M O M S M O N E Y I D
InvesYuk

Bitcoins cs Ambles Gara-Gara Inflasi AS Memanas, Kuartal 3 Paling Krusial

Bitcoins cs Ambles Gara-Gara Inflasi AS Memanas, Kuartal 3 Paling Krusial
Reporter: Dupla Kartini  |  Editor: Dupla Kartini


MOMSMONEY.ID -  Pasar aset kripto merespons negatif data inflasi Amerika Serikat (AS). Harapan pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter di AS kembali memudar, setelah inflasi tahunan Negeri Paman Sam naik lebih tinggi dari perkiraan. 

Biro Analisis Ekonomi AS alias Bureau of Economic Analysis (BEA) melaporkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Mei 2026 naik menjadi 4,1% secara tahunan, level tertinggi sejak April 2023. Angka tersebut semakin menjauh dari target inflasi The Fed yang berada di kisaran 2%.

Sementara, Core PCE, yang menjadi indikator inflasi favorit bank sentral AS, karena mengecualikan komponen pangan dan energi, juga meningkat dari 3,3% menjadi 3,4%.

Kenaikan inflasi terutama dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Iran yang mulai merambat ke berbagai sektor ekonomi lainnya, sehingga memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga belum akan mereda dalam waktu dekat.

Data tersebut membuka peluang Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga tahun ini, sehingga memicu aksi jual di berbagai aset berisiko, termasuk aset kripto.

Mengutip coinmarketcap.com, dalam 24 jam terakhir hingga Jumat (26/6) pukul 14.46 WIB, harga Bitcoin tersungkur 2,2% menjadi US$ 60.442. Sementara, Ethereum anjlok 4,5% hingga menyentuh US$ 1.579, level terendahnya dalam satu tahun.

Baca Juga: Harga Buyback Emas Hari Ini 26 Juni 2026 Kompak Naik, UBS Pimpin Kenaikan

Menurut Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin, yang paling memengaruhi pasar bukan hanya kenaikan inflasi, melainkan perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Pasar selama ini masih menggantungkan harapan pada kemungkinan pemangkasan suku bunga. Sekarang skenario itu tidak hanya ditunda, tetapi mulai digantikan dengan potensi kenaikan suku bunga.

"Perubahan ekspektasi seperti ini biasanya menggerakkan pasar jauh lebih tajam dibanding perubahan kebijakan itu sendiri," ujar Fahmi dalam siaran pers, Jumat (26/6).

Pada rapat FOMC 16-17 Juni 2026, The Fed yang kini dipimpin Ketua baru Kevin Warsh memang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%. Namun, bank sentral AS merevisi proyeksi inflasi PCE tahun ini dari 2,7% menjadi 3,6%, menghapus seluruh panduan sebelumnya mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga, dan mulai membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap tinggi.

Saat ini, 9 dari 18 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) memperkirakan setidaknya akan terjadi satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026. Median proyeksi suku bunga akhir tahun juga naik menjadi 3,8%.

Bahkan, sejumlah lembaga keuangan global mulai memperkirakan pengetatan yang lebih agresif. Bank of America memperkirakan The Fed berpotensi menaikkan suku bunga hingga tiga kali sepanjang 2026. Sementara, Deutsche Bank memproyeksikan dua kali kenaikan, masing-masing pada September dan Desember.

Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, tekanan terhadap aset berisiko diperkirakan akan semakin besar.

Kuartal III jadi penentu arah pasar

Menurut Fahmi, kuartal ketiga tahun ini menjadi periode paling krusial karena berbagai faktor ekonomi akan bertemu dalam waktu yang hampir bersamaan. Mulai dari perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, hingga keputusan suku bunga The Fed akan menjadi penentu arah pasar global.

"Pasar sudah mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, tetapi ketidakpastian inflasi masih terlalu tinggi untuk memberikan kepastian. Investor perlu siap menghadapi skenario di mana kenaikan suku bunga bisa terjadi lebih dari sekali," jelasnya.

Baca Juga: Harga Emas Terjun Empat Pekan Beruntun, Kini Dihargai Kisaran US$ 4.000

Data ekonomi terdekat yang menjadi perhatian adalah laporan Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada 2 Juli 2026. Apabila pasar tenaga kerja AS masih menunjukkan kekuatan, ekspektasi kenaikan suku bunga pada September diperkirakan akan semakin menguat dan berpotensi memicu tekanan lanjutan di pasar saham maupun kripto.

Bagi Investor Indonesia, perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS juga berpotensi memberikan dampak langsung terhadap pasar domestik.

Menguatnya dollar AS akibat sikap hawkish The Fed dapat memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah, sekaligus meningkatkan volatilitas aset-aset berisiko di Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini, Fahmi menilai investor sebaiknya lebih mengutamakan pengelolaan risiko dibanding mengejar imbal hasil jangka pendek.

Strategi seperti position sizing yang lebih konservatif, diversifikasi lintas kelas aset, serta seleksi investasi berdasarkan fundamental, dinilai menjadi pendekatan yang lebih relevan di tengah ketidakpastian global.

"Kuartal ini bukan saat yang tepat untuk menambah eksposur secara agresif. Namun, bagi investor yang sudah memiliki posisi, disiplin dan diversifikasi menjadi dua hal yang paling efektif untuk melindungi portofolio dalam kondisi pasar saat ini," pungkas Fahmi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Ramalan Shio Besok Selasa 1 September 2026, Peluang dan Tantangan Menanti

Simak ramalan shio lengkap besok Selasa 1 September 2026, cek shio paling beruntung, karier, keuangan, cinta, dan kesehatan hari ini.

4 Manfaat Manjakani untuk Kesehatan Wanita, Rahasia Miss V Kencang

Berikut adalah 4 manfaat manjakani untuk kesehatan wanita beserta penjelasan lengkapnya. Simak sampai akhir, Moms.

Ada Totebag hingga Pouch, Ini Merchandise Ramah Lingkungan TOSERBAKU

​Bagi yang suka merchandise sekaligus ingin lebih mindful soal penggunaan barang, TOSERBAKU punya produk yang memanfaatkan material sisa.

Pembiayaan Digital Makin Mudah, Indodana Fintech Ingatkan Hal Ini

​Indodana Fintech menyebut telah menyalurkan pembiayaan kepada lebih dari 2,1 juta pengguna di Indonesia.

Penutupan Pendakian di Gunung Gede Pangrango Diperpanjang, Sampai Kapan?

Penutupan kegiatan pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diperpanjang hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan.

Bitcoin Hati-Hati di Tengah Ancaman Eskalasi, Ini Penentu Arah Selanjutnya

Ketegangan di Selat Hormuz dan data pekerjaan AS menjadi dua katalis yang akan menentukan arah Bitcoin selanjutnya.

Waspada Udara Kabur di Sejumlah Daerah Jawa Timur, Cek Prakiraan Cuaca Besok (1/9)

BMKG memprakirakan cuaca Jawa Timur pada Selasa (1/9) didominasi cerah, sementara Rabu (2/9) cerah dan udara kabur.

Prakiraan Cuaca Jawa Tengah Besok (1/9) dan Lusa, Dominan Cerah Tanpa Hujan

BMKG memprakirakan cuaca Jawa Tengah pada 1-2 September didominasi cerah dan berawan, dengan suhu maksimum 35°C.

Provinsi Ini Masih Diguyur Hujan Lebat, Simak Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (1/9)

BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca besok Selasa 1 September 2026 dengan status Waspada hujan lebat di provinsi berikut ini.

PRISM Bawa Brand Premium Palette ke Pasar Jabodetabek

Palette Citra Inn bergabung dalam ekosistem PRISM, dan menjadi properti Palette pertama PRISM di kawasan Jabodetabek.