MOMSMONEY.ID - Bitcoin merosot dari area US$ 70.000 ke dekat US$ 66.000. Penurunan tajam harga raja aset kripto itu menyeret kapitalisasi pasar kripto global susut lebih dari 5% dalam sehari.
Mengutip coinmarketcap.com, Bitcoin dihargai US$ 66.741 hingga Rabu (3/6) pukul 16.30 WIB. Bitcoin ambles 3,70% dalam 24 jam terakhir.
Fahmi Almuttaqin, Crypto Analyst Reku, mencatat, volume perdagangan melonjak tajam, menandakan likuidasi posisi leverage yang masif di tengah memburuknya sentimen risiko global.
Namun, di balik tekanan tersebut, sejumlah aset kripto justru bergerak berlawanan arah. Altcoin seperti HYPE naik 19%, INJ menguat 19%, XLM melonjak 53%, H melesat 151%, dan LAB membukukan kenaikan 228% dalam sepekan terakhir.
Fahmi menilai divergensi ini mencerminkan rotasi likuiditas, bukan kepanikan menyeluruh. "Selera risiko investor tidak benar-benar hilang. Yang terjadi adalah rotasi ke aset-aset dengan narasi dan fundamental yang lebih spesifik. Ini pola yang sering mendahului fase ekspansi berikutnya," katanya mengutip siaran pers, Rabu (3/6).
Baca Juga: Bitcoin cs Sensitif terhadap Data Inflasi AS, Ini Dua Skenario Nasib Kripto
Ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak dunia naik, yang kini mulai merambat ke sektor-sektor di luar energi dan pangan. Data inflasi CPI (Consumer Price Index) dan PCE (Personal Consumption Expenditures) AS terbaru, menunjukkan efek domino yang mulai meluas. Ini mempersulit posisi The Fed dan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan.
Suku bunga tinggi cenderung tidak menguntungkan bagi aset berisiko, termasuk saham dan kripto.
Meski demikian, kepercayaan investor di pasar saham AS sejauh ini masih terjaga. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 1,11% dan 1,49% dalam lima hari terakhir, mengindikasikan pasar belum sepenuhnya memasuki mode defensif.
Institusi justru semakin agresif
Di balik koreksi harga aset kripto, transformasi infrastruktur keuangan digital justru berakselerasi.
DTCC, lembaga kliring tulang punggung Wall Street, mengumumkan rencana membawa saham, ETF, dan obligasi pemerintah AS ke jaringan blockchain publik mulai 2027.
Baca Juga: Altcoin Utama Bertahan Naik saat Rupiah Keok, Begini Saran bagi Investor!
SoFi meluncurkan stablecoin sendiri, sementara Cash App mengintegrasikan pembayaran berbasis USDC kepada puluhan juta pengguna.
Di sisi regulasi, CLARITY Act resmi masuk kalender Senat AS, yaitu sinyal kejelasan hukum yang selama ini ditunggu industri.
"Koreksi harga dan akselerasi adopsi institusional berjalan bersamaan. Jika dua siklus sebelumnya menjadi acuan, koreksi seperti ini justru sering menjadi titik masuk yang paling menguntungkan bagi investor," ujar Fahmi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News