M O M S M O N E Y I D
Pendidikan

Badan Karbon Segera Dibentuk, Integrasi Lintas Sektor Mutlak Dilakukan

Reporter: Andy Dwijayanto  |  Editor: Andy Dwijayanto


MOMSMONEY.ID -  Pakar Ekonomi Hijau dan Ekonom Senior, Masyita Crystallin mengapresiasi pembentukan Badan Pengelola Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Niaga Karbon (BP3I-TNK) oleh Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming. Badan ini akan memberikan konsepnya pertengahan bulan Oktober ini. Tepat beberapa hari sebelum Presiden dan Wakilnya dilantik.

Tenaga Ahli Utama dan Ketua Satuan Tugas Percepatan Perdagangan Karbon Kantor Staf Presiden RI, Ishak Saing, menyatakan bahwa Badan Karbon ini akan mengerahkan, mengelola dan mengawasi transisi menuju ekonomi hijau berkelanjutan. Indonesia masih perlu menyelesaikan beberapa regulasi terkait agar pasar karbon lebih luas dan efektif.

"Rencana membentuk Badan Karbon atau BP3I-TNK ini jelas menunjukan kesungguhannya dalam merespon tantangan global terkait perubahan iklim, sekaligus memberikan harapan dan menangkap peluang pembiayaan hijau bagi keberlanjutan lingkungan hidup di Indonesia," kata Masyita dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/10/2024).

Baca Juga: Komitmen Pertamina Wujudkan Target Net Zero Emission

Menurutnya, peluang Badan Pengelola Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Niaga Karbon (BP3I-TNK) untuk membuka potensi pasar karbon yang secara nilai ekonomi sangat besar sangat bergantung pada pembentukan organisasi dan identifikasi peluang yang tepat.

"Tantangan yang dihadapi hampir semua negara dalam regulasi dan implementasi kebijakan iklim menunjukkan bahwa pengelolaan yang efektif membutuhkan koordinasi lintas-sektor yang kuat, tidak terkecuali mengenai pasar karbon" kata Masyita.

Masyita menambahkan bahwa unit seperti “Special Envoy” atau badan tertentu yang berada langsung di bawah Presiden, dengan mandat kuat untuk melakukan koordinasi lintas sektor menjadi krusial untuk memastikan bahwa kebijakan-kebijakan terkait perubahan iklim dapat terkoordinasi dengan baik dan mengurangi frakmentasi kebijakan di berbagai sektor.

"Hampir semua negara mengalami tantangan dalam regulasi dan implementasi kebijakan iklim karena itu beberapa negara mulai membentuk Kementerian Perubahan Iklim yang dapat mengagregasi kebijakan yang membutuhkan koordinasi multisektor," ungkap Masyita.

Masyita beranggapan, bahwa dengan pembentukan organisasi yang tepat dan koordinasi yang kuat di bawah kepemimpinan yang terintegrasi, BP3I-TNK berpeluang besar untuk tidak hanya membuka potensi pasar karbon yang bernilai triliunan, tapi juga mengatasi tantangan regulasi dan implementasi yang sering menghambat efektivitas kebijakan iklim.

Baca Juga: Gandeng Perusahaan Jepang, Pertamina Lakukan Injeksi CO2 untuk Tekan Polusi Karbon

Potensi pasar karbon di Indonesia bisa mencapai atau bahkan melebihi Rp. 3.000 triliun. Sedangkan menurut Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA), potensi pasar karbon Indonesia bisa mencapai US$565,9 miliar (sekitar Rp8.488 triliun).

Selain itu, menurut Masyita, perlu dilakukan pemetaan peluang baik disisi supply maupun demand. Di sisi supply carbon bersumber dari “nature-based solution” dan transisi energi memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan. Sementara dari sisi demand, ada 3 jensi pasar utama yaitu pertama Compulsory atau Compliance market, kedua, pasar karbon berdasarkan UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) yang merupakan suatu badan di PBB yang mengurusi perubahan iklim artikel 6 (baik dari artikel 6.2 maupun artikel 6.4) dan ketiga, Voluntary Carbon Market (VCM).

