MOMSMONEY.ID - Biaya perbaikan rumah bisa menguras tabungan. Simak cara mencegah kerusakan, menyiapkan dana darurat, dan menjaga rumah tetap aman.
Punya rumah sendiri memang menyenangkan, tetapi biaya perawatannya kadang datang di waktu yang tidak tepat. Mulai dari atap bocor, pipa bermasalah, sampai instalasi listrik yang rusak, semuanya bisa membuat pengeluaran mendadak membengkak.
Masalahnya, kerusakan kecil yang dibiarkan terlalu lama justru berpotensi membutuhkan biaya lebih besar. Melansir dari Real Simple, survei terhadap pemilik rumah menunjukkan bahwa kesalahan perbaikan dan kerusakan tersembunyi bisa menjadi sumber pengeluaran yang tidak sedikit.
Karena itu, pemilik rumah perlu lebih jeli merawat bangunan dan menyiapkan anggaran sejak awal agar keuangan tetap terkendali.
Baca Juga: Tren Renovasi Rumah Ini Jadi Pilihan Ketika Pindah Hunian Makin Mahal
Biaya perbaikan rumah bisa menguras tabungan
Berdasarkan data yang diberitakan Real Simple, sebanyak 78% pemilik rumah dalam survei mengaku pernah mengalami masalah perbaikan, mulai dari proyek DIY yang gagal hingga kerusakan yang ditinggalkan pemilik sebelumnya.
Survei tersebut juga mencatat pengeluaran rata-rata sekitar US$3.166 atau Rp52 juta selama tiga tahun untuk memperbaiki proyek mandiri yang gagal, dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS. Angka ini merupakan hasil survei yang dilaporkan, bukan gambaran biaya perbaikan setiap rumah di Indonesia.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa memperbaiki rumah bukan sekadar soal renovasi besar. Kerusakan kecil yang terlambat ditangani juga bisa menghabiskan anggaran, apalagi jika membutuhkan bantuan tenaga profesional.
Kerusakan rumah yang jangan diabaikan
Ada beberapa masalah yang sebaiknya segera diperiksa sebelum dampaknya semakin luas.
- Atap bocor. Air hujan yang masuk bisa merusak plafon, dinding, hingga perabot rumah.
- Pipa bermasalah. Kebocoran kecil dapat memicu kelembapan dan pertumbuhan jamur jika dibiarkan.
- Instalasi listrik rusak. Kabel bermasalah, stopkontak menghitam, atau bau terbakar perlu segera ditangani karena berisiko membahayakan penghuni.
- Kerusakan tersembunyi. Rumah yang baru dibeli belum tentu bebas dari masalah, terutama jika perbaikan sebelumnya dilakukan secara asal-asalan.
Jangan menunggu sampai kerusakan terlihat parah. Semakin cepat masalah ditemukan, semakin besar peluang untuk mencegah biaya tambahan.
Cara mencegah biaya perbaikan membengkak
Merawat rumah tidak harus selalu mengeluarkan banyak uang. Beberapa kebiasaan sederhana berikut bisa membantu mengurangi risiko kerusakan yang menguras tabungan.
1. Periksa kondisi rumah secara rutin
Sisihkan waktu setiap bulan untuk mengecek atap, dinding, saluran air, dan instalasi rumah. Perhatikan noda lembap, retakan baru, atau perubahan yang tidak biasa. Jika menemukan tanda kerusakan, segera cari tahu penyebabnya.
2. Jangan memaksakan perbaikan sendiri
Video tutorial memang memudahkan belajar DIY, tetapi tidak semua pekerjaan aman dilakukan tanpa pengalaman. Untuk masalah listrik, struktur bangunan, atau pipa yang kompleks, gunakan tenaga profesional yang kompeten agar kerusakan tidak semakin parah.
Baca Juga: 6 Tren Renovasi Dapur yang disarankan Dipikirkan Ulang Sebelum Keluar Biaya
3. Siapkan dana khusus perawatan rumah
Pisahkan tabungan perawatan rumah dari uang kebutuhan sehari-hari. Jumlahnya bisa disesuaikan dengan kondisi bangunan dan kemampuan keuangan. Tidak harus langsung besar, yang penting disisihkan secara rutin agar tersedia dana ketika dibutuhkan.
4. Dahulukan kerusakan yang berisiko
Jika ada beberapa masalah sekaligus, prioritaskan yang berkaitan dengan keselamatan dan berpotensi memperluas kerusakan. Kebocoran aktif dan gangguan listrik, misalnya, perlu lebih diperhatikan daripada pekerjaan dekorasi yang masih bisa ditunda.
5. Jangan menunda perbaikan yang penting
Menunda perbaikan terkadang terasa seperti cara menghemat uang. Namun, jika kerusakan terus berkembang, biaya yang harus dikeluarkan justru bisa lebih besar.
Data dalam laporan yang dibahas Real Simple mencatat tambahan biaya rata-rata sekitar US$1.645 atau Rp27,1 juta akibat penundaan perbaikan, dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS. Nilai tersebut merupakan temuan survei, bukan patokan biaya yang berlaku untuk semua rumah.
Karena itu, penting untuk membedakan kebutuhan yang bisa ditunda dan kerusakan yang harus segera ditangani. Jika biaya perbaikan cukup besar, mintalah perkiraan biaya terlebih dahulu agar pengeluaran bisa direncanakan dengan lebih baik.
Biaya perbaikan rumah yang membengkak bisa dicegah dengan perawatan rutin, keputusan DIY yang realistis, dan persiapan dana khusus. Tidak semua kerusakan dapat dihindari, tetapi mengenali masalah sejak dini dapat membantu mengurangi risiko pengeluaran mendadak.
Mulailah dari hal sederhana, seperti memeriksa kondisi rumah setiap bulan dan segera menangani kerusakan yang berpotensi membahayakan. Melalui perencanaan yang tepat, rumah tetap nyaman dihuni tanpa membuat keuangan keluarga kewalahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News