MOMSMONEY.ID - Yuk kenali pola belanja dari siklus menstruasi dan gunakan sebagai cara sederhana untuk mengatur uang agar lebih terarah.
Mengatur keuangan ternyata tidak hanya soal mencatat pemasukan dan pengeluaran. Bagi sebagian perempuan, perubahan energi dan suasana hati selama siklus menstruasi juga bisa menjadi bahan untuk mengenali kebiasaan ketika menggunakan uang.
Melansir dari Intimina, setiap fase menstruasi dapat memberikan gambaran berbeda tentang energi, emosi, dan kecenderungan seseorang dalam mengelola pengeluaran.
Namun, pola tersebut tidak berlaku sama untuk semua orang karena kondisi tubuh dan kebiasaan finansial setiap perempuan berbeda.
Karena itu, siklus menstruasi lebih tepat dijadikan bahan evaluasi diri daripada alasan untuk menentukan keputusan keuangan secara mutlak.
Baca Juga: Tips Membantu Keluarga Tanpa Mengganggu Keuangan Pribadi
Cara atur keuangan berdasarkan siklus menstruasi
Kenali pola keuangan dari empat fase
Siklus menstruasi umumnya terdiri dari fase menstruasi, folikular, ovulasi, dan luteal. Empat fase ini dapat digunakan sebagai pengingat untuk menyesuaikan aktivitas finansial dengan kondisi diri.
Saat menstruasi, fokuskan kegiatan pada pemeriksaan ringan seperti mengecek saldo, tagihan, dan tabungan. Jika tubuh terasa kurang nyaman, keputusan keuangan besar bisa dipertimbangkan kembali.
Fase folikular dapat dimanfaatkan untuk menyusun anggaran, menentukan target tabungan, merencanakan pembayaran utang, atau membuat target pemasukan. Sementara itu, fase ovulasi bisa digunakan untuk aktivitas yang membutuhkan komunikasi, misalnya membahas anggaran keluarga atau melakukan negosiasi pekerjaan.
Memasuki fase luteal, lakukan pemeriksaan terhadap pengeluaran. Cek transaksi kecil, biaya berlangganan, serta pembelian yang muncul karena keinginan sesaat.
Coba buat peta keuangan pribadi
Tidak perlu menggunakan metode yang rumit. Kalender, catatan ponsel, atau spreadsheet sederhana sudah bisa digunakan untuk mencatat pola.
- Tandai hari pertama menstruasi.
- Catat perubahan energi dan suasana hati.
- Perhatikan kapan pengeluaran impulsif biasanya muncul.
- Tentukan tugas keuangan sesuai kondisi setiap fase.
- Evaluasi catatan setelah beberapa siklus.
Contohnya, awal siklus digunakan untuk mengecek kondisi keuangan, fase berikutnya untuk membuat anggaran, pertengahan siklus untuk membahas keputusan penting, lalu fase menjelang menstruasi untuk mengaudit pengeluaran.
Gunakan sebagai panduan, bukan aturan
Melansir dari Gina Knox, pengelolaan uang berbasis siklus dapat digunakan untuk membagi aktivitas finansial berdasarkan kondisi energi dan pola pribadi. Namun, konsep tersebut tetap bukan aturan yang wajib diikuti.
Baca Juga: Begini Cara Melindungi Aset Keluarga Saat Usaha Terancam Bangkrut
Tidak semua perempuan mengalami perubahan emosi, energi, maupun pola belanja dengan cara yang sama. Bahkan, bukti ilmiah mengenai hubungan langsung antara fase menstruasi dan pengambilan keputusan finansial masih belum cukup konsisten.
Karena itu, aturan keuangan dasar tetap lebih penting. Kebutuhan pokok, kewajiban, dana darurat, tabungan, dan tujuan finansial perlu menjadi prioritas sebelum mengikuti pola apa pun.
Mengatur keuangan berdasarkan siklus menstruasi dapat menjadi cara sederhana bagi Moms untuk lebih mengenali kebiasaan diri sendiri. Tujuannya bukan menyalahkan hormon ketika pengeluaran meningkat, melainkan mengetahui kapan perlu lebih berhati hati dalam menggunakan uang.
Mencatat kebiasaan selama beberapa bulan, Moms bisa menemukan pola pengelolaan keuangan yang lebih sesuai dengan kondisi tubuh, pemasukan, kebutuhan, dan tujuan finansial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News