"Jenis Compulsory Carbon atau Compliance Market, yaitu pasar yang terjadi karena regulasi. Biasanya regulasi dibuat secara sektoral yang memberi batasan emisi dengan memberikan allowance. Mekanisme yang digunakan biasanya adalah mekanisme cap and trade yang sudah banyak dikenal. Jika suatu perusahaan mengeluarkan emisi lebih dari batasan emisi maka perusahaan tersebut perlu mengkompensasi dengan membeli carbon credit dari perusahaan yang memiliki surplus allowance," tutur Masyita.

Contohnya yang paling terkenal dari compliance market adalah European Union Emissions Trading System (EU ETS) dan California Air Resources Board (CARB).

"Kedua, pasar karbon yang tercipta dari artikel 6 Paris Perjanjian Paris. Diantaranya dari artikel 6.2 dan 6.4. Perdagangan melalui perjanjian UNFCCC ini dapat digunakan untuk pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) suatu negara. Artikel 6.2 merupakan perjanjian Government to Government sementara artikel 6.4 menggunakan mekanisme intermediary yang hingga COP 28 rulebooknya belum diputuskan dan akan menjadi salah satu bahasan utama COP mendatang”, tambahnya.

"Ketiga, Voluntary Carbon Market (VCM), ini adalah jual beli yang dilakukan secara sukarela diantara pihak-pihak terkait untuk memenuhi target Net Zero atau transition plan sendiri. VCM lebih mudah diakses oleh perusahaan dan individu dibanding artikel 6 dimana perlu dibuat mekanisme oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)." pungkas Pakar Ekonomi Hijau itu.

Baca Juga: Pionir Skema Sewa Panel Surya Tanpa Biaya Awal, Xurya Telah Bangun Lebih 100 MW PLTS

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TERBARU

Simak 4 Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa Sekuritas Hari Ini (2/6)

BRI Danareksa Sekuritas membagikan sejumlah ide trading dan rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini Selasa (2/6/2026). Berikut ulasannya.

Saldo ATM Berkurang Tanpa Kamu Tahu? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Saldo ATM tiba tiba berkurang? Ketahui penyebab, cara mengecek transaksi, dan langkah cepat mengamankan rekening.

Nomor Tak Dikenal Suka Menelepon? Waspadai Spam Caller yang Ancam Keuangan Anda

Nomor asing terus menelepon? Kenali ciri spam caller dan cara melindungi data pribadi serta keamanan keuangan Anda.

World Milk Day, Begini Cara Susu Dukung Generasi Sehat dan Bersemangat

Banyak yang belum tahu, teknologi UHT justru menjaga kualitas susu optimal. Temukan rahasia di balik susu aman dan bergizi tinggi.

BNI Sekuritas Bagikan 6 Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Hari Ini (2/6)

IHSG berpotensi teknikal rebound, berikut enam ​ide trading dari BNI Sekuritas untuk perdagangan Selasa (2/6/2026) 

Email Minta Ganti Rekening saat Transaksi Internasional? Kenali Modus Penipuan Ini

Yuk, waspadai email palsu saat transaksi internasional berikut ini, kenali cirinya agar dana bisnis dan pembayaran tetap aman.

IHSG Dibuka Melesat 1,35%, Saham BREN dan CUAN jadi Top Gainer (2/6)

Menunjukkan sinyal rebound, pukul 09.00 WIB, IHSG pada Selasa (2/6) naik 85,31 poin atau 1,39% ke level 6.212,69.

Promo HokBen Hematnya Kebangetan: Menu Rp 10 Ribuan Tiap Senin-Jumat, Catat Jamnya

Butuh ide makan siang hemat? HokBen tawarkan menu Rp 10.000-an setiap Senin-Jumat. Temukan menu favorit Anda dan cara mendapatkannya di sini.

Cek Harga BBM Pertamina Terbaru Per 1 Juni 2026: Dexlite Turun, Pertamax Turbo Naik

Dexlite dan Pertamina Dex turun, tapi Pertamax Turbo naik. Ketahui perubahan harga BBM Pertamina terbaru per 1 Juni 2026 berikut ini.

Update One UI 8.5: Galaxy S25 Dapat Fitur AI S26, Pengguna Bakal Makin Produktif

Notifikasi lebih teratur di Galaxy S25! Pembaruan One UI 8.5 membawa AI cerdas S26. Pelajari bagaimana fitur ini mengubah pengalaman Anda.