagian dari sistem budaya yang terbentuk melalui proses panjang interaksi dan akulturasi berbagai peradaban.
Pengaruh budaya India, Tionghoa, hingga dunia luar disebut turut membentuk lapisan makna yang tercermin dalam simbol warna, praktik seni, dan tradisi di Bali.
Baca Juga: 6 Buku Self Help Korea Paling Best Seller, Termasuk Buku Baek Se Hee
Dalam kehidupan masyarakat Bali, warna hadir sebagai bagian dari sistem yang menjaga keseimbangan dan harmoni. Warna menjadi bahasa simbolik yang digunakan dalam berbagai ekspresi budaya, mulai dari ritual keagamaan, tekstil, hingga seni pertunjukan.
Pendekatan ini menghadirkan cara pandang yang lebih komprehensif dalam memahami Bali, tidak hanya sebagai ruang visual yang indah, tetapi sebagai ruang budaya yang sarat makna.
Melalui peluncuran buku ini, publik diajak untuk melihat warna sebagai bagian dari sistem pengetahuan yang merekam perjalanan sejarah, pertemuan budaya, serta pembentukan identitas Bali.
Di tengah arus globalisasi, pemahaman mendalam terhadap makna simbolik budaya menjadi penting agar kekayaan budaya tidak tereduksi menjadi sekadar tampilan visual semata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